Unduh Aplikasi

Kondisi 'Pulau Susi' di Simulue

Kondisi 'Pulau Susi' di Simulue
Pulau sevelak 2
SIMEULUE-Pulau Sevelak yang dikenal banyak warga Simeulue dengan nama Pulau Susi itu terletak di perairan Kecamatan Teupah Barat. Pulau itu bisa dijangkau dari beberapa desa setempat, terutama Desa Salur yang merupakan desa terdekat. Dari desa itu hanya butuh waktu 20 menit ke pulau Susi tadi jika menggunakan perahu bertenaga mesin robin.

Pulau yang diperkirakan seluas 3 Ha itu dihuni lima pekerja di bawah naungan PT Asi Pujiastuti. Pulau itu dikelilingi batu karang dan di dalamnya sebagian ditumbuhi tumbuhan liar. Beberapa ratus meter telah dibersihkan semak belukarnya dan telah dibangun tujuh bangunan berbahan kayu. Bangunannya terdiri dari 1 bangunan rumah panggung berukuran 3 X 4 m dan 1 unit lagi rumah panggung berukuran 5 X 8 meter. Ke dua rumah panggung tadi berdampingan dan dikabarkan sebagai tempat istirahat Susi ketika berkunjung ke pulau itu.

Dibelakang rumah panggung tersebut berjarak 4 meter terdapat dua ruang kamar mandi. Di sisi kiri terdapat rumah tempat tinggal pekerja dan tempat mesin generator listrik. Sedangkan di sisi kanan terdapat bangunan pondasi yang belum selesai dibangun berukuran 5 X 5 m yang disebut-sebut bangunan pendaratan helikopter. Untuk bersantai dan menikmati keindahan batu karang dan ombak laut juga terdapat bangunan berbentuk pentas yang menghadap ke laut yang ukurannya diperkirakan 10 x 10 m.

Sabtu pekan lalu itu, tidak banyak aktivitas yang dilakukan ke lima pekerja pulau Susi tersebut. Budi daya ikan yang disebut-sebut bagian dari usaha Susi di pulau itu nyaris tidak terlihat. Kerambah tempat penangkaran yang biasanya digunakan peternak budi daya ikan tidak ditemui di pulau itu.

Saat ditanya media ini, para pekerja mengaku hanya berkewajiban menjaga dan mengawasi pulau. Para pekerja juga sering bolak balik ke desa terdekat, terutama menemui sanak keluarga. Sebab, ke lima pekerja itu merupakan warga yang berasal dari desa terdekat. Berbeda kondisi beberapa tahun sebelumnya, pekerja di pulau Susi itu ada yang berasal dari Pangandaran tanah Jawa.

Penanggung jawab pengelola pulau Susi, Aidirman Badai warga Desa Awel Kecil membenarkan saat itu tidak ada aktivitas di pulau tersebut. Dirinya menyebutkan aktivitas yang sering dilakonkan adalah membeli udang lobster dari nelayan setempat.

“Lobster yang dibeli akan dikirimkan ke kerambah Ibu Susi yang berada di Desa Sambay. Jika lobster yang dibeli teradapat masih bertelur dan bobotnya di bawah 2,5 ons akan di lepas di perairan laut pulau,” ujar Badai.

Lobster yang dilepas ke perairan di seputar pulau tadi bertujuan untuk pengembangbiakan lobster. Badai menyebutkan perairan yang berada di seputar pulau itu selama ini dijadikan tempat penangkaran lobster.

“Tahun sebelumnya, Ibu Susi pernah melepaskan lobster sebanyak 700 kg untuk dikembangkan di perairan pulau ini. Lobster yang dilepas adalah lobster yang sedang bertelur dan lobster yang masih kecl dengan bobot di bawah 2.5 ons,” jelas Badai.

Namun, Badai menyayangkan lobster yang dikembangbiakan itu mulai punah akibat ulah yang nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan obat jenis potas. Bahkan, banyak lobster bertelur dan masih kecil ikut ditangkap nelayan.

Pengelola ini mengaku perusahaan Asi Pujiastuti tempatnya bekerja itu telah berupaya mengembangkan perekonomian masyarakat setempat dengan menyediakan fasilitas nelayan lengkap. 23 perahu berbahan fiber lengkap dengan alat tangkap telah disediakan perusahaan dengan harapan mau bekerja sama untuk menjual hasil tangkapan. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama sehingga puluhan perahu tadi tidak terpakai dan banyak yang rusak dimakan usia.

Hal itu dibenarkan Manager PT Asi Pujiastuti Rustam. Sejak menempati pulau tadi, Susi melalui perusahaannya berencana menjadikan pulau itu sebagai tempat percontohan budi daya ikan. Hal itu dibuktikan dengan adanya dua kerambah apung, masing-masingnya berukuran 2,5 m X 2,5 m. Kerambah itu berfungsi sebagai penangkaran lobster terutama lobster bertelur dan lobster ukurannya kecil.

“Tujuannya, untuk menyelamatkan dan mengembangkan lobster yang hampir punah. Karena banyak dari nelayan mengambil lobster dengan obat jenis potas sehingga banyak lobster yang bertelur dan ukuran kecil dijual,” Kata Rustam.

Namun, kerambah apung tersebut hanya bertahan 3 tahun dan rusak dihantam ombak. Sehingga perusahaan Susi membudidayakan lobster dengan cara melepaskan ke sekitar perairan pulau lobster yang bertelur.

Berbeda dengan keterangan Kuman. Nelayan yang sebelumnya pernah bekerja selama 8 bulan 2008 di pulau Susi itu mengaku heran tidak banyak pekerjaan hanya menjaga pulau dan memberi makan kucing. Upah yang diterimanya Rp 1.200.000 per bulan diakui hanya memberikan makan 10 ekor kucing.

“Saya tidak tahu apa maksudnya, kerjanya hanya jaga pulau. Dan yang jelas selama 8 bulan bekerja di sana hanya memberikan makan 10 ekor kucing. Nasi makanan kucingnya tidak sembarangan yakni beras ramos,” ucap Kuman.

SEPTIAN

Komentar

Loading...