Unduh Aplikasi

Kronologi Rusuh Demo di Aceh Barat dan Cerita Dua Pelajar yang Diamankan Polisi

Kronologi Rusuh Demo di Aceh Barat dan Cerita Dua Pelajar yang Diamankan Polisi
Aksi di Gedung DPRK Aceh Barat. Foto: AJNN/Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Aksi unjuk rasa yang berlangsung di Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat, Kamis (8/10) sempat rusuh. Kerusuhan bermula ketika massa berusaha merangsek masuk ke dalam gedung wakil rakyat itu. 

Aksi yang berlangsung dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 14.30 WIB itu, polisi sempat mengamankan pelajar yang ikut dalam aksi tersebut.

Adapun dua pelajar yang ikut diamankan itu yakni Muhajir (17), dan Muhammad Farhan (17). Kedua pelajar itu merupakan siswa SMK Negeri 2 Meulaboh.

Keduanya diamankan karena diduga ikut melakukan aksi pelemparan batu ketika berlangsungnya kerusuhan.

Muhajir salah seorang pelajar yang ikut dalam aksi memang mengakui ikut melemparkan batu saat aksi berlangsung. Alasannya karena aparat kepolisian memaksa mereka mundur dari gedung DPRK.

Muhajir mengaku datang untuk aksi ke gedung DPRK bersama mahasiswa lainnya karena ada seruan aksi.

"Kalau datang kemari awalnya karena ada seruan. Kalau demonya nggak tahu kali, namun karena ada seruan," kata Muhajir.

Ia baru tahu aksi tersebut untuk memperjuangkan hak-hak buruh yang dianggap telah dirampas lewat UU Omnibus Law atau Cipta Kerja, karena itu pula ia ingin membela kaum buruh.

Baca: Tolak Omnibus Law, DPRK Aceh Barat : Itu Menguntungkan TKA dan Investor

Sementara itu, Muhammad Farhan yang kut diamankan polisi dalam aksi tersebut mengaku tidak membuat kerusuhan saat aksi.

Ketika kerusuhan berlangsung, ia baru saja tiba di gedung tersebut dan mengaku tidak melakukan pelemparan ke gedung eksekutif tersebut.

"Saya nggak lempar bang. Tadi saya baru sampai juga. Saat rusuh terjadi, saya nggak ada lempar apa-apa," ungkapnya.

Dari pantauan AJNN, saat kerusuhan terjadi sejumlah fasilitas umum ikut rusak, seperti vas bunga, kaca jendela gedung.

Dalam aksi itu, massa juga sempat menghalau mobil water canon milik kepolisian dengan cara melempar batu saat polisi berusaha membubarkan massa.

Namun beruntung dalam aksi tersebut pihak polisi tidak melepaskan tembakan gas air mata kearah massa.

Kerusuhan sempat terjadi selama dua puluh menit, namun setelah itu massa kembali dapat ditenangkan, sehingga aksi unjuk rasa kembali tertib.

Sebelum massa berusaha merangsek masuk ke dalam gedung itu, sebenarnya para demonstran sudah diizinkan masuk kedalam gedung, setelah sempat bernegosiasi dengan pimpinan DPRK setempat.

Bahkan, saat itu sudah ada sejumlah demonstran masuk ke dalam gedung tersebut dengan prosedur pemeriksaan ketat, guna mencegah ada massa yang membawa senjata tajam atau benda keras lainnya.

Namun entah ada yang memprovokasi, sehingga massa yang sudah berada di depan pintu masuk dalam gedung itu pun secara massa memaksa masuk tanpa mengikuti prosedur pemeriksaan sehingga terjadi tolak menolak antara polisi dan massa, dan dilanjutkan dengan lemparan batu dari arah massa.

Komentar

Loading...