Unduh Aplikasi

Kondisi Mahasiswa Aceh di Kota Wuhan Cina: Kami Terjebak

Kondisi Mahasiswa Aceh di Kota Wuhan Cina: Kami Terjebak
Ita Kurniawati. Foto: Ist

LHOKSEUMAWE – Ita Kurniawati, mahasiswa asal Nagan Raya yang saat ini menempuh pendidikan pasca sarjana di Kampus Wuhan University mengaku terjebak di kamar apartemen semenjak merebaknya virus corona di Kota Wuhan,Provinsi Hubei.

“Kami di sini tinggal di Wuchang, dimana jaraknya 18 kilometer dai Hankou, Distrik, dimana pertama kali virus corona ditemukan. Sementara mahasiswa Aceh yang masih terjebak di sini sebanyak 12 orang,” kata Ita kepada AJNN, Minggu (26/1).

Dikatakan Ita, sejak 24 Januari 2020 lalu, dirinya dan sejumlah mahasiswa Aceh lain hanya menetap di kamar apartemen saja. Pasalnya, tidak dibolehkan keluar jika tidak ada kepentingan yang mendesak.

Baca: Plt Gubernur Aceh: Tak Ada Masyarakat Aceh di Wuhan Terpapar Virus Corona

“Hari-hari dikamar dan dapur saja, itu-itu aja, karena kuliah juga sedang libur. Terakhir aktifitas belajar 15 Januari lalu. Rencana masuk kembali 16 Februari, karena maraknya virusnya ini diperpanjang hingga bulan Maret,” ujarnya.

Ita menambahkan, untuk menghindari virus tersebut, mereka memilih untuk tidak keluar kamar jika tidak perlu, wajib menggunakan masker, harus cuci tangan setelah memegang benda. Meskipun dianjurkan enam kali sehari.

“Kami juga sudah berhenti dulu untuk makan daging, udang dan cumi atau sejenis makanan laut lainnya,” jelasnya.

Sejak 23 Januari, kata Ita, Kota Wuhan sudah ditutup, sehingga kota menjadi sepi. Sementara mahasiswa Indonesia khususnya Aceh saat ini terjebak di tempat tinggal enggak bisa keluar.

“Padahal sengaja saya tidak pulang liburan ini, karena rencana mau liburan ke Sanghai pada 24 Januari kemarin bersama teman-teman, tiket dan penginapan semua sudah kami pesan. Namun setelah merebaknya virus itu, 23 Januari tiket kami dicancel semua,” tuturnya.

Sambung Ita, untuk kondisi kesehatan mereka baik-baik saja, anak Indonesia khususnya Aceh di sini belum ada terjangkit virus tersebut.

“Kalau secara psikologis sudah pasti trauma dan panik. Namun kepada semua keluarga dan kerabat di Aceh tidak perlu khawatir, doakan saja semoga ada jalan keluar,” ucapnya.

Komentar

Loading...