Unduh Aplikasi

Kapal Tongkang Batubara Terbalik, Rekanan Diminta Bertanggungjawab

Kapal Tongkang Batubara Terbalik, Rekanan Diminta Bertanggungjawab
Kapal tongkang batubara terbalik Nagan Raya. Foto: Dok GeRAK Aceh Barat

BANDA ACEH - Tongkang batubara terdampar diperairan Desa Lhok, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak pencamaran bagi laut.

Menanggapi terjadinya pencemaran lingkungan (laut) disebabkan tumpahnya batubara dati tongkang tersebut, GeRAK Aceh Barat meminta kepada pihak terkait agar segera mengambil tindakan terhadap tongkang tersebut.

"Tongkang berisikan batubara tersebut disebut-sebut milik rekanan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)1-2, dan sudah terdampar selama tiga hari," kata Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edy Syahputra dalam rilisnya seperti dikirim ke AJNN, Kamis (30/7).

Edy menyebutkan, tongkang tersebut dibiarkan terdampar sejak Selasa 28 Juli 2020 di dekat bibir pantai, dengan jarak sekitar 20-30 meter dan dalam tongkang tersebut berisikan batubara yang sesekali ketika terpaan ombak isinya tumpah ke dalam laut. 

"Pihak rekanan harus bertanggungjawab untuk segera melakukan pembersihan material batubara yang tumpah ke dalam laut, dan harus segera megevakuasi tongkang itu ke tengah laut," ujarnya.

Edy mengkwatirkan bila isi dari tongkang tersebut berhamburan lebih banyak ke dalam laut, maka akan menimbulkan dampak besar yaitu pencemaran laut (lingkungan) dan menganggu kehidupan biota dalam laut. 

Selain itu juga bisa menimbulkan kerugian yang luar biasa terhadap ekosistem laut dan tentunya juga berdampak besar terhadap mata pencaharian para nelayana pesisir. 

Baca: Tongkang Material Batubara PLTU 1 dan 2 Terbalik di Pesisir Pantai, DLHK Selidiki Pencemaran Lingkungan

Informasi diperoleh, kata Edy, tongkang tersebut merupakan milik rekanan PT Adi Guna diduga bermuatan 300 ton batubara dan sedang melakukan bongkat muat batubara dari kapal besar dari luar Aceh. Disebut-sebut batubara tersebut akan dilansir menuju ke PLTU 1-2 di Suak Puntong Nagan Raya milik PLN melalui jalur laut.

Edy mendesak Pemerintah Aceh Barat melalui dinas lingkungan hidup untuk meminta data kongkrit tentang jumlah total muatan tongkang itu.

"Itu penting, guna mengetahui berapa isi muatan sebenarnya dan atas dasar itu juga kemudian diketahui berapa banyak batubara yang sudah tumpah ke laut," katanya.

Selain itu, tambah Edy, pihaknya meminta pihak yang bertanggungjawab agar melakukan upaya pembersihan dengan tujuan agar pantai tidak tercemari oleh isi batubara yang sudah tumpah ke laut. 

Mengingat banyak nelayan setempat yang melakukan aktifitas tangkap ikan diwilayah tersebut. Terlebih lagi nelayan pukat tradisional atau juga nelayan pukat tarik.

"Jangan nanti ketika nelayan menjaring ikan, yang didapat malah batubara," sebutnya.

"Catatan kami peristiwa tumpah batubara tersebut sudah berulangkali terjadi, namun kami belum melihat adanya tindakan tegas terhadap perusahaan tersebut," tambah Edy.

Komentar

Loading...