Unduh Aplikasi

Kuala Batee, Abdya pernah rusak stabilitas politik Amerika Serikat

RAMBUTNYA ikal menundukkan kepala, tampak menikmati sajian mie Aceh di 3 in 1 Cafe, Lampineung, Banda Aceh. Sesekali dia menyatakan kenikmatan racikan mie dengan mengerutkan keningnya isyarat mie tersebut “top margotop”.

Dia berada pada sebuah ruangan dengan jejeran sofa panjang dan tampak cermin lebar, yakni ruang khusus lantai dua 3 in 1 Cafe. Disampingnya Prof. Yusni Sabi sesekali mencandainya dengan akrab dan hangat khas sang profesor mantan Rektor Institute Agama Islan Negeri (IAIN) Ar Raniry tersebut.

Canda profesor tak membuatnya bergeming untuk menghabiskan mie Aceh lewat sendok dan garpunya. Wajahnya bersih dan putih sekilas mirip penyanyi Amerika Serikat Josh Groban, hanya saja Dr Farish A Noor tidak memiliki suara semerdu penyanyi jebolan American Idol.

Pemandu acara diskusi yang hanya dikabarkan dari mulut ke mulut membuka acara dengan menyampaikan kalimat tentang diskusi ini dalam mengekspos sejarah yang dimiliki Aceh wilayah barat-selatan. Menurutnya sangat jarang potensi sejarah yang dimiliki Aceh wilayah barat-selatan di eksplorasi.

***
DR Farish A Noor memiliki paper tentang sebuah Kecamatan di Aceh Barat Daya (Abdya) yaitu Kuala Batee. Lintas barat-selatan Aceh, Kecamatan ini adalah kecamatan kedua setelah melewat Kecamatan Babahrot perbatasan Kabupaten Nagan Raya dengan Abdya.

Kita ketahui sejarah Aceh tentang serangan balasan Amerika Serikat ke Kuala Batee, disebut Quallah Battoo oleh mereka. Berawal dari pembajakan dan pembantaian kapal Frienship pada tahun 1831 dimana kapal yang dipimpin Charles Endicott tiba di Kuala Batee untuk mendapatkan 1 kargo lada.

Tepatnya pada 7 Februari mendaratlah kapal lepas pantai tersebut, namun perahu penduduk asli menyerang dan membunuh seorang perwira kapal dan dua anak buah kapal lainnya serta menjarah kargo.

Seorang yang dituakan pada saat itu yakni Poh Adam melarikan Endicott di pelabuhan lainnya sehingga berhasil pulang ke Amerika Serikat dan gemparlah Amerika Serikat ketika itu dan serangan balasan terjadi pada 5 Februari 1832.

Di bawah pimpinan Komodor John Downes setelah diutus Presiden Andrew Jackson ketika itu kapal USS Potomac disamarkan menjadi kapal dagang denmark, ketika negosiasi perdagangan dilakukan ternyata John Downes menahan warga yang ada di atas kapal.

Pertempuran akhirnya terjadi dimana diinformasikan Poh Adam, masyarakat setempat tidak mau mengganti rugi atas kapal Friendship yang setahun sebelumnya sempat dibajak, pertempuran terjadi yang membuat kerajaan setempat kalah dengan memakan korban jiwa hingga 300 orang dan hanya dua orang dari pihak Amerika Serikat.

***

Koran New York Observer

INVASI  tersebut digembor sebagai invasi Sumatera pertama. Namun Dr. Faridh A Noor Minggu malam, (9/2) tidaklah mengulas romantisme sejarah yang sempat terjadi dan kerap muncul perdebatan.

Dia adalah Sejarahwan dan Ahli Filsafat yang sempat melakukan penelitian di beberapa universitas ternama di Eropa. Papernya mengangkat hasil penelitian dari kliping sebuah koran pada tahun 1832. Dimana disampaikannya Invasi Amerika Serikat ke Kuala Batee menggoyang stabilitas politik Presiden ketika itu Andrew Jackson.

“Kala itu Amerika Serikat akan menggelar pemilihan umum,”. Menurutnya konstalasi politik terjadi pada serangan tersebut. Media masa banyak yang mengabarkan tentang Kuala Batu, namun media masa yang partisan kerap mengambil sisi lain untuk menjatuhkan lawan politik.

Salah satu kliping koran dimiliki Farish adalah New York Observer, kabar kemenangan invasi Amerika Serikat ke Kuala Batee, tersiar dengan cepat di masyarakat Amerika Serikat ketika itu.
“Namun koran ini mengangkat tema bahwa Amerika membunuh perempuan Kuala Batu,” kata Farish.

Pembunuhan perempuan sangat mempengaruhi perpolitikan di Amerika Serikat kala itu, karena kala itu perempuan di Amerika Serikat menurut Farish masih dianggap tidak mungkin untuk berperang. Menurut Farish hal itu membuat pemerintahan Amerika Serikat jelek di mata warga.
“Tentu yang disalahkan adalah Presiden, Komodor Downes hanya menjalankan intruksi Presiden,”.

Kata dia bergoncanglah Amerika ketika itu, terlebih New York Observer adalah media masa yang di baca para politikus ketika itu. Koran itu merupakan cikal bakal dari Washington Post saat ini, sebagaimana dijelaskan Farish.

Bukti peperangan di Kuala Batee dibuktikan pada sebuah lukisan dan diperagakan Farish yang telah melihat lukisan itu bahwa tampak seorang perempuan memegang senjata tentara Amerika Serikat dimana senjata itu memiliki pedang di ujungnya.

“Jadi jelas perempuan ikut berperang di Kuala Batee, yang saya ingin tahu adalah siapa perempuan itu,” kata Farish berguyon.
Dr. Farish pribadi mengaku belum pernah berjalan ke Kuala Batee, hanya dia mengambil dari koran-koran lama yang ia miliki.

Tuduhan-tuduhan penganiayaan pada perempuan melekat pada pemerintahan AS, stabilitas politik sangat terganggu, sebagaimana dijelaskan Farish, akibatnya adalah Komodor John Downes tak diperbolehkan lagi berlayar, dia terakhir menjabat sebagai Kepala Pelabuhan Boston.

Meskipun begitu Andrew Jackson tetap terpilih sebagai Presiden kembali dari Partai Demokrat, berkat kounter isu jyang dilakukannya. Dimana ketika itu juga AS berhasil mengalahkan Spanyol untuk menguasai Filiphina.

***
SAAT ini masyarakat Kuala Batee, sudah banyak mengetahui kisah kecamatan mereka yang pernah di serang Amerika Serikat. Namun dampak serangan tersebut mengganggu perpolitikan Amerika Serika masa itu terungkap dari paper Dr. Farish berdasarkan New York Observer.

Hal ini memunculkan komentar dari Prof. Yusni Sabi yang menyampaikan kalau sejarahwan harus melakukan penelitian di Kuala Batee dalam mengungkap sejarah tersebut.
“Kita harus dapat melakukan penelitian disana, sejarah ini sangat penting bagi masyarakat Aceh dan bisa saja saling terkait dengan aspek lainnya,” kaya Yusni Sabi.

Yusni Sabi juga mengajak Farish untuk ke Kuala Batee, namun Farish melanjutkan studynya di Singapura pagi hari usai diskusi ini.

| FIQIH PURNAMA

 
Iklan Kriyad

Komentar

Loading...