Unduh Aplikasi

Kisah Misran Tinggal di Gubuk Reot Yang Luput dari Perhatian Pemerintah

Kisah Misran Tinggal di Gubuk Reot Yang Luput dari Perhatian Pemerintah
Kondisi rumah Misran. Foto: AJNN/Darmansyah

ACEH BARAT- Pondok reot ukuran 2 x 2 meter berdiri tepat dipingggiran Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Mate, Desa Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat.

Bangunan panggung terbuat dengan kontruksi dinding pelepah rumbia, dan tiang-tiang penyangga. Tanpa sekat kamar dan listrik, apalagi perabotan rumah tangga.

Di lantai papan berukuran sempit tanpa kasur itu menjadi tempat tidur bagi Misran (34) dan istrinya Kemala Sari (30) beserta dua anaknya yang masih kecil-kecil yaitu Juanda (8) dan Putri Ramadani (5).

Meski tinggal di pondok kecil dan tanpa penerangan listrik, namun keluarga ini terlihat sangat mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini dibuktikan dengan tertempelnya selembar poster lambang burung garuda. Tidak hanya itu, tepat di tiang pagar menghadap ke sungai secarik bendera merah putih lusuh berukuran 30 centi meter tampak melambai ditiup angin.

Sedangkan dapur rumah dengan atap rumbia itu hanya seluas 1 x1 meter dan berlantai tanah. Rak piringnya pun berukuran mungil dan hanya muat beberapa piring dan gelas saja yang tertata diatas meja.

Untuk kamar mandi berjarak dua puluh meter dari rumah, tanpa sekat dinding dan hanya tertutup kain lusuh.

Untuk penerang rumah dimalam hari selama ini Misran hanya mengandalkan satu lampu teplok, sedangkan untuk alat memasak hanya mengandalkan kayu bakar berupa ranting-ranting kayu dari pohon-pohon di sekitar rumahnya.

Untuk menuju ke rumah Misran hanya bisa berjalan kaki, karena harus melalui jalan setapak lantaran berada di sekitar perkebunan sawit warga.

“Tanah ini milik orang, tapi saat kami minta untuk pakai kata dia pakai aja dulu. Karena itu kami dirikan rumah disini,” kata Misran, kepada wartawan, Rabu, (3/6).

Saat disambangi sejumlah awak media, Misran memang baru pulang kerang untuk dijual. Sebelum dijual biasanya dia membudidayakan dulu di keramba yang ia buat disungai di dekat rumahnya itu.

Misran mengaku dalam mencari kerang penghasilannya tidak menentu, terkadang mendapatkan Rp.50.000 per hari, terkadang dibawah itu.

“Kalau pekerjaan ya nelayan. Cari kerang kadang-kadang menjala udang di sungai untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk penghasilan kadang-kadang 50 ribu sehari kadang-kadang kurang,” ungkapnya.

Penghasilan yang diperolehnya itu, kata dia, selain memenuhi kebutuhan sehari-hari juga untuk kebutuhan jajan anaknya, aplagi saat ini keduanya sudah sekolah. Dimana yang sulung kini telah masuk kelas dua Sekolah dasar, sedangkan yang bungsu tahun ini mulai masuk Taman kanak-Kanank (TK).

Hidup dengan pendapatan tidak menentu, Misran sangat berharap adanya bantuan modal usaha dari Pemerintah untuk mengembangkan usaha budidaya kerang yang selama ini dilakukannya di tepian Sungai Mati dekat rumahnya itu, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Misran mengaku mendapat perhatian dari pemerintah desa berupa bantuan, namun bantuan biasa dan juga sempat mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa sebesar 600 ribu rupiah, sebagai dampak dari Coronavirus (Covid-19).

“Kalau yang lain ada dari Mifa seperti beras, minyak goreng,” kata dia.

Selama tiga tahun tinggal di rumah tidak layak huni itu, dirinya belum mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten. Bahkan usulan rumah tidak layak huni juga tidak pernah terdengar adanya tanda-tanda dari Pemkab setempat.

Tapi Misran mengaku, belum lama ini dari Pemerintah Desa memang mengusulkan rumah bantuan layak huni kepada PT. Mifa Bersaudara, namun hingga saat ini belum terealisasi.

Sektaris Desa Peunaga rayeuk, Edi Zunaidi, mengakui jika memang pihaknya telah mengusulkan bantuan rumah untuk Misran dan keluarganya. Bantuan tersebut diusulkan oleh Pemerintah Desa setempat kepada PT Mifa Bersaudara, yakni perusahaan tambang batubara yang beroperasi di Kabupaten Aceh Barat.

Rumah bagi Misran, kata Edi, diusulkan akhir Desember 2019 lalu. Namun, sayangnya dampak Covid-19 membuat perusahaan itu terpaksa menunda sementara pembangunan rumah yang rencananya akan dibangun tahun 2020 ini.

“Bantuan rumah ada. Baru-baru ini kita usulkan pada PT Mifa, Cuma keadaan disini Covid-19 belum ada pembahasankan,” kata Edi.

Dikatakannya, untuk bantuan rumah dari Kabupaten memang belum diusulkan oleh mereka lantaran pada saat itu Misran belum memiliki tanah, dan setelah memiliki tanah kata dia pihaknya pun mengusulkan ke PT Mifa Bersaudara.

Untuk tanah yang dimiliki oleh Misran, kata dia, merupakan tanah keluarga mereka yang telah dibagi dan tanah itu pun kini telah bersertifikat atas nama Misran sehingga pihak desa mengusulkan bantuan rumah pada PT Mifa.

Komentar

Loading...