Unduh Aplikasi

Sadis, Ini Kronologi Pembunuhan Ibu dan Anak di Aceh Timur

Sadis, Ini Kronologi Pembunuhan Ibu dan Anak di Aceh Timur
Dua tersangka pembunuhan saat diamankan di Polres Aceh Timur. Foto: Dok AJNN

ACEH TIMUR - Polisi Resor Aceh Timur telah menangkap dua pelaku pembunuh Siti Fatimah (56), dan anaknya Nadatul Afraa alias Dek Yus (15), yang ditemukan meninggal di rumah mereka di Desa Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Senin 15 Februari 2021 lalu.

Dua pelaku pembunuhan tersebut masing-masing berinisial R (46), dan M (37), keduanya juga tercatat sebagai warga Simpang Jernih.

Kapolres Aceh Timur AKBP Eko Wadiantoro, Kamis (18/2/2021) mengatakan, kronologi pembunuhan tersebut berawal pada Kamis 11 Ferbuari 2021 sekira pukul 22.00 WIB, tersangka M hendak turun dari Desa Simpang Jernih.

Di tengah perjalanan, tepatnya di Desa Bengkelang, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, kata Kapolres, tersangka M bertemu dengan tersangka R. Saat itu R mengajak M untuk menemui seseorang. Selanjutnya keduanya pergi bersamaan dengan menggunakan sepeda motor milik tersangka M.

Memasuki hari Jumat, (12/02/2021) sekitar pukul 02.00 WIB, kedua tersangka tiba di desa mereka (Simpang Jernih), kemudian memarkirkan sepeda motor di dekat perkebunan sawit lalu menuju rumah korban.

Tersangka M, kata Kapolres, sempat menanyakan kepada tersangka R, maksud dan tujuan ke rumah korban. Tersangka R waktu itu menjawab, 'sudah ikut aja'.

Kedua pelaku lalu mencongkel jendela rumah korban yang terbuat dari kayu papan agar bisa masuk ke dalam rumah. Tersangka R juga meminta kepada tersangka M untuk mencari alat, lantas diambilnya sebilah kayu yang terletak di belakang pintu dan bersamaan ke kamar korban. 

Baca: Pelaku Pembunuh Ibu dan Anak di Aceh Timur Ditangkap

Setibanya di dalam kamar, kata Kapolres, tersangka R memberi isyarat kepada tersangka M untuk menghabisi Siti Fatimah, yang saat itu sedang tertidur. Permintaan tersebut diiyakanya. Dengan menggunakan kayu, tersangka M memukul Siti pada bagian leher dan seputaran rahang.

Usai menganiaya Siti Fatimah, tersangka M kemudian menghampiri tersangka R, yang sedang menganiaya Nadatul Afraa, dengan menggunakan besi bulat. Tersangka R juga meminta tersangka M untuk ikut menghajar Nadatul Afraa.

"Ironinya, tersangka M bukan menghajar Nadatul Afraa, justru tersangka M memperkosa Nadatul Afraa di bawah tempat tidur dengan keadaan mulut sudah berdarah-darah akibat dipukul oleh tersangka R. Saat tersangka M, sedang memperkosa korban, tersangka R kemudian menghatamkan besi bulat yang ia pegang ke kepala korban," sebut Kapolres.

Setelah puas menganiaya dua korban, lanjut Kapolres, pelaku kemudian menyeret tubuh kedua korban dan didorongnya ke bawah kolong tempat tidur. Kedua pelaku kemudian keluar melalui jendela yang mereka congkel serta menutupnya kembali. Sementara kayu dan besi yang digunakan untuk menganiaya korban dibuang di semak-semak belakang rumah korban.

Untuk menghilangkan jejak, kata Kapolres, tersangka M melarikan diri dengan bersembunyi di rumah kerabatnya di Besitang, Sumatera Utara, hingga akhirnya berhasil diamankan petugas pada Rabu, (17/02/2021) pagi.

Lain halnya dengan tersangka R, kata Kapolres, usai membunuh korban, tersangka R hanya selang beberapa jam, dia kembali melakukan tindak pidana pengrusakan dan pengancaman terhadap warga desa setempat yang berujung dilaporkan ke Polsek Simpang Jernih.

Atas laporan tersebut, kata Kapolres, pada Jum’at (12/02/2021) sekira pukul 14:30 WIB tersangka R diamankan ke Polsek Simpang Jernih, kemudian dilakukan penahanan di sel tahanan Polres Aceh Timur dalam perkara tindak pidana pengrusakan yang disertai pengancaman.

"Dari keterangan tersangka R, ia melakukan perbuatan tersebut dilatarbelakangi dendam dan hutang piutang. Namun demikian kami masih mendalami motif yang sebenarnya," ungkap Kapolres.

"Atas perbuatanya, kedua pelaku dikenakan Pasal 338 jo 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup dan Pasal 76 c jo pasal 80 ayat (3) Undang undang Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun," tambah Kapolres.

Komentar

Loading...