Unduh Aplikasi

MENGENANG 15 TAHUN TSUNAMI

Kisah Azwar, Kehilangan Anak dan Kesembuhan Lumpuh Sang Ibu saat Diterjang Ombak

Kisah Azwar, Kehilangan Anak dan Kesembuhan Lumpuh Sang Ibu saat Diterjang Ombak
Azwar. Foto: AJNN/Salman

PIDIE - Kabupaten Pidie termasuk salah satu daerah di Aceh yang dilanda peristiwa gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Selain menelan korban jiwa, bencana dahsyat itu juga memporak-porandakan rumah warga.

Azwar (44) masih mengingat musibah tsunami yang melanda tanah kelahirannya Gampong Pasi Lhok, Kecamatan Kembang Tanjong yang telah merenggut nyawa anak pertama satu-satunya bernama Sultan (Alm).

Pria paruh baya itu menceritakan, pada pagi Minggu itu, saat hentakan gempa sangat dahsyat ia sedang berada tempat budidaya pembenihan udang miliknya yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Tak lama kemudian ia bergegas pulang ke rumah, untuk melihat kondisi keluarganya. Saat itu istrinya bernama Yusliana membawa keluar putra pertamanya Sultan (Alm) masih berumur empat tahun. Sementara ia sendiri memopong orang tua perempuan bernama Badriah yang menderita lumpuh.

"Ibu saya tidak bisa lagi menggerakkan badannya sejak tiga bulan sebelum kejadian bencana tsunami," cerita Azwar mengenang musibah gempa dan tsunami 15 tahun silam kepada AJNN, Kamis (26/12).

Di bibir pantai yang tak jauh dari rumahnya, pria paruh baya itu melanjutkan cerita detik-detik terjadinya bencana tsunami. Usai gempa ia pergi ke Gampong Pasi Lancang yang bersebalahan dengan gampongnya karena mendapat kabar ada beberapa rumah warga ambruk akibat gempa.

Tidak lama kemudian, ia mendengar teriakan warga "air laut naik" kemudian melihat ombak setinggi pohon kelapa menghantam wilayah pesisir pantai. Warga berusaha menyelamatkan sedangkan ia kembali ke rumah untuk menyelamatkan keluarganya.

Nahas, saat memasuki lorong rumahnya ia malah terseret arus ombak hingga ke tambak ikan. Meski hanya mengalami luka-luka ia dan beberapa pria paru baya lainnya saat itu berupa mengevakuasi beberapa warga Pasi Lhok saat gelombang pertama tsunami menyapu desa itu.

Hampir sekitar 70 orang tua dan anak-anak dinaikkan ke atas batang pohon yang mengapung.

"Pada saat ombak pertama menghantam kemukaiman, warga masih sempat menyelamatkan diri. Namun pada saat ombak kedua, banyak warga terseret arus. Saat itu saya tidak mengetahui lagi bagaimana nasib istri, anak dan orang tua saya," kata Azwar.

Alangkah sedihnya hati Azwar kala itu, begitu mengetahui putra kesayangan satu-satunya meninggal dunia terbawa arus tsunami yang ditemukan di bawah puing-puing, berjarak 100 meter dari lokasi rumahnya.

“Saat diterjang tsunami, istri saya meyelamatkan diri sambil membawa anak kami, namun karena ombak begitu dahsyat, anak kami terlepas dari tangan ibunya," kenang Azwar dengan raut muka sedih.

Azwar yang kala itu masih berusia 29 tahun melanjutkan kisah yang dialaminya, orang tua perempuan yang sempat dibopongnya pada saat gempa kembali bisa berjalan tiba-tiba, sembuh pada saat datangnya ombak tsunami. Ibunya berlari hingga 1 kilo meter untul meyelamatkan diri dari terjangan ombak.

“Semua ada hikmahnya juga, meski sedih karena kehilangan putra kami, namun Alhamdulilah ibu saya kini sudah sembuh total dan sudah dapat berjalan lagi," cerita Azwar di atas sebuah perahu dibibir pantai.

Musibah tsunami 2004 lalu, sekitar 70 warga Gampong Pasi lhok kehilangan nyawanya. Sedangkan untuk seluruh Kecamatan Kembang Tanjong sekitar 638 orang meninggal dunia.

IKLAN HPI
Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...