Unduh Aplikasi

Kisah Nadiati, Penderita Thalasemia yang Terus Berjuang Hidup

Kisah Nadiati, Penderita Thalasemia yang Terus Berjuang Hidup
Nadiati, penderita Thalasemia dari Aceh Timur
Gadis kecil itu duduk di kursi yang berjejer di sepanjang lorong di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh. Tangannya masih diperban, sebuah jarum infus menancap pada kulit bocah itu.

Nadiati namanya. Ia tampak begitu pucat. Warna asli kulitnya yang kehitaman  terlihat menjadi agak kekuningan.

Ia terdiam, duduk sendiri memandangi film kartun yang sedang tayang pada televisi di sudut ruangan. Sekujur badannya tampak bengkak, dari wajah, bagian perut dan bagian punggung belakang.

Kata perawat yang menjaga ruangan, limpanya juga sudah membengkak. Namun gadis kecil itu sepertinya tidak mengerti mengenai penyakit berbahaya yang ia derita.

Thalassemia, itulah nama penyakit yang diam-diam memakan tubuh mungilnya. Thalasemia merupakan penyakit kelainan darah yang diturunkan oleh orang tua. Kerusakan sel darah merah pada penderita Thalasemia mengharuskan si penderita melakukan transfusi darah secara terus menerus sepanjang hidupnya.

Entah apa yang ada di pikiran Nadiati. Ia tampak begitu sabar dan tegar. Ia tak mengeluarkan sepatah katapun, meski ada beberapa relawan yang ikut menghiburnya saat itu. Ia hanya tersenyum, dan jika ditanya 'apakah merasakan sakit?' ia hanya  mengangukkan kepalanya.

Penderitaan Nadiati berawal sejak setahun yang lalu. Ketika awalnya ia hanya terserang penyakit batuk.

Dahlan, ayah kandung Nadiati bercerita, penyakit batuk yang awalnya hanya biasa saja kian hari semakin parah dan tak kunjung sembuh.

Bahkan penyakit batuk itu menjadi sangat menyiksa anak bungsunya itu. Ia pun hanya sanggup membawa putri ketiganya itu untuk berobat ke puskesmas tingkat kecamatan.

Namun batuk yang tak kunjung sembuh itu semakin hari semakin menampakkan perubahan pada Nadiati. Tetapi, apa daya Dahlan tidak mampu membawa putrinya untuk berobat ke rumah sakit.

Meskipun ada layanan BPJS Kesehatan secara gratis, namun Dahlan bahkan tak punya ongkos untuk membawa Nadiati. Dahlan juga tak punya uang untuk biaya makan selama menunggu anaknya dirawat. Itulah yang membuat Dahlan urung membawa putrinya berobat ke rumah sakit di kota.

“Setahun yang lalu sudah ada tanda-tanda, tetapi saya belum sanggup mengantar dia berobat. Saya tidak pegang uang sepeserpun,” ujar Dahlan, saat dijumpai AJNN, Minggu, 04 Oktober 2015 lalu.

Alhasil, Penyakit Nadiati yang ternyata Thalassemia baru diketahui setelah setahun lamanya ia sakit. Kini bahkan limpanya telah membengkak sehingga bocah itu lemas tak berdaya. -ada saat-saat tertentu bocah itu juga sulit bernafas dalam posisi duduk berbaring.

Nadiati berasal dari Kabupaten Aceh Timur. Dahlan, sang ayah, hanya bekerja mengandalkan tenaganya sebagai buruh dengan upah yang tak pasti. Kadang Dahlan mengupah tani, kadang menjadi buruh pemetik coklat di kebun milik warga. Bahkan ketika tenaganya sedang tak dibutuhkan, tak jarang Dahlan hanya berdiam diri di rumah.

“Saya tidak memiliki kerja, terkadang hanya sebagai pekerja upah saja yang seharian kadang makan saja harus dicukup-cukupkan,” lanjut Dahlan.

Kini Nadiati belum genap sepekan dirawat di rumah sakit. Tetapi, dengan izin Allah perlahan ia sudah tampak semakin membaik.

Ia benar-benar gadis kecil yang tabah. Terkadang ia duduk sendirian, ketika Dahlan pergi keluar rumah sakit untuk mencari obat atau darah dan keperluan lainnya.

Akibat tak punya cukup uang, Daniati hanya ditemani sang ayah. Sementara ibu kandung Nadiati, Hanifah tak ikut serta mengantar pengobatan Nadiati ke Banda Aceh.

Untuk ukuran umur Nadiati yang baru berusia 11 Tahun, Nadiati sangat berbeda dengan anak pada umumnya. Ia dapat begitu sabar dan tabah dengan penyakitnya. Bahkan ia tidak sedikitpun terlihat cengeng.

DARA HERSAVIRA

Komentar

Loading...