Unduh Aplikasi

Kreatif, Warga Aceh Utara Sulap Tunas Kelapa Jadi Bonsai Bernilai Jual Tinggi

Kreatif, Warga Aceh Utara Sulap Tunas Kelapa Jadi Bonsai Bernilai Jual Tinggi
Foto: For AJNN

LHOKSEUMAWE - Bibit tunas kelapa disulap menjadi tanaman bonsai yang bernilai jual ekonomis di tangan kreatif masyarakat Kabupaten Aceh Utara.

Tanaman hias dengan ukuran kecil dibandingkan aslinya tersebut dijual dengan harga Rp150 ribu hingga jutaan rupiah per pohon tergantung keunikan dan tuanya benda itu.

Di tengah pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), para pengrajin yang tergabung dalam Komunitas Meuruno Bonsai (KMB) bertempat di Gampong Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, ini memilih meluangkan waktu mereka untuk mengolah bibit tunas kelapa menjadi bonsai yang sangat menarik dan unik.

Keunikan bonsai kelapa tersebut sangat diminati oleh pembeli. Bahkan, penjualan di tengah Pandemi Covid-19 meningkat hingga 20 persen dibandingkan sebelumnya. Hampir semua jenis kelapa kering bisa untuk dibonsai. Akan tetapi, jenis kelapa gading lebih bagus dan menarik, karena batoknya yang tidak berukuran terlalu besar.

“Proses pembuatannya tidak terlalu sulit, namun butuh kesabaran dan seni dalam mengolahnya,” kata Ketua KMB yang juga merupakan Keuchik Gampong Ulee Madon, Teungku Salahuddin.

Setiap tunas kelapa yang hendak dijadikan bonsai tersebut, terlebih dulu dibersihkan hingga ke bagian batoknya, dan hanya meninggalkan serabutnya saja. Kemudian, proses lanjutannya memanfaatkan media tanam pot kecil dan batu karang.

“Setelah tumbuh akarnya, baru kemudian dipindahkan ke pot yang sesuai dengan kebutuhannya,” jelas Salahuddin.

Bonsai kelapa itu dibentuk dengan berbagai macam jenis, yakni diantaranya bentuk semut nungging, lepas angin, gurita, alien, original dan semi original.

“Pengrajin mulai menggeluti hobinya ini sejak setahun silam, namun keseriusan itu timbul pada pandemic Covid-19, karena sesuai anjuran pemerintah untuk tidak keluar dan bekerja di rumah,” ujarnya.

Ide tersebut muncul saat dirinya mengikuti bimbingan teknis di Lembang, Jawa Barat. Saat melihatnya, dia berkeingingan dan terpikir untuk membuatnya dan mengembangkan di Aceh.

“Ketika saya sudah kembali ke Aceh, langsung mengajak masyarakat untuk membuat sebuah komunitas pengrajin, dan akhirnya, saat ini sudah bisa dipasarkan hingga ke luar Aceh,” tuturnya.

Salah seorang pengrajin bonsai kelapa, Mundasir mengatakan, proses pembuatan berbagai jenis bonsai itu membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan sampai dua tahun untuk membentuknya sesuai dengan keinginan.

“Saat ini, anggota komunitas kelapa ini sudah 80 orang, yang tersebar di berbagai kecamatan Kabupaten Aceh Utara,” imbuhnya.

Komentar

Loading...