Kopi Gayo Memang Turun Kasta, Itu Fakta!

Kopi Gayo Memang Turun Kasta, Itu Fakta!
Direktur Eksekutif Ramung Institute, Waladan Yoga. Foto: AJNN/Fauzi Cut Syam.

(Ceramah singkat untuk yang kebasahan jenggot. Jangan pakai standar dukun)

Oleh: Waladan Yoga

Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Aceh, Armia Ahmad beberapa waktu lalu menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi Kopi Gayo saat ini, Hal yang disampaikan Armia adalah sulitnya Kopi Gayo menembus pasar Eropa. 

Setelah diuji laboratorium, ternyata Kopi Gayo mengandung Zat Glifosat (Glyphosate) melewati ambang batas, setahu saya, Eropa menerapkan MRL (Maximum Residue Levels) atau tingkat residu maksimum pestisida/Glifosat dalam green bean Kopi sebesar 0,1 mg/kg. 

Tentu dalam melakukan ekspor Kopi ke Eropa banyak prasayarat yang harus dipenuhi, salah satunya memenuhi ketentuan European Food Safety Authority (EFSA). Untuk itu, tidak ada tawar menawar jika ditemukan adanya zat Gliposat diatas 0,1 mg/kg maka Kopi Gayo tidak dapat masuk ke pasar Eropa. 

Amerika Serikat justru sebaliknya, negara ini tidak menggangap kandungan Zat Gliposat berbahaya untuk kesehatan manusia. 

Soal penolakan Kopi Gayo di pasar eropa, hal ini sudah lama terjadi dan baru disampaikan saat ini, tentu banyak pertimbangan kenapa baru disampaikan saat ini, salah satu alasannya mungkin kandungan Zat Glifosat semakin tinggi persentasenya dalam kandung Kopi Gayo. 

Setelah berdiskusi dengan banyak pihak, rupanya salah satu penyumbang adanya Zat Glifosat dalam Kopi Gayo, karena hobby kita sendiri yang kepingin instan. Hobby instan itu misalnya melakukan penyemprotan rerumputan yang ada di sekitar tanaman Kopi Gayo, bahkan dengan obat-obatan yang  mengandung zat kimia berbahaya.

Salah satu syarat organik adalah tidak melakukan penyemprotan Kopi Gayo, pertanyaannya kemudian adakah Kopi Gayo yang tidak disemprot dengan bahan kimia? Jawabannya untuk saat ini tentu ada. Sebagian Koperasi Kopi sudah lakukan pembinaan yang sangat serius kepada anggotanya dengan melatih merawat kopi dengan cara "Mulelang".

Mulelang adalah budaya Petani Kopi Gayo zaman dulu, Petani Kopi zaman dulu melakukan perawatan tanaman kopi dengan cara manual, menggunakan cangkul, parang dan lain sebagainya. Cara ini tentu tidak instan dan juga sangat melelahkan. 

Jika cara ini berhasil, maka akan ada cara alami untuk menekan kandungan Zat Glifosat dalam kandungan Kopi Gayo, dan akan menjadi satu-satu caranya untuk menembus pasar Eropa. 

Mau Kopi Gayo menjadi yang terbaik lagi, maka kita harus mau kembali dengan cara-cara tradisional. Boleh menggunakan alat modern tapi pastikan tidak merusak originalitas (Keaslian) Kopi Gayo. 

Saya tidak bisa bayangkan jika Amerika Serikat juga akan mengikuti langkah yang sama seperti Eropa, tamat sudah kejayaan Kopi Gayo. Amerika Serikat sampai sejauh ini belum mengikuti langkah Uni Eropa. 

Saya juga ingin menyampaikan sebuah kejadian menarik saat dilakukannya Diskusi Masa Depan Kopi Gayo di Tengah Pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu.

Saat itu kegiatan tersebut dilaksanakan di aula Pendopo Wakil Gubernur Aceh yang difasilitasi oleh Wakil Ketua DPRA Hendra Budian. Bapak Armia menjawab paparan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, yang saat itu bersikukuh bahwa Kopi Gayo aman dari ambang batas kandungan Zat Glifosat. 

Bapak Armia kemudian coba bertanya kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, perihal laboratorium yang digunakan untuk menguji kandungan Glifosat. "Mohon maaf, Laboratorium yang digunakan untuk menguji Glifosat menggunakan laboratorium mana?," tanya Bapak Armia untuk meyakinkan soal penggunaan laboratorium untuk pemeriksaan Kopi Gayo. 

Seketika itu langsung dijawab oleh pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh "Menggunakan laboratorium yang ada di Surabaya, Jawa Timur".

Bapak Armia kembali menjawab "Kami para eksportir Kopi Gayo dalam menguji kandungan Zat Glifosat menggunakan Laboratorium yang ada di Inggris, laboratorium disana dapat mendeteksi kandungan Zat Gliposat sampai 0.001 mg," kata bapak Armia menimpali jawaban Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh. 

Seketika ruangan hening sesaat. Bahwa kemudian soal uji kandung sejumlah zat Pestisida/Glifosat para eksportir Kopi Gayo sudah melangkah jauh kedepan, karena mutu yang harus dipenuhi adalah mutu dan standar internasional, ada prasyarat yang sangat ketat. 

Para eksportir dan Koperasi Kopi Gayo juga sudah mengusulkan kepada Pemerintah Aceh untuk membeli peralatan laboratorium khusus Kopi yang modern dan berkelanjutan. Memang harganya tidak murah, tapi jika mau menyelamatkan kualitas Kopi Gayo, maka laboratorium yang hebat juga harus dihadirkan. 

Pertanyaannya kemudian apakah dengan pernyataan Bapak Armia, soal Kopi Gayo akan membuat citra Kopi Gayo rusak?

Katakanlah yang benar walaupun itu pahit, tidak perlu juga kita tutupi apa yang sebenarnya terjadi, para eksportir Kopi Gayo adalah pihak yang langsung bersentuhan dengan pasar Eropa, jadi mereka tahu kejadian yang sudah lama ini.

Bagi yang bersikukuh Kopi yang masih terbaik, dari mana kita tahu Kopi Gayo masih yang terbaik? Melakukan Ekspor tidak, uji laboratorium juga tidak, jadi apa standar terbaik itu? Jangan gunakan standar dukun. 

Bahwa kemudian faktanya Kopi Gayo untuk saat ini tidak lagi memenuhi syarat untuk masuk ke pasar Eropa, walaupun persentase pangsa pasar Kopi Gayo di Eropa relatif kecil jika di bandingkan dengan Amerika, bukan tidak mungkin Amerika juga akan mengambil langkah yang sama. 

Mau Kopi Gayo kembali hebat? Mari kembali ke cara nenek moyang kita dalam melakukan pengolahan Kopi.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Ramung Institute.

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini