Unduh Aplikasi

WAWANCARA KHUSUS

Hendra Budian: Setelah Dipilih, Tugas Saya Memastikan Pembangunan di Dapil

Hendra Budian: Setelah Dipilih, Tugas Saya Memastikan Pembangunan di Dapil
Wakil Ketua DPRA, Hendra Budian. Foto: Ist

BANDA ACEH - Tepat 15 Oktober tahun lalu, Hendra Budian resmi dilantik sebagai Wakil Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) periode 2019-2024. Selama menjadi wakil rakyat, mantan aktivis ini kerap berbeda pandangan dengan koleganya di gedung dewan. Salah satunya, Hendra mendukung penuh program pembangunan 14 ruas jalan dengan skema tahun jamak, padahal Partai Golkar justru menolak program itu dengan mendukung pembatalan MoU proyek multiyear tersebut.

 Lantas bagaimana sepak terjang Hendra Budian selama setahun mengemban amanah sebagai wakil rakyat, berikut wawancara khusus AJNN dengan Hendra Budian: 

30 September kemarin tepat 1 tahun DPRA periode 2019-2024 dilantik, bagaimana pandangan anda melihat dinamika politik antara eksekutif dan legislatif baik secara personal maupun kelembagaan?

Secara personal maupun kelembagaan, saya melihat ada komunikasi politik yang tersumbat Antara Kedua institusi ini, apapun alasannya, itu tetap tidak baik bagi proses pembangunan Aceh kedepan, semoga ditahun kedua ini Sudah ada formula baru dalam hal komunikasi politik antar kedua lembaga ini.

Di beberapa keputusan politik, kami melihat anda berbeda sikap dengan kawan-kawan anggota DPR lainnya, bahkan sikap fraksi partai golkar, seperti persoalan Proyek Multiyears, dan penggunaan hak Interpelasi, bisa anda jelaskan apa yang melatar- belakangi perbedaan sikap tersebut?

Pertama, saya harus melihat dan memperjuangkan aspirasi konstituen saya, yang memilih saya dan yang memilih Partai Golkar Pada kontestasi politik di Pemilu 2019 yang Lalu, program pembangunan yang masuk Dalam skema multiyears atau tahun Jamak itu memang agenda yang sangat dinanti-nantikan Oleh Masyarakat. Saya juga membaca bahwa dukungan publik terhadap pembangunan Jalan tersebut sangat tinggi, Jadi gak ada Pilihan lain bagi saya, selain membela kebijakan yang berpihak kepada keinginan Rakyat. Selebihnya, saya ini Kader Partai Golkar, saya didoktrin oleh visi dan misi Partai Golkar, yaitu berpihak pada pembangunan.

Jika melihat friksi politik yang terbentuk di tengah-tengah masyarakat efek dari konflik DPRA dan Gubernur, menurut anda apakah hal tersebut ada hubungannya dengan pilkada Gubernur Aceh 2022?

Kemungkinan ke-arah itu bisa jadi ada, tapi menurut saya tidaklah tepat menjadikan agenda politik 2022 sebagai alasan untuk merusak komunikasi politik Hari ini, karena yang merasakan imbas negatif dari kisruh ini adalah  Rakyat, kan tidak baik.

Terkait dengan wacana pemekaran Provinsi ALA, kami melihat anda termasuk anggota DPRA dapil 4 (Bener Meriah dan Aceh Tengah) yang paling pertama memberi pernyataan dukungan, apakah itu sebatas "lips service" atau ada hal lain yang melatar belakangi hal tersebut?

Sekali Lagi, sebagai Wakil Rakyat saya tidak mungkin Malawan aspirasi Rakyat, yang harus saya lakukan adalah meng-akomodir serta memfasilitasinya, Sejauh itu tidak bertentangan dengan peraturan per-undang-undangan yg berlaku. Lagian, yang diminta masyarakat dapil saya itu kan Mekar bukan Makar, jadi gak Perlu juga terus direspon secara berlebihan, kita kan hidup di Negara yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip serta nilai demokrasi, menghargai dan menghormati pendapat orang lain. Jadi gak perlu juga sampai dinilai negatif terhadap agenda pembentukan provinsi ALA ini. Harusnya, kita (Elit provinsi) melakukan otokritik Kenapa Gagasan pembentukan Provinsi ALA ini tidak pernah padam? Berarti ada yang tidak tuntas Dalam penanganan sebelumnya.

Buntut dari banyaknya perbedaan sikap anda dengan partai, kami melihat rumor bahwa posisi anda sebagai pimpinan DPRA dipertaruhkan, bagaimana anda menyikapi hal tersebut?

Jabatan ini Amanah, saya hanya menjaga diri dan sikap saya untuk tidak menjatuhkan marwah Partai dimata pemilih (Rakyat) yang telah memberikan kepercayaannya pada kita di pemilu 2019 yang lalu. Sebagai kader partai, saya tidak boleh mengedepankan kepentingan pribadi atau golongan, tapi saya harus membela dan menjaga keberadaan Partai di tengah masyarakat pemilih.

Pada momentum satu tahun DPRA ini, kami melihat anda adalah salah satu anggota DPRA yang mempublikasikan program serta kerja-kerja anda sebagai anggota DPRA setahun ke belakang (sejak dilantik), bisa anda gambarkan kerja-kerja ke belakang, sedang berjalan, dan target anda sampai tahun 2024?

Dapil saya itu masih sangat tertinggal jika dilihat dari  sisi Pembangunan, masih banyak wilayah yang belum tersentuh oleh Pembangunan. Maka sebagai Anggota DPRA Dari Dapil itu, saya harus bekerja untuk membuka akses kebijakan pembangunan yang dibutuhkan oleh masyarakat di Dapil saya. Saya sadar, bahwa ini bukanlah pekerjaan ringan, tapi saya tidak memiliki banyak pilihan, maka Dari itu saya harus berjuang maksimal untuk mewujudkan itu.

Terakhir, apa harapan dan masukan anda untuk para pemangku kepentingan di Aceh untuk mewujudkan kemajuan Aceh di masa mendatang?

Aceh ini tidak bisa dibangun oleh super hero, Aceh hanya bisa dibangun dengan super team.. jadi, kunci untuk membangun daerah ini adalah dengan bersama-sama, bergandeng tangan dengan meletakkan Rakyat sebagai penerima manfaat utama, bukan Kelompok ataupun golongan. Sudah saatnya kita menyingkirkan perbedaan, Semua pihak harus melihat pembangunan Aceh Dari sisi dan persfektif yang sama. Apalagi menjelang berakhirnya Dana Otsus Aceh, Waktu kita sudah tidak banyak Lagi, maka Dari itu kita harus memanfaatkan sisa waktu ini dengan maksimal.

Komentar

Loading...