Unduh Aplikasi

Kudus, Bangkalan, Peringatan Doktor Fauci dan Kita

Kudus, Bangkalan, Peringatan Doktor Fauci dan Kita
Foto : Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Menggunakan istilah mutasi dan variance dalam komunikasi  kesehatan publik agaknya hanya berlaku di kalangan akademik dan komunitas kesehatan saja. Banyak sekali orang biasa yang tidak mengerti tentang istilah mutasi sebagai perjuangan makhluk hidup yang “beradaptasi” mengikuti perintah biologi untuk melanjutkan hidupnya. Istilah variance yang berlaku pada berbagai arena, juga kadang dilihat sebagai kata aneh untuk perkara seperti Covid-19.
 
Jika istilah mutasi dan variance  digunakan sangat terbatas pada masa-masa awal kemunculan virus Covid-19, saat ini hampir tak ada percakapan atau komentar tentang pandemi ini di seluruh dunia, yang tidak terselip kedua kata itu. Padahal jika “dipaksakan” dalam istilah biasa, mutasi itu mengikuti kata asalnya latin “mutatus” yang maknanya perubahan.
 
Virus Covid-19 telah berubah dari bentuk awalnya, titik. Untuk komunkasi publik gunakan saja virus itu “telah berubah”, tanpa harus menambah materi genetik-DNA dan kromosom yang membuat orang tambah bingung. Dalam hal kata variance agak lebih mudah diterangkan, karena berurusan dengan keragaman dari virus yang sama. Bagi yang penasaran, biarkan saja mereka melihat keterangan itu di wikipedia.
 
Kedua kata itu yang kini melekat pada Covid-19 agaknya akan menjadi penentu kebijakan publik di semua tempat dan negara. Kedua kata itu juga akan menentukan perjuangan hidup dan kehidupan publik, tanpa mengenal kasta dan harta, sejauh nama makhluk korbannya adalah manusia.
 
Kedua kata itu juga akan mengacaukan ekonomi rumah tangga dan dunia, mengobrak-ngabrik tatanan kehidupan sosial masyarakat di semua tempat, dan bahkan dapat membuat negara menjadi bangkrut, kehidupan politik kucar kacir, dan bukan tidak mungkin akan menggiring kepada ketegangan baru internasional.
 
Dua kejadian nasional di tempat yang berbeda beberapa hari yang lalu membuat kita tersentak, walaupun tidak sangat tersentak. Alasan kurang terkejut karena sudah membaca dan melihat via media elektronik tentang hal serupa kejadian di luar negeri, terutama di India.
 
Istilah merah di hampir seluruh India, tak lama kemudian menjadi merah dibanyak tempat di tanah air. Istilah merah India  menjadi topik hangat perbincangan global, karena muncul jenis-jenis baru Covid-19 yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya yang ditemukan di Wuhan.

Berita Buruk

Dua kejadian merah itu adalah ledakan kasus yang sangat tidak biasa di Kudus (Katadatacoid Mei), Jawa Tengah dan Bangkalan, Madura (CNN Indonesia 6 Mei 2021). Kejadian periode 10 Mei-4 Juni di kota pantai utara Jawa Tengah itu mengalami kenaikan kasus aktif 1.360 persen dalam sebulan, kenaikan kasus kematian 33 persen dalam sebulan, dengan kematian perhari mencapai 15 orang.  Tidak hanya itu, tidak kurang dari 358 tenaga kesehatan mengalami penularan Covid-19.
 
Berita yang paling mengenaskan datang dari kota Bangkalan, Madura. Dari kota itu dilaporkan mayoritas pasien Covid-19  meninggal di Rumah sakit kurang dari 24 jam semenjak masuk ke Rumah Sakit Syamrabu, Bangkalan. Rumah Sakit itu yang beberapa waktu sebelumnya  akan ditutup, karena meninggalnya dua tenaga kesehatan.
 
Disamping itu dilaporkan pula kapasitas ranjang Rumah sakit Syamraba Bangkalan sudah tak mampu lagi menampung pasien yang terus berdatangan. Akibatnya warga Madura yang akan ke Surabaya, harus melenjalani penyekatan yang ketat di jembatan Suramadu dilakukan oleh Pemda Surabaya bekerjasama dengan otoritas Pelabuhan Tanjung Perak. Tes Antigen digelar 24 jam dan akibatnya tidak hanya warga yang positif, tetapi juga pasien Covid-19 yang diam-diam dibawa oleh keluarganya untuk berobat ke Surabaya.
 
Keadaan sudah memasuki masa kritis, dan kini selangkah lagi bukan tidak mungkin pemerintah Surabaya akan berinisiatif menutup total jembatan Suramadu. Logika pandemi ganas dan mematikan akan segera “memerintahkan” pola pikir darurat untuk menjaga keselamatan dan tanggung jawab masing-masing.
 
Seandainya ketimpangan penularan dan jumlah pasien Covid-19 terus melebar antar daerah lain secara nasional seperti kasus Bangkalan, bukan tidak mungkin pula akan terjadi penyekatan, bahkan penutupan konektivitas fisik antar wilayah adminstratif. Sampai disini kemungkinan besar solidaritas kemanusiaan dan kehidupan negara bangsa akan memasuki ujian yang paling serius.

Kecurigaan Wamenkes dan Virus Delta

Menjadi merah saja di kedua tempat itu belum cukup, terutama di Kudus  dicurigai oleh Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono sebagai indikasi adanya jenis baru Covid-19 (Kompas 10 Juni 2021) dengan keterisian  90,2 persen rumah sakit pasien Covid-19 di Kudus pada minggu yang lalu yang merupakan refleksi dari penularan masif itu, semakin menyakinkan pula bahwa kecurigaan jenis baru Covid-19 itu akan nyata.
 
Kecurigaan itu diuraikan oleh Dante persis sama dengan karakteristik jenis Covid India dan Inggris yang penularannya dramatis, dan di luar kondisi normal sebelumnya. Dante menyebutkan istilah cepat dan masif terhadap  fenomena Kudus itu. Kecurigaannya semakin beralasan dengan temuan 65 kasus mutasi serial varian baru Covid-19 yang terdeteksi dari hasil pemeriksaan 17 laboratorium seluruh Indonesia baik dari sampel genom umur pasien  30 tahun keatas dan kebawah.
 
Peringatan keras terhadap jenis baru Covid-19 disuarakan oleh ahli sekaligus petinggi urusan penyakit menular AS, Dr. Anthnony Fauci, terhadap jenis Covid-19 kode jenis yang diistilahkan dengan Delta, yang berasal dari India. AS sedang bekerja keras membendung  jenis itu berkembang karena kecepatan penyebarannya dan lebih mematikan dari jenis Wuhan sebelumnya.
 
Disebutkan oleh Fauci bahwa Inggris saat kasus Covid-19 di Inggris lebih didominasi oleh jenis Delta ini-B.1.617.2, yang menggantikan jenis Alpha B.1.1.7. Selanjutnya Fauci juga menyebutkan tidak kurang dari 60 negara saat ini sedang mengalami penularan Covid-19 jenis Delta ini.
 
Apa yang membuat AS, dan sejumlah negara maju lainnya dalam menghadapi jenis Delta ini adalah tingkat vaksinasinya yang sudah berada pada angka 30-40 persen, dan sedang berpacu untuk mencapai 50 persen lebih. AS sendiri saat ini sudah melampaui angka 60 persen, dan sedang berjuang keras untuk mencapai angka 70 persen awal bulan Juli tahun ini. Suatu hal yang membuat  mereka agak lega, paling kurang sampai dengan saat ini adalah vaksin yang banyak di pakai di AS, Pfizer dan AstraZeneca terbukti mampu bertahan terhadap Covid-19 jenis Delta ini.

Aceh: Redifinisi Tantangan dan Keberanian.

Seperti sebelumnya di tempat lain, kini di Aceh, terutama di Banda Aceh  merah itu telah berdomisili dan memasuki  minggu ke dua, dan sepertinya akan memasuki minggu ketiga. Fenomena yang ada baik di Rumah Sakit, prosentase kenaikan jumah pasien, dan tingkat kematian juga tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Kudus. Tanpa harus menjadi ahli penyakit menularpun, akal sehat akan mengatakan, jika yang terjadi di India dan Inggris dapat dan telah terjadi di Kudus dan Bangkalan, maka Banda Aceh juga berpeluang besar untuk mengalaminya.
 
Berbagai gebyar kini sedang dilakukan dengan gencar, dan itu semua baik saja adanya. Kalaulah ada gebyar yang kurang, maka yang paling menonjol adalah lemahnya upaya tracing- testing, dan itu terjadi merata di seluruh Aceh. Ada sebuah mentalitas pelaksana pemerintahan di berbagai tingkatan yang menunjukkan bahwa seolah vaksinasi yang berjalan secukupnya telah menyelesaikan persoalan.
 
Kini sudah nyata sekali, bahwa narasi pengendalian Covid-19 Aceh hanya berasosiasi dengan rumah sakit. Tidak ada sama sekali upaya masif yang menunjukan bahwa masyarakat ikut bersama-sama, baik secara koersif, semi koersif, maupun sukarela. Kata-kata sinis dalam bahasa Aceh adalah rakyat telah dibiarkan ibarat “biri jikap le asee”, rakyat dibiarkan mengurus dirinya sendiri untuk menghadapi wabah yang paling mematikan ini.
 
Kekuasaan yang diberikan oleh rakyat dan Undang-Undang untuk melindungi rakyat belum digunakan secara penuh dan bertanggungjawab. Riuh rendah perilaku keseharian publik dan protes-protes kecil penertiban Covid-19 agaknya membuat pemegang mandat publik “takut” atau “tak peduli” dengan ancaman pandemi.
 
Salah satu tingkat II di Aceh  yang tidak perlu disebut namanya adalah contoh paripurna yang kepala daerahnya sangat takut kepada kemarahan publik sekiranya  ketentuan dan peraturan ketat diberlakukan. Akibatnya, pasar, kedai topi, warung nasi, dan restoran dibiarkan menjadi arena penularan Covid-19.
 
Buktinya penjual, dan pelaku kegiatan ekonomi yang ada dalam kawasan adminsitratifnya tidak dikenakan wajib masker. Tidak behenti disitu, petugas yang mengenakan seragam  yang mengurus pasar pun tega-teganya mempertontonkan keberaniannya tidak memakai masker ketika sedang bekerja.
 
Seorang pengamat anonim di Banda Aceh menyebutkan kepada penulis jika kepala daerah yang tamatan “sekolah pagi”-maksudnya alumni USK  saja seperti itu sikapnya, bagaimana pula dapat diharapkan dengan mayoritas kepala daerah lain yang alumni “sekolah sore” tuturnya. Sepertinya itu adalah ungkapan yang sangat sinis, tetapi kemudian mendapat pembenaran dari seorang teman lain ketika disebutkan yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia.
 
Sikap mental seolah-olah dengan vaksinasi semua kegiatan Covid-19 telah selesai mesti dihentikan. Yang dibutuhkan adalah sebuah model kepemimpinan kolektif daerah yang segera membuat redefinisi tentang “tantangan baru” pandemi ini.
 
Yang dibutuhkan adalah sebuah keberanian menghadapi berbagai persolan sulit. Jika kerumitan urusan lain seperti proyek multi years, pengadaan kapal Aceh Hebat mampu ditanggapi secara gagah berani, seharusnya persoalan Covid-19 juga sangat layak dihadapi dengan gagah berani pula.
 
Apa yang terjadi di Wuhan, telah kita pernah dan sedang alami hari ini. Apa yang terjadi di India kini sedang mulai terjadi di Kudus dan Bangkalan. Upaya yang sedang kita lakukan di Aceh belum ada tanda-tanda bahwa kita peduli dengan apa yang sedang terjadi di tempat lain, baik di luar maupun dalam negeri. Upaya membendung dan mengendalikan Covid-19 pada tahap sekarang adalah konsistensi upaya vaksinasi massal, tracing, dn testing sekaligus. Dan itu harus dilakukan dengan cara masif dan sangat serius.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Komentar

Loading...