Unduh Aplikasi

Krisis Mode [Off] / Krisis Mode [On]

Krisis Mode [Off] / Krisis Mode [On]
Ari Maulana. Foto: Ist

Oleh: Arie Maulana

FAO telah menyampaikan peringatan terhadap ancaman krisis pangan sebagai dampak dari wabah corona kepada pemerintah diseluruh dunia. Seberapa besar bahayanya atas ancaman ini? Tentu besar sekali. Kelaparan akan menjadi seperti wabah. Dan dengan cepat menjadi bencana. Berbagai hal - hal buruk akan segera terjadi dalam kehidupan kita.

Pemerintah kita sudah merespon ancaman ini. Presiden segera mengingatkan para kepala daerah terhadap bahaya krisis pangan. Presiden mengingatkan agar semua kepala daerah memperhatikan pasokan pangan didaerah masing - masing. Plt Gubernur Aceh juga telah menyampaikan kepada masyarakat luas melalui media Serambi Indonesia pada Selasa 19 Mei 2020 kemarin, bahwa Pemerintah Aceh sedang mempersiapkan diri menghadapi krisis ini. Berita yang menggembirakan. Sebuah langkah yang patut kita apresiasi.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menerangkan bahwa, kebutuhan masyarakat Aceh terhadap beras mencapai 680.408 ton setiap tahunnya. Jika dihitung secara rata - rata maka setiap orang Aceh mengkonsunsi 26.28 Kg beras setiap tahunnya. Jauh lebih sedikit dibanding rata - rata Nasional yang mencapai 111.58 Kg per orang per tahun pada 2019 lalu. Lebih jauh Kadis Pertanian, memprediksikan bahwa tahun 2020 ini kita akan mengalami surplus pangan sebesar 339.016 ton. Ini berarti bahwa hingga akhir tahun 2020 akan tersedia cadangan beras untuk 6 bulan kedepan. Masyarakat Aceh akan aman hingga bulan Juni tahun 2021. Kadis Pertanian hanya membutuhkan dana sebesar Rp 22.1 Milyar untuk menyiapkan 16.000 Hektare lahan pertanian di Aceh. Untuk setiap hektare lahan pertanian dialokasikan dana sebesar Rp. 1.28 Juta untuk mendukung program tersebut. Sementara BPS pada tahun 2017 melakukan perhitungan bahwa untuk 1 hektar lahan sawah komoditi padi dibutuhkan anggaran Rp 18,4 Juta.

Berarti secara umum kondisi kita masih aman. Dan disisi lain Dinas Pertanian hanya memerlukan sedikit anggaran biaya untuk menghadapi krisis yang diperkirakan akan segera terjadi dimasa depan. Semoga perkiraan Kadis Pertanian benar adanya.

Saya mencoba mencermati berita dan informasi mengenai ancaman krisis pangan karena wabah Corona sebagaimana peringatan FAO. Dua hal penting yang saya tangkap kemudian. Ketersediaan dan akses. Dua hal inilah yang menjadi masalah dalam ancaman krisis pangan. Atau bahasa lainnya adalah rantai pasok. BMKG memang telah memperkirakan bahwa, tidak akan terjadi ancaman kekeringan ektrim sepanjang tahun 2020 di Indonesia. Berarti tidak ada masalah terhadap proses tanam dan panen. Aman dari sisi ketersedian bahan pangan.

Tapi bagaimana dengan akses? Katakanlah, bahan pangannya melimpah. Tapi apakah dapat dengan mudah diakses oleh Masyarakat kita? Justru inilah yang menjadi ancaman menurut FAO. Wabah Corona ini memberikan dampak multi aspek. Pemerintah pusat telah mendapat laporan bahwa, sejak masa wabah ini 2.5 juta petani telah mengalami kesulitan untuk menjual hasil panennya. Ini terjadi karena hanya dalam tempo 3 bulan sejak wabah, terjadi penurunan daya beli masyarakat. Pembatasan ruang gerak sebagai langkah protektif terhadap wabah telah berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat. Hanya dalam tempo 2.5 bulan saja.

Kembali kesoal persiapan Pemerintah Aceh dalam menghadapi krisis pangan. Saya mencoba mencermati arahan dan kebijakan yang disampaikan Gubernur Aceh. Gubernur menjelaskan kekhwatirannya setelah mencermati perkembangan pertumbuhan ekonomi kita. Begitupun dengan laju inflasi yang bergerak naik. Nova meminta agar perangkat pemerintah berpikir diluar kebiasaan. Diluar kerangka RPJM. Karena yang sedang dihadapi adalah situasi krisis. Berpikir dan bertindak diluar kebiasaan. Krisis pangan sedang mengancam masyarakat kita.

Jika merunut pada cara pandang Gubernur dan Kepala Dinas Pertanian, saya kok menjadi khwatir. Saya menemukan 'gap' yang besar diantara keduanya. Ada kesenjangan cara pandang yang membentang disitu. Ketika Gubernur melihat situasi krisis dalam Mode On, Kadis Pertanian melihat situasi dalam Mode Off. Kesenjangan ini, jika benar tentu akan menjadi masalah bagi kita semua. Kesejangan ini akan menjadi masalah besar dalam penanganan nantinya. Semoga saja kekhwatiran saya ini salah.

Namun bagaimanapun, saya menaruh hormat pada Gubernur Nova beserta jajarannya, atas ikhtiarnya dalam menghadapi ancaman krisis yang kemungkinan besar akan segera terjadi. Saya juga menaruh harapan besar kepada Pemerintah, agar mampu mengatasi krisis dampak dari wabah Corona. Tentu tidak mudah bagi Gubenur dan jajarannya dalam mengatasi setiap problematika yang dihadapinya.

Teringat pada memoir perang Jenderal Vo Ngunyen Giap yang ditulisnya dalam Dien Bien Phu. Langkah pertama yang paling sulit dalam menyusun strategi perang adalah 'mengkonsolidasikan ide dan gagasan kepada seluruh pasukan'. Menjelaskan makna strategis dari sebuah perintah jauh lebih sulit ketimbang sekedar meminta pasukan maju ke medan perang.

Penulis adalah Presidium Nasional Pena 98

Komentar

Loading...