Unduh Aplikasi

Kunker, Yuk!

Kunker, Yuk!
Foto: www.hetanews.com
Kunjungan kerja selalu jadi polemik (media menyingkatnya: kunker). Khususnya yang dilakukan legislatif ke luar negeri. Banyak alasan terlontar. Miliaran dana dari anggaran negara terpakai untuk kegiatan tak jelas. Menghambur-hamburkan uang rakyat, bukan hal prioritas, banyak hal lain masih perlu dilakukan dewan ketimbang kunker, dan sebagainya yang berbau negatif.

Dana untuk kunker ini di awal pembahasan anggaran, selalu disetujui bersama-sama oleh dewan yang memang memiliki hak budgeting. Tapi di ujung-ujung ketika mau berangkat, muncul polemik. Semua orang yang menyandang "titel" rakyat di depan namanya, merasa berhak ikut bicara. Mulai dari mahasiswa, asosiasi ini itu, aktivis, politisi sampai pedagang kaki lima. Mereka diwawancarai media, berjubel di headline media online dan halaman depan surat kabar. Berisik di siaran radio dan duduk manis di layar kaca talkshow televisi. Yang luput dari media, memaksakan diri mengirim siaran pers agar suaranya ikut dibaca oleh orang lain.

Pada akhirnya, seperti yang sudah-sudah, seperti tahun-tahun sebelumnya, polemik itu akan reda setelah satu-dua bulan. Media akan bersih dari berita kunker. Kunker kemudian jadi berita basi, menjadi arsip dan data berita. Yang paling penting, jarang kunker itu dibatalkan. Para "kunkeres" tetap akan jalan ke luar negeri. Entah bersama kolega, keluarga, atau cem-cemannya. Setelah kunjung ke sana kemari melihat ini dan itu, mereka pulang lewat Singapura, berbelanja di sana, lalu foto-foto di depan patung singa yang airnya muncrat dari mulut itu. Satu dua foto akan muncul di media sosial, yang kemudian digunjing banyak orang. Lalu, setelah itu dilupakan.

Kunker ke luar negeri sebenarnya tak menyalahi undang-undang. Tak ada aturan yang menyebut secara tegas kalau kunjungan seperti itu dilarang. Para legislator dibolehkan, karena, katanya kunker itu untuk meningkatkan kualitas kerja.

Bayangkan, jika Anda bertahun-tahun bekerja di sebuah perusahaan tapi jarang cuti. Karena kasihan melihat Anda suntuk terus di kantor, direktur perusahaan membolehkan Anda cuti. Sekali mendapat jatah cuti, Anda dibiayai secara gratis untuk pelesiran ke Raja Ampat atau Maldives. Bisa ditebak, setelah itu kinerja Anda akan meningkat. Atau sebaliknya: ketagihan pelesiran.

Tak perlu gundah hati melihat dewan anjangsana ke luar negeri memakai anggaran negara. Tak usah sebal jika Anda di kemudian hari mendapati foto mereka bersama keluarganya selfie di jalan-jalan Eropa. Kita harus paham, itu bentuk pelarian mereka yang jenuh setelah saban hari mengurus politik di gedung yang disebut parlemen. Setelah mereka menghabiskan banyak duit saat pileg dulu, wajarlah jika mereka perlu "hiburan" sesekali.

Banyak hal positif bisa dilihat dari kunker itu. Percayalah, apa yang mereka lakukan di sana itu juga untuk kepentingan kita, kepentingan Aceh. Percayalah, mereka mewakili Anda sebagai konstituen untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk nanggroe ini kelak. Selamilah dalam-dalam segala hal baik dari kunjungan kerja mereka. Itu mungkin lebih baik, ketimbang Anda mengupat tak jelas di Facebook. Ujung-ujungnya Anda akan menjadi pembenci dan pendendam. Agama kita melarang hal itu. Atau, jika mungkin Anda juga belum menemukan makna baik di balik itu, jadilah anggota dewan. Masa, Anda ngga pengen ke luar, sih?

Komentar

Loading...