Unduh Aplikasi

15 TAHUN ACEH DAMAI

Kisah Getir Korban Konflik Tragedi Simpang KKA

Kisah Getir Korban Konflik Tragedi Simpang KKA
Ibu Sa’dan Husen, korban konflik tragedi Simpang KKA. Foto: AJNN/Sarina

LHOKSEUMAWE - Sabtu, 15 Agustus 2020, tepat 15 tahun perdamaian Aceh. Namun sisa-sisa kenangan masa konflik Aceh masih teringat di pikiran masyarakat Aceh. Kejadian-kejadian masa konflik lalu tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Aceh.

“Aneuk lon meninggai di tembak (Anakku meninggal ditembak),” suara tangis seorang ibu berusia 58 tahun berinisial F itu pecah saat mengenang kisah getir yang terjadi pada 3 Mei 1999 di Simpang KKA, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

Tragedi yang merenggut 21 nyawa masyarakat Aceh yang tidak berdosa itu, menjadi trauma bagi korban yang saat ini masih hidup. Dimana mereka harus yatim kehilangan ayah, menjanda kehilangan suami, menduda kehilangan istri, bahkan nyawa buah hati mereka terenggut oleh peluru tajam ketika itu.

Kepada AJNN, F sambil mengusap air mata menggunakan tangan yang mulai keriput, ibu dari lima orang anak itu mulai mengisahkan tragedi pahit yang terjadi 21 tahun lalu. Sa’dan Husen, saat itu masih berusia tujuh tahun, harus menjadi korban tembakan brutal yang terjadi di Simpang KKA, Aceh Utara.

Mak, jak tajak woe, lon neuk jak sikula (mamak ayo kita pulang, saya mau sekolah), itu kalimat yang diutarakan anak saya ketika kami berada di tengah kerumunan massa di Simpang KKA,” kata F, Kamis (13/8) lalu.

F masih teringat kalimat terakhir anaknya sebelum meninggal dunia, dimana anaknya itu meminta untuk membuka bajunya karena mau cuci kepala akibat kepanasan.

Mak Neu buka baje lon, neu rah ule, kop suum lon (Mamak buka baju saya, mau siram kepala, panas kali saya),” itu menjadi kalimat terakhir putra bungsunya, sebelum tembakan brutal terjadi dan menewakan puluhan jiwa tersebut.

“Anak saya minta pulang mau sekolah, saat itu dia sekolah di SDN 5 Dewantara, dan masih kelas satu. Tapi saya bilang, orang-orang lain enggak kasih pulang, karena enggak tahu akan ada kejadian apa,” ujarnya.

Saat itu, F mengaku sedang jualan gorengan di Simpang KKA, namun ada yang berteriak agar meminta untuk berkumpul di jalan menuju ke Nisam, lalu dia menggendong anaknya karena tidak memakai alas kaki lalu pergi ke sana.

“Yang membuat saya sedih, saat dia ajak pulang tapi saya tidak mau pulang, kemudian setelah saya buka baju dan cuci kepala dia menggunakan air keran, tembakan langsung terjadi, saya jatuh pingsan dan berpisah dengan anak saya,” kisahnya dengan terus menyapu air mata.

Peristiwa itu menjadi pertemuan terakhir F dengan putra bungsunya, yang kala itu menggunakan baju putih dan celana biru pendek, saat dia terbangun, Sa’dan Husen sudah menjadi mayat dan sudah dibawa ke rumah sakit.

“Ketika saya sadar, tiga kali saya teriak memanggil nama Sa’dan, dan saya mencoba bangun untuk mencari putra saya, namun saya dilarang oleh teman-teman, karena kondisi belum aman, “Menyoe aneuk droneuh mantong na umu pasti di woe u rumoh lom (kalau anakmu masih hidup pasti dia akan pulang ke rumah),” ujarnya.

Terisak-isak, F kembali melanjutkan kisahnya, ketika kondisi sudah aman, dirinya diajak oleh warga untuk ke rumah sakit, setibanya disana, banyak mayat yang sudah ditutupi kain, salah satu diantara mereka merupakan putra bungsunya.

“Tangisan saya langsung pecah, dan saya pingsan ketika melihat jenazah anak saya kala itu, kemudian kami membawa pulang jenazah itu ke rumah adik saya. Karena rumah sewa saya kala itu di Gampong Bangka dekat rel kereta api tidak bagus,” ungkapnya.

Sambung wanita paruh baya itu, saat itu dirinya sudah berpisah (cerai) dengan suaminya Razali Yusuf, dan ayahnya pun meninggal dunia ditahun 2000 silam.

“Anak saya dibunuh dengan alasan itu anggota GAM, bagaimana bisa anak-anak umur 7 tahun menjadi anggota itu, bahkan dia (anak) sama sekali tidak tahu soal itu. Sampai saat ini jika saya ingat kalimat yang kala itu saya dengar dan menuduh anak saya, hati saya sakit. Meskipun saya tidak dendam,” tuturnya.

Akibat rasa rindu dan trauma yang dirasakan F, kini dirinya mengalami sakit infeksi jantung dan harus rutin berobat, meskipun dengan biaya seadanya dan bantuan dari anak-anaknya lain yang masih hidup.

“Kondisi saya sekarang sakit-sakitan, untuk biaya hidup saya memutuskan untuk berjualan gorengan, mie caluk dan air sirup untuk anak-anak di sekitaran rumah. Sementara uang yang saya dapat hanya Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per hari,” ceritanya.

Murthala korban konflik tragedy Simpang KKA. Foto: AJNN/Sarina

Hingga saat ini, F mengaku masih menyimpan pakaian terakhir yang digunakan oleh anak bungsunya itu. Kondisi seragam sekolahnya yang dipenuhi darah masih tersimpan rapi di rumahnya. Dan, pakaian itu tidak pernah diberikan kepada orang lain meskipun banyak yang meminta bahkan membelinya.

“Itu menjadi kenangan anak saya, bahkan saya sempat trauma jika melihat aparat, sepatunya saja saya lihat rasa takut itu membara. Namun, Alhamdulillah, trauma itu hilang pelan-pelan. Tapi saya tidak bisa melihat Simpang KKA, ketika saya lewati itu selalu beristigfar bahkan menangis,” imbuhnya.

Tidak besar harapan F, dirinya hanya memohon bantuan dan kepedulian saja dari pemerintah, atas kejadian yang dirasakannya selama ini. Trauma, hingga sakit menjadi beban yang harus dipikulnya.

“Pernah mendapat bantuan dari BRA sekitar tahun 2000 atau setelah setahun penembakan anak saya, Rp 2 juta sebanyak tiga kali, namun setelah itu tidak ada bantuan apapun lagi hingga sekarang,” cetusnya dengan penuh rasa rindu terhadap anak bungsunya itu.

Hal senada juga disampaikan oleh korban konflik lainnya, Murthala, dimana dia harus kehilangan abang kandungnya, M Nasir bin Buket saat tragedi Simpang KKA, dan M Jamaluddin yang menjadi korban DOM saat penangkapan di Kamp Rancong.

“Abang saya (Jamaluddin) saat DOM, sempat tidak ada kabar sembilan hari, dan kemudian ditemukan sudah meninggal dunia. Sementara M Nasir Buket, menjadi korban tembakan brutal di Simpang KKA ketika pulang dari pembuatan batu bata, saat itu terjebak dan tidak bisa lagi pulang ke rumah di daerah itu,” jelasnya.

Sementara, dirinya sendiri menjadi korban penganiayaan, dipukul, ditendang hingga mengelami cacat dibagian punggung serta pembengkakan di tangannya.

“Saya sempat koma selama tiga hari di Rumah Sakit PIM. Ketika itu saya minta izin dari perusahaan untuk pulang ke rumah karena ada acara turun tanah anak yang baru berusia 55 hari, saya rencana mau belanja, karena ada perkumpulan ramai-ramai tidak jadi, lalu kembalilah saya ke rumah,” ungkapnya.

Namun, setibanya di rumah, masyarakat makin ramai di arah KKA, dirinya meutuskan ke sana, dan tak lama kemudian terjadi kontak tembak, sehingga dia dipukul sampai tak sadarkan diri. Bahkan aparat menganggapnya sudah meninggal dunia.

“Saya dipukul dan ditendang, hingga dilempar ke truk, namun saya terjatuh, kemudian merangkak untuk menyelamatkan diri dari peluru nyasar, akan tetapi saya kembali dipukul didada, kalimat terakhir yang saya dengar, bahwa mereka berhenti memukul karena saya sudah mati mereka pikir,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Murthala, yang juga Ketua Forum Komunikasi Korban dan Keluarga Korban Tragedi Simpang KKA mengatakan, kasus tragedi Simpang KKA sudah di BAP di Komnas HAM, bahkan rekomendasi sudah sampai di Kejaksaan Agung pada tahun 2016.

“Tapi, sudah empat tahun belum ada pemberitahuan apapun dari Kejagung, keinginan dan harapan kami belum terjawab, apa perlu menunggu korban yang di BAP meninggal dunia semua, hingga tidak ada lagi yang menuntut baru terjawab?” tanya Murthala.

Murthala juga mengaku ketika mendengar isu bahwa ada touring dalam rangka memperingati hari Damai Aceh motor gede (Moge), selaku korban dirinya merasa sakit hati. Kenapa anggaran itu tidak diperuntukkan kepada anak yatim yang menjadi korban konflik, atau korban-korban konflik lainnya.

“Menjelang 15 tahun perdamaian Aceh, korban konflik belum ada keadilan. Kami memang menyambut baik perdamaian Aceh ini. Namun harusnya kondisi korban, psikis, ekonomi dan bahkan masih ada korban yang jalani perawatan serta tersimpan peluru hingga kini, harusnya itu lebih dipeduli dan diutamakan,” jelasnya.

Menurutnya, harusnya anggaran yang diperuntukkan untuk kegiatan tour damai Aceh itu bisa dibangun Home Memorial, atau tugu. Karena Pemerintah Aceh Utara sudah mewacanakan hal itu pada tahun 2018 dan disampaikan oleh Wakil Bupati Fauzi Yusuf.

“Karena enggak ada lahan, maka itu belum sempat terealisasi, kenapa anggaran itu tidak digunakan membeli lahan saja, atau santuni anak yatim, atau memberi modal usaha kepada korban konfilik lainnya,” imbuhnya.

Komentar

Loading...