Unduh Aplikasi

Kritik Pemerintah, Jack Ma Menghilang, AliBaba Rontok

Kritik Pemerintah, Jack Ma Menghilang, AliBaba Rontok
Jack Ma. Foto: Businessweek

BEIJING - Pendiri raksasa e-commerce AliBaba, Jack Ma (56) dikabarkan hilang usai pidato kontroversial  pada bulan Oktober 2020 lalu. Sejumlah dugaan atau prediksi bermunculan terkait pengusaha terkenal tersebut. Ada yang menduga saat ini Jack Ma sedang di penjara atau bahkan sebenarnya sudah tewas.

Mengutip dari Detik.com yang melansir berita tersebut dari TIME dan CNN pada Selasa (5/1/2021), dalam pidato di forum bernama Bund Summit di Shanghai pada 24 Oktober 2020, Jack Ma melontarkan kritik terhadap pemerintah China (Tiongkok). 

Pidato itu disebut-sebut membuat marah pemerintah China. Akibatnya Jack Ma dikabarkan sempat dipanggil oleh otoritas China untuk diinterogasi dan mendapatkan teguran keras atas kritikannya itu.

Untuk diketahui Forum Bund Summit itu di sebut sebagai 'platform komunikasi finansial high-end yang terbuka, pragmatis, dan berpengaruh secara internasional.

Dalam forum itu, Jack Ma mungkin merasa berhak untuk berbagi sedikit pandangannya dari karier yang membawa Alibaba yang tadinya hanya memiliki kurang dari 20 karyawan -- dimulai di apartemennya di kota pesisir Hangzhou tahun 1999 -- menjadi raksasa teknologi yang meraup pendapatan US$ 71.985 miliar pada tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2020.

Menurut transkrip pidato yang dipublikasikan surat kabar Hong Kong, Apple Daily, Jack Ma menyampaikan pidatonya secara berhati-hati. Dia menyebut dirinya sebagai "pria pensiunan yang berbagi pandangan non-profesional dari seorang non-profesional" dan mengakui bahwa gagasannya mungkin 'tidak dewasa, tidak akurat atau bahkan bisa ditertawakan'.

Dengan sopan, Jack Ma menyertakan beberapa kutipan kata-kata Presiden Xi Jinping dalam pidatonya. Tapi ketika dia mulai mengajak para hadirin -- yang oleh Reuters digambarkan sebagai 'kelompok keuangan, regulasi dan politik yang mapan' -- untuk mempertimbangkan perlunya reformasi sistem keuangan China, Jack Ma dianggap telah melewati batas.

Jack Ma saat itu mengatakan kalau sistem keuangan saat ini adalah produk dari Era Industri," sebutnya. "Saat ini kita memiliki tanggung jawab untuk memikirkan dan membangun sistem keuangan yang benar-benar milik masa depan, generasi muda, generasi penerus dan zaman itu. 

Jack Ma juga mengkritik aturan perbankan di China yang dia samakan seperti pegadaian. Untuk itu, Ma menginginkan adanya perubahan atau reformasi.

Menurut orang terkaya nomor 25 versi Bloombergs Billionaires Index tersebut, sistem keuangan saat ini harus direformasi. Jika hal itu gagal dilakukan maka bukan hanya kita kata Jack Ma yang akan kehilangan kesempatan tapi dunia juga bisa jatuh ke dalam kekacauan yang lebih parah.

Selain itu prediksi nasib Jack Ma juga muncul pada sebuah video yang diunggah 11 September 2019 di Twitter. Video itu berisi tentang percakapan antara miliarder China yang diasingkan, Guo Wengui (Miles Kwok), dengan Direktur Investasi Hayman Capital Management, Kyle Bass.

Di dalam video itu, Jack Ma diprediksi oleh Miles Kwok hanya akan mengalami dua akhir hidup.

"Hanya ada dua cara (akhir) bagi miliarder di China, dia dipenjara atau mati," ungkap Kwok dikutip dari Real Vision.

Jika memang benar pendiri Alibaba itu menghilang karena kritiknya terhadap pemerintah sehingga menyebabkan dia harus mendekam di penjara atau dibunuh maka prediksi dua tahun lalu itu bisa dibilang benar.

Miles Kwok sendiri, orang yang memprediksi akhir hidup Jack Ma, adalah seorang pebisnis China yang diasingkan dan menjadi aktivis politik. Dia menguasai Beijing Zenith Holdings dan aset lainnya.

Saham AliBaba Anjlok

Sementara itu melansir dari CNBC Indonesia, saham Alibaba di Hong Kong anjlok lebih dari 8% pada sesi ke 2 secara berturut-turut pada perdagangan Senin (28/12/2020) pekan lalu.

Hari ini, saham-saham Alibaba Grup pun berjatuhan kembali. Seperti induk usahanya, anak usaha dari Alibaba Grup, yakni Alibaba Health Information Technology Ltd. juga ikut anjlok di bursa beberapa negara.

Di Hong Kong, saham induk Alibaba Group terjatuh hingga 2,15%. Sedangkan anak usahany ambles hingga 5,68%. Sementara di perdagangan OTC bursa New York, saham anak usaha tersebut ambles hingga 2,89%.

Pelemahan nilai saham ini kemungkinan juga diakibatkan dari permasalahan kritikan Jack Ma, founder Alibaba Group terhadap regulator sistem keuangan dan bank-bank pemerintah China dalam sebuah diskusi publik di Shanghai.

Salah satu orang terkaya China itu menyerukan reformasi sistem keuangan yang "yang menahan inovasi bisnis". Ia menyamakan peraturan perbankan yang diterapkan China saat ini sebagai "klub orang tua".

Jack Ma juga mengatakan Bank China beroperasi dengan mentalitas "pegadaian", sebagaimana dilaporkan oleh Reuters. Tentu pidato itu membuat marah pemerintah China karena kritiknya itu dianggap menyerang otoritas Partai Komunis. Sejak peristiwa tersebut Jack Ma tak lagi tampak di depan publik.

Selain itu, setelahnya tindakan yang keras diberikan kepada bisnis Fintech milik Alibaba, Ant Group. Penghentian penawaran saham perdana (IPO) Ant Group senilai US$37 miliar atau setara Rp 518 triliun (asumsi Rp 14.000/US$) menjadi keputusan pribadi Xi atas komentar Jack Ma.

Informasi ini diungkap pejabat China yang identitasnya dirahasiakan kepada Wall Street Journal pada November 2020 lalu. Menurut laporan tersebut, Xi Jinping telah memerintahkan regulator China untuk melakukan investigasi dan secara efektif menghentikan penawaran saham (IPO) Ant Group.

Pemerintah China menghentikan IPO Ant Group dua hari sebelum pencatatan perdana saham di bursa saham Hong Kong dan bursa saham Shanghai. Keputusan ini dibuat setelah beberapa hari setelah Jack Ma mengkritik pengawas sektor keuangan dan bank negara.

Ant Group merupakan raksasa fintech China yang cukup berpengaruh pada sistem keuangan China. Salah satu layanan terpopulernya adalah Alipay yang dipakai sebagai dompet digital untuk pembayaran digital, transfer dana hingga membeli produk investasi.

Komentar

Loading...