Unduh Aplikasi

Lebih Bengis dari Sumanto 

Lebih Bengis dari Sumanto 
Ilustrasi: phys.

DRAMA pengambilalihan Partai Demokrat masih jauh dari kata selesai. Satu per satu terkuak cara dan upaya orang-orang yang mencoba mendongkel kepengurusan partai yang sah dari tangan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono dan Sekretaris Jenderal Teuku Riefky Harsya. 

Di Langsa, misalnya, Ketua DPC Partai Demokrat Kota Langsa, Syahyuzar Aka, ditawarkan dalam jumlah besar untuk hadir ke Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, tempat kongres luar biasa Partai Demokrat digelar. 

Jumlah Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar tentu sangat besar. Apalagi yang bersangkutan cukup datang ke lokasi, duduk di ruang kongres, bertepuk tangan saat Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan, didaulat menjadi ketua umum abal-abal, seperti yang diskenariokan sejak awal. 

Namun tawaran ini ditolak oleh Syahyuzar. Dan banyak lagi politikus yang menolak tawaran uang tersebut. Karena uang bukan segalanya. Semua hal, sekarang ini butuh uang, tapi tidak semua hal dapat dibeli dengan uang. 

Pembajakan Partai Demokrat itu adalah cerita buruk yang coba diulang. Seperti yang dialami Megawati Soekarno Putri dan Partai Demokrasi Indonesia pada 1996, saat Presiden Suharto berkuasa. Entah berhasil atau tidak, yang jelas, upaya-upaya orang-orang di lingkaran kekuasaan untuk menggembosi Partai Demokrat sangat terang benderang. 

Pernyataan Syahyuzar itu juga membuktikan bahwa negara kita belum habis. Dan politikus di negara ini tidak semuanya bajingan. Tidak semua mereka mau menjual diri untuk sekadar mendapatkan uang dan posisi. 

Orang-orang seperti Syahyuzar menolak menjadi Sumanto, kanibal yang memakan mayat manusia, demi kepentingan sejengkal perut dan syahwat kekuasaan. Tak ada etika dan tak ada pertimbangan moral. 

Bahkan praktik pembajakan partai politik di Sibolangit itu lebih bengis dari Sumanto. Karena mereka yang datang ke acara itu melahap saudara separtai “hidup-hidup”. 

Komentar

Loading...