Unduh Aplikasi

KPA Tuding Adi Maros Cari Sensasi

PANTON LABU - Komandan Operasi Daerah IV  KPA Wilayah Pasee, M. Jhony mengatakan tanggapan Direktur LSM Aceh Human Foundation (AHF), Abdul Hadi alias Adi Maros terkait pemberitaan "Dana Desa Dipangkas Untuk Eks Kombatan GAM" hanya upaya mencari sensasi. Kamis (8/10).

Adi Maros dalam pernyataan Rabu (7/10) kemarin, meminta penegak hukum menindaklanjuti dugaan  meminta jatah uang oleh para eks kombatan GAM wilayah Pasee. Uang itu dari dana desa di 47 desa di Kecamatan Jambo Aye, Aceh Utara.

Adi Maros juga minta petinggi KPA Muzakir Manaf untuk menindak kelakuan oknum yang merusak institusi besar KPA tersebut.

Menanggapi itu, M. Jhony mengatakan pernyataan tersebut tidak pantas dikeluarkan oleh Adi Maros, karena uang yang diambil oleh KPA akan dipergunakan untuk membantu anak yatim korban konflik.

Ia justru menilai, Adi Maros sedang mengambil kesempatan dalam kesepitan untuk mencari popularitas.

“Ada baiknya suatu lemabaga itu netral, jangan ada istilah mencari popularitas dengan isu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat," katanya.

Tokoh muda Komite Paralihan Aceh (KPA) tersebut meminta kepada Adi Maros, agar tidak mencari-cari sensasi di balik kondisi eks komantan GAM untuk mendongkrak popularitas dengan mengatas-namakan sebuah lemabaga.

M Jhony berharap, agar setiap instansi dan organisasi publik seperti LSM untuk lebih peka dengan kondisi daerah saat ini, seperti mengamati kehidupan yatim piatu korban konflik.

Sejauh ini, katanya, hanya KPA yang masih memperhatikan kondisi kehidupan anak-anak yatim korban konflik.

“Jika LSM AHF peduli, maka upayakan kepeduliannya terhadap sejumlah yatim korban konflik Aceh. Selama ini kita tidak melihat adanya pihak yang bersangkutan ikut peduli, selain mencari popularitas di balik isu yang berkembang,” tukas M. Jhony.

Membantu anak yatim, menurut M. Jhony, harus dilakukan oleh semua pihak di Aceh.

“Apakah kita harus menunggu anak-anak itu muncul dengan ideologi-ideologi sebagai pemberontak yang baru, semenatara yang kita tau, mereka butuh diperhatikan?” katanya.

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh dua pimpinan KPA, Sagoe Raja Sabi Otman alias Ayah Ot dan pimpinan Sagoe Kuta Piadah Ridwan alias Leo, selaku tim ekonomi KPA Sagoe setempat.

Menurut mereka, selama ini ribuan mantan kombatan GAM berada di bawah garis kemiskinan, namun begitu, mereka tetap juga komit merawat perdamaian hingga saat ini.

Karena itulah, katanya, KPA juga membutuhkan anggaran mencapai miliyaran rupiah per tahunnya. "Guna memberikan santunan bagi kaum dhuafa, yatim piatu juga eks kombatan setiap menjelang hari sakral seperti meugang."

Sebelumnya diberitakan, keluarga besar KPA Wilayah Pasee membantah isu yang beredar terkait pemangkasan dana desa yang dilakukan oleh KPA terhadap 47 desa di Kecamatan Jambo Aye, Aceh Utara. Dari masing-masing desa itu KPA diduga mengambil uang sebesar Rp 2 juta - Rp 3 juta.

Sementara dalam klarifikasinya KPA menyampaikan uang tersebut adalah dana dalam bentuk sumbangan dari sejumlah desa yang diberikan secara sukarela.

"Hal tersebut dilaksanakan secara bermusyarawah bukan dengan kekerasan atau dalam bentuk intimidasi atau sejenisnya,” ujar Ridwan alias Leo, tim ekonomi Komite Peralihan Aceh (KPA) Sagoe Kuta Piadah.

| EFENDY NOERDIN

Komentar

Loading...