Unduh Aplikasi

Kita semua kapitalis?

Kita semua kapitalis?
Foto: Ist
Oleh : Bisma Yadhi Putra

Di sebuah pesta pernikahan:
M: Hai, udah gendut, ya, sekarang.
B: Iya. Udah ganti ideologi makanya gendut.
R: Sekarang dia jadi penentang demokrasi, makanya gendut.
M dan B: Ha-ha-ha.

Apa yang terjadi di atas? Sederhana, humor agar teman terhibur. B biasa melakukannya, sehingga wajar R menanggapinya dengan seloroh. Di situ, M dan R tidak mempermasalahkan perut B yang belakangan terlihat agak buncit. Tidak pula memandang sikap antidemokrasi sebagai kekeliruan apalagi berkorelasi positif dengan ukuran perut seseorang.

Namun sebagai bekas manusia kurus kering, B, yang sangat mengidolakan Vin Diesel itu, hanya merasa seperti terus-terusan dibuat salah dengan keadaannya. Kurus diejek, gemuk juga. Apalagi kalau pada punya gadget baru, malah kemudian disebut “kapitalis” oleh teman lainnya.

Dapat dimaklumi pelabelan itu hanya ejekan. Tidak serius. Kemampuan membeli produk teknologi terbaru dan ukuran besar tubuh tidak bisa dijadikan indikator untuk mengidentifikasi keberpihakan ideologis seseorang. Namun di dalam pemakaian istilah tersebut ada kerancuan yang perlu diulas, baik saat dipakai dalam konteks mengejek maupun sindiran serius.

Kerancuan itu

Mengapa orang yang menikmati hasil kerja dari pabrik-pabrik kapitalis dilabel “kapitalis”? Bagaimana caranya orang yang tidak berkapital melainkan hanya mengonsumsi kreasi dari penggunaan kapital lantas dicap sebagai pemilik kapital? Aneh. Logika sederhananya: tidak bermodal untuk keperluan (re)produksi tetapi disebut kapitalis. Ini jelas membingungkan.

Predikat “kapitalis” kini tak hanya mengacu pada pemilik modal semata, sebagaimana pengertian sebenarnya. Orang yang tak bermodal (berkapital), sejauh ia menikmati produk-produk dari perusahaan para kapitalis, disebut kapitalis pula.

Terjadi “perluasan” definisi. Inilah masalah yang kerap muncul dalam masyarakat yang tidak menjadikan pencarian atas keabsahan dari satu atau beberapa informasi (pengetahuan) sebagai budayanya. Bahkan di banyak kalangan lulusan perguruan tinggi, ini belum menjadi kebiasaan. Tidak ada jaminan ketika berhasil masuk dan lulus dari perguruan tinggi seseorang akan selesai dari masalah pelurusan konseptual.

Dalam sebuah diskusi, seorang lulusan perguruan tinggi berkomentar: “Kalau seks bebas merajalela, nanti Indonesia menjadi negara komunis”. Entah literatur apa yang dibaca sehingga komunisme dianggap mengharuskan seks bebas. Ini lucu. Terkadang seseorang mengucapkan sesuatu yang tidak dipahaminya sama sekali. Asal bicara.

Maka penting metode pendidikan kritis yang bertujuan agar setiap individu memahami segala sesuatu secara objektif. Disebabkan maraknya manipulasi pemikiran dan probabilitas kesalahan pengajar, maka setiap orang yang belajar harus sering curiga. Ini kemudian akan membangun kewaspadaan sebelum menyimpulkan sesuatu. Kita harus membiasakan diri mengecek ulang temuan-temuan untuk memperoleh kesahihan, sehingga kemudian tidak rancu menggunakan istilah atau konsep.

Di sini metodenya bukan mengumpulkan dan menjelaskan satu per satu ide-ide yang dipahami secara keliru. Dalam cara belajar seperti itu, keharusannya bukan semata menyebut dan menjelaskan mana yang bisa dimakan dan tidak, melainkan cara mengenali mana yang bisa dan tidak dimakan. Disertai ulasan mengenai akibat-akibat yang muncul dari derasnya akumulasi informasi/pengetahuan yang tidak diimbangi dengan kecepatan serta ketekunan mencari kebenaran. Kita sudah tahu pentingnya cara belajar begitu. Dan tak perlu takut terhadap apa yang kita mengerti.

Pelurusannya

Jika definisi “kapitalis” yang diperlebar di atas diterima, maka kita semua adalah kapitalis! Ah, yang benar saja. Masa orang yang memiliki Samsung S5 tetapi kesulitan mendapat makan malam; orang yang memiliki keluaran terbaru Apple tetapi pagi-siang-malam didatangi debt collector; atau orang yang belanja di Carrefour tetapi rekening listrik sering menunggak lantas kita sebut kapitalis? Di zaman ini, orang-orang merasa tak perlu menunggu tercukupi dulu kebutuhan primer dan sekundernya sebelum memenuhi aneka keperluan tersier. Maka jangan heran mereka yang menikmati beberapa barang mewah dari pengolahan kapital ternyata masih sulit memenuhi kebutuhan dasar untuk sekadar bertahan hidup.

Mereka bisa disebut korban kapitalisme kalau lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk memenuhi hasrat belanja. Sementara kapitalis bahagia karena menangguk keuntungan dari si korban yang merasa bahagia pula. Kapitalisme menghasilkan korban-korban, dan mereka semua bahagia menjadi korban. Karena masyarakat gila belanja, maka kapital semakin membengkak sehingga para kapitalis bisa terus hidup sebagaimana mereka biasa hidup: bermewah-mewah, menikmati surplus sumber daya, berfoya-foya, hingga menghasut dan membiayai perang.

Apakah ini kecenderungan untuk memperlebar makna “kapitalis” dari “pemilik kapital” menjadi “pemilik produk dari penggunaan kapital” atau hanya kegoblokan alias kerancuan umum dalam memahami sebuah istilah?

Ah, tampaknya yang terakhir itu. Sama halnya dalam kasus kekeliruan dalam memahami komunisme tadi. Namun kalau yang pertama disepakati, itu berarti kita semua, sebagaimana sebut Goenawan Mohamad (1986) “borjuasi ukuran kacang”. Istilah tersebut untuk menyebut “petani dengan sawah sepetak” yang “fokus hati mereka hanya pada laba yang sepele”. Atau orang-orang miskin di desa yang punya senter atau radio (hasil penggunaan kapital).

Maka ejekan yang tepat untuk B adalah tidak terlalu taatnya ia pada asas ideologinya, yang ditunjukkan oleh dua kegiatan kontradiktif: menjadi pendakwah antikapitalisme tetapi membeli dan menggunakan produk yang dihasilkan perusahaan kapitalis. Ada kelonggaran dalam berideologi.

Namun perlu dipahami, sejauh motif pembelian bukan didasari pada hasrat memperbarui diri dengan keluaran terbaru pasar, berarti B tidak bisa begitu saja disebut korban kapitalisme. Seorang kapitalis tentu tak bisa memiliki kebahagiaan berkelanjutan kalau konsumennya hanya menjadi pembeli satu versi produk saja dan tidak mewajibkan diri terus “memakan” keluaran terbaru; tak menjadi individu dengan nafsu belanja tanpa henti.

Sementara kapitalisme selalu berupaya menciptakan individu-individu seperti itu untuk membentuk “masyarakat pemakan” (masyarakat konsumtif). Dalam masyarakat tersebut, berlaku semangat kesementaraan: barang yang mampu dibeli hari ini dianggap sebagai sesuatu yang bersifat sementara saja dan wajib diganti ketika keluar versi terbaru.

Kalau hari ini Ibu Riska membeli tas dari kulit buaya tipe A, dia akan meninggalkan tas itu meski masih sangat layak dipakai, lalu menggantinya dengan keluaran terbaru, yakni tipe B yang telah diinovasi dengan campuran kulit landak. Kalau watak seperti ini tak dimiliki, maka B belum memenuhi syarat sebagai korban kapitalisme.

Penulis adalah Fasilitator Sekolah Demokrasi Aceh Utara
Kyriad Muraya Hotel Aceh

Komentar

Loading...