Unduh Aplikasi

Kisah Nek Safwan Tinggal di Gubuk Reot Pinggiran Kota Meulaboh

Kisah Nek Safwan Tinggal di Gubuk Reot Pinggiran Kota Meulaboh
Kondisi rumah Nek Safwan. Foto: AJNN/Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Satu unit gubuk reot berukuran 3 x 2 meter berdiri di bahu jalan yang masih berupa pengerasan pasir batu, di Desa Pasie Masjid, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat.

Rumah berbentuk panggung, dib awahnya terlihat tergenang air. Di belakang rumah penuh semak belukar yang ditumbuhi pohon sagu, orang Aceh menyebutnya pohon rumbia.

Pagi menunjukkan pukul 10.00 WIB, Jumat, (24/4). Hari itu merupakan hari pertama ibadah puasa Ramadhan 1441 Hijriyah. Cuaca terik lumayan menyengat pada pagi jelang siang itu.

Safwan, (60) duduk termenung di pintu depan rumahnya. Matanya seperti sedang menatap ke depan, namun tidak jelas apa yang ditatap oleh wanita berusia lanjut ini.

Dibalut kerudung merah jambu dengan corak bunga dan bintik serta sarung kotak-kotak pudar, nek Safwan terlihat melemparkan senyum menyambut kedatangan sejumlah awak media ke kediamannya itu.

Saat masuk ke dalam rumahnya, hanya terlihat kamar bersekat 1,5 x 2 meter tanpa pintu, terdapat satu kasur lusuh dibalut sprai berwarna hijau, serta dua bantal guling.

Cahaya matahari menorobos masuk melalui rongga dinding papan yang mulai keropos. Sedangkan dinding bagian kanan rumah terbuat dari pelepah rumbia.

Tidak ada perabotan mewah di rumah itu baik televisi, lemari apalagi sofa. Untuk memasak saja Nek Safwan masih memanfaatkan kayu bakar. Rumah panggungnya yang berukuran kecil itu juga tidak ada Water Closed (WC).

Nek Safwan, hanya tinggal bersama sang suami, sedangkan anak-anaknya sudah tidak lagi tinggal bersamanya lantaran sudah menikah. Kehidupan rumah tangga anaknya juga tidak jauh beda seperti nek Safwan.

Jika hujan deras tiba maka nek Safwan dan suami harus siap kedinginan lantaran atap rumahnya yang terbuat dari anyaman rumbia dalam kondisi bocor. Ingin nek Safwan rumahnya tersebut, namun apa daya ketiadaan uang membuat ia harus mengubur dalam-dalam niatnya itu.

Hawa sejuk akan sanga terasa pada malam hari jika hujan deras terjadi. Sebab selain atap rumahnya yang bocor, juga dindingnya yang bercelah membaut udara mudah masuk ke dalam sehingga menusuk pori-pori kulitnya.

Meski hidup serba keterbatasan, tidak terlihat ada wajah kesedihan di raut wajahnya, selain wajah polos yang ditunjukkan oleh istri dari M. Said, (70) ini.

Kepada awak media Nek Safwan mengaku dirinya tidak memperoleh bantuan apapun, kecuali bantuan beras sejahtera. Dan itupun ia terima baru satu kali beberapa bulan yang lalu.

“Kamis kemerin ada datang orang polisi, nggak kenal saya. Mereka kemari mengantar paket sembako berupa beras, minyak goreng dan mie instant,” ucap nek Safwan.

Safwan juga mengaku tidak mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) penanganan Coronavirus Disease (Covid 19).

Nek safwan tidak membutuhkan bantuan apapun saat ini, selain rumah layak huni. Lantaran jika berharap membangun sendiri sudah barang pasti ia tidak mampu apalagi suaminya hanya bekerja serabutan.

Sementara itu, Sekretaris Desa Pasie Masjid, Jusdi menyebutkan ada lima puluh Kepala Keluarga, yang belum mendapat bantuan layak Huni dan nek Safwan salah satunya.

Dikatakan Jusdi, sebenarnya Safwan sudah pernah mendapatkan bantuan rumah dari Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) pasca tsunami berlangsung.

Rumah yang diterima, Safwan tersebut merupakan rumah permanen. Namun karena rumah tersebut dihuni oleh beberapa anaknya yang telah menikah membuat Safwan memilih pindah dan membangun rumah di lokasi lain, yang juga masih di desa setempat.

 

Komentar

Loading...