Unduh Aplikasi

Bogem Mentah di Wajah BP2A

Bogem Mentah di Wajah BP2A
Foto: Tommy
KASUS pemukulan petinggi Badan Penguatan Perdamaian Aceh, kemarin, bukan persoalan besar. Itu hanyalah sekelumit masalah yang membungkus proses perdamaian di Aceh. Sejak lama lembaga yang meneruskan peran Badan Reintegrasi Damai Aceh dalam melayani korban konflik ini dianggap tak lagi berpihak pada korban yang jumlahnya mencapai ribuan.

Dalam penyaluran dana bantuan rumah, misalnya, BP2A kerap berlaku tak adil. Penyaluran rumah untuk korban konflik sering “salah alamat”. Rumah-rumah itu lebih banyak dikuasai oleh mereka yang dekat dengan petinggi di lembaga itu. Sementara korban, yang benar-benar merasakan dampak konflik, malah tak menerima.

Ada banyak dana yang berseliweran di lembaga ini. Namun hanya sedikit manfaat yang diterima masyarakat korban. Meski terus berkurang, angka yang dikelola lembaga ini tak sedikit. Tahun lalu saja, BP2A mengelola dana sebesar Rp 50 miliar.

Alih-alih menjadi modal untuk memberdayakan korban konflik, dana ini malah menguap bersama program yang dibuat, seolah-olah, untuk memberdayakan korban konflik. Dalam kenyataannya banyak oknum pengurus yang bersikap bak calo dengan menyunat dana bantuan yang sangat dibutuhkan oleh korban konflik.

Satu dekade perdamaian Aceh berlalu, lembaga-lembaga yang dibentuk untuk membantu proses pemulihan korban konflik ini tak memiliki kapasitas dan blue print sebagai modal sekaligus panduan dalam memfasilitasi, melayani dan merehabilitasi para korban konflik agar dapat melupakan trauma dan menjalani hidup yang layak. Petinggi lembaga ini lebih banyak mengurusi diri sendiri ketimbang kepentingan lebih besar.

Dinas Sosial Aceh, selaku stakeholder, harus segera menindaklanjuti keluhan para bekas kombatan dan korban konflik di Aceh. Jawabannya adalah dengan membenahi sistem penyaluran dana bantuan dan mendudukkan sosok yang benar-benar mau bekerja untuk membangun kembali semangat para korban konflik di lembaga itu. Tanpa pembenahan sistem, akan lebih banyak lagi bekas kombatan dan korban konflik yang mencoba mencari jalan sendiri untuk mendapatkan keadilan.

Komentar

Loading...