Unduh Aplikasi

Konektivitas Merupakan Kunci Pembangunan Ekonomi

Konektivitas Merupakan Kunci Pembangunan Ekonomi
Jembatan Enang Enang selesai dibuat tahun 1911. Foto: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/imagecollection-kitlv

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh akan melanjutkan pembangunan infrastruktur 11 ruas jalan prioritas. Pembangunan 11 ruas jalan tersebut telah direncanakan dan dimulai pembangunannya, sejak masa pemerintahan Gubernur Aceh, Ibrahim Hasan, dengan program jalan terobosan.

Kemudian dilanjutkan Gubernur Aceh, dibawah kepemimpinan Syamsudin Mahmud, yang terkenal dengan sebutan jaring laba-laba. Setelah itu, saat menjabat Gubernur, Abdullah Puteh juga kembali melanjutkan program pendahulunya itu, dengan nama proyek Ladia Galaska.

Sejak mendapat kucuran dana Otonomi Khusus (Otsus) pada 2008, penanganan terhadap 11 ruas jalan tersebut juga dilakukan. Namun, anggaran yang dialokasikan belum maksimal.

Hal ini kemudian, menjadi landasan antara legislatif dan eksekutif  di Aceh, membuat kesepakatan dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,47 triliun, guna melanjutkan pembangunan 11 ruas jalan dimaksud, menggunakan sistem kontrak tahun jamak atau multiyears (MYC).

Dalam sebuah wawancara, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh, Fajri, mengatakan lanjutan pembangunan 11 ruas jalan tersebut, akan dimulai pada 2020 serta diproyeksikan selesai pada 2022.

Menurut Fajri, dalam rangka mencapai target pembangunan infrastruktur jalan sebagaimana tertuang dalam RPJM, serta mengoptimalkan penggunaan dana Otsus. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, juga memiliki keinginan yang sama terkait penanganan 11 ruas jalan tersebut.

Sebab, sambungnya, Pemerintah Aceh, saat ini menyadari betul bahwa penuntasan 11 ruas jalan itu sebuah kebutuhan, karena akan memberikan pengaruh dan dampak signifikan terhadap aksesibilitas, mobilitas dan produktivitas masyarakat.

“Pak Nova ingin, di periode akhir pemerintahan beliau, ke-11 ruas jalan ini tuntas, sebagai wujud pemerataan pembangunan diseluruh Aceh,” ungkap Fajri saat itu.

Sejalan dengan Program Presiden Joko Widodo

Program ini sejalan dengan apa yang saat ini, sedang dipacu Pemerintahan Presiden Joko Widodo, terkait percepatan pembangunan di bidang infrastruktur.

Sebagaimana diutarakan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, peningkatan aksesibilitas serta konektivitas jaringan infrastruktur jalan untuk memberikan kelancaran, keselamatan, keamanan, juga kenyamanan perjalanan pengendara.

“Akses jalan yang semakin baik akan menunjang perekonomian masyarakat di kawasan sekitar,” kata Menteri Basuki.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto mengatakan, setiap tahunnya Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) I Banda Aceh rutin mengalokasikan anggaran untuk preservasi jalan sebagai upaya menjaga kondisi jalan tetap dalam keadaan mantap.

"Berdasarkan survei kondisi jalan pada akhir 2019 lalu, 96,25 persen jalan nasional di Provinsi Aceh dalam keadaan mantap dari total panjang 2.102 km," tuturnya.

Pembangunan Ekonomi Era Belanda melalui Pembukaan Akses Jalan Baru

Selain itu, pembangunan akses jalan dalam meningkatkan ekonomi juga sudah dilakukan sejak era Belanda. Salah satunya, pembangunan jembatan di kawasan Enang-enang, Pintu Rimo Gayo, Bener Meriah, yang juga masuk kedalam 11 ruas jalan prioritas.

Pengamat Sejarah Gayo, Zulfikar Ahmad atau akrab disapa Aman Dio menjelaskan bahwa sebelum pembangunan Jalan Takengon - Bireuen (Jalan Gayo), jalur akses transportasi harus melalui Lokop Serbejadi menuju ke Perlak atau Tamiang. Lokop Serbejadi merupakan titik distribusi barang dan jasa ketika itu.

Jarak Lokop-Blang Keujeren lebih dekat dibanding Takengon-Lokop. Saat itu pertumbuhan ekonomi dan perkembangan daerah Lokop dan Gayo Lues jauh lebih maju dibanding Gayo Lut (Aceh Tengah/Bener Meriah).

Mengutip dari keterangan yang disampaikan Aman Dio dihalaman Facebooknya, setelah selesai pembangunan jalan Gayo, pada tahun 1914 pertumbuhan ekonomi Gayo Lut terus dipacu, industri terpenting didirikan, perkebunan kopi dan hortikultura berkembang, kampung2 baru bermunculan.

Banyak perubahan usai pembangunan jalan Gayo. Roda ekonomi mulai diputar, para pekerja dari luar Gayo didatangkan secara bertahap, industri terpenting didirikan, sarana trasportasi berubah dari tenaga manusia (tandu) ke kereta kuda dan terakhir mobil mulai digunakan untuk datang ke Gayo.

Perlahan-lahan kampung-kampung baru bermunculan satu persatu seiring dengan pertumbuhan ekonomi, bukan hanya sektor pertanian, sektor pariwisata pun dipacu. Danau Laut Tawar destinasi wisata andalan sejak Iebih dai 100 tahun. Lalu, sarana pendukung seperti telepon mulai beroperasi pada tahun 1930.

Komentar

Loading...