Unduh Aplikasi

Ketua KP3 ALA Pusat: Saya Yang Minta Pertemuan Diadakan di Medan, Supaya Netral

Ketua KP3 ALA Pusat: Saya Yang Minta Pertemuan Diadakan di Medan, Supaya Netral
Foto: Ist

MEDAN - Sejumlah Kepala daerah dan pimpinan DPRK dari 6 kabupaten/kota dari kawasan wilayah tengah Aceh termasuk Singkil dan Subulussalam, hari ini, Minggu (11/10/2020) mengadakan Rapat Koordinasi (Rakor) Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) di Hotel Garuda, Medan Sumatera Utara. 

Pertemuan ini dikritisi sejumlah aktivis dan pemuda di Gayo. Menurut mereka pertemuan tersebut tidak melibatkan semua elemen masyarakat dan terkesan eksklusif. Lalu apa sebenarnya yang melatarbelakangi pertemuan tersebut diadakan di Medan?

Ketua Komite Persiapan Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (KP3 ALA) Pusat, Rahmat Salam kepada AJNN menjelaskan kalau dirinyalah yang memutus rapat tersebut diadakan di Medan. Rahmat Salam beralasan bahwa pada pertemuan pertama gelombang ke tiga ini dilakukan di Medan karena dianggap sebagai tempat netral.

"Sebelumnya, semua perwakilan kabupaten/kota berkeinginan membuat rakor tersebut di daerah masing-masing. Saya yang memutuskan rapat koordinasi tersebut diadakan di Medan Sumatera Utara," ujar Rahmat Salam kepada AJNN, Minggu (11/10/2020) melalui sambungan telepon dari Medan.

Alasan lain, menurut Rahmat, beberapa kabupaten lebih dekat perjalanan ke Sumatera Utara. Misalnya Kabupaten Singkil dan kota Subulussalam lebih dekat ke Medan dari pada ke Takengon. Sedangkan Takengon lebih dekat ke Medan daripada ke Kutacane. 

"Dalam hati kecil saya, ada pertimbangan yang sangat manusiawi. Kita perlu bertemu di Medan untuk menghindari pertemuan banyak orang. Kalau kita buat di Gayo Lues atau Bener Meriah, pasti akan tumpah ruah masyarakat yang datang. Ini bisa menimbulkan klaster baru Covid-19 yang menimbulkan bencana. Maka saya hindari itu," ujar Rahmat Salam.

Pertemuan di Hotel Garuda tersebut menurut Rahmat juga mereka batasi. Pembatasan itu sebagai upaya dari pihak panitia agar tidak ada keramaian. Namun dirinya heran kenapa undangan rakor tersebut bisa bocor ke publik.

"Itu juga bocor undangannya. Saya berharap tidak sampai bocor, karena ini pertemuan terbatas. Penuh juga ruangan tadi. Hampir seratus orang hadir, sehingga membuka ruangan aula lebih lebar dan menerapkan protokol kesehatan. Yang tidak memakai masker saya suruh keluar dulu, baru bisa terwujud," ujar pria kelahiran Takengon tersebut.

Lebih lanjut pria yang memperoleh gelar Doktor dari Universitas Indonesia tersebut mengungkapkan bahwa pertemuan mereka di Hotel Garuda Medan hari ini, merupakan upaya awal untuk menyamakan persepsi untuk langkah berikutnya. Dalam pertemuan tersebut menurut Rahmat,  pimpinan daerah dari 5 kabupaten dan satu kota bersama dengan pimpinan DPRK masing-masing, bersepakat agar perjuangan pembentukan provinsi ALA ini harus terwujud.

"Untuk mewujudkan hal tersebut, maka semua komponen ALA, baik pemuda, generasi muda ALA, mahasiswa ALA, wanita pejuang ALA dan elemen lainnya harus berjuang serentak secara kompak dengan bahu membahu, saling membantu dan betul - betul tidak ada pengkotak - kotakan yang membuat kisruh. Semuanya harus bertindak secara matang dan dewasa," ujar Rahmat Salam.

Rahmat juga kembali mengungkapkan kalau dalam pertemuan hari ini, Semua pimpinan daerah termasuk DPRK yang hadir dalam pertemuan tersebut sedang memikirkan sebuah wadah. Namun mereka belum menentukan nama yang cocok untuk wadah tersebut. 

"Selain itu, kami juga membicarakan masalah pendanaan. Dana untuk perjuangan ini, andai kata masyarakat berkenan mengumpulkan dana publik, itu akan sangat luar biasa. Seperti segenggam kopi untuk ALA oleh masyarakat Bener Meriah dan Aceh Tengah. Lalu di Gayo Lues dan Aceh Tenggara setetes sereh wangi untuk ALA, selanjutnya Singkil dan Subulussalam seember ikan untuk ALA. Gerakan ini merupakan bentuk kebersamaan," ujar pria yang pernah menjabat Kepala Perwakilan Pemda Aceh Tengah di Jakarta pada tahun 2004 -2008 tersebut. 

"Dana ini akan masuk kedalam rekening bersama, dana masuk boleh dari siapa saja. Tapi dana keluar tidak boleh sembarangan. Dana itu baru boleh keluar setelah ditandatangani oleh ke 6 kepala daerah, dana ini juga akan diaudit oleh akuntan publik," sambung Rahmat Salam. 

Dengan rekening tersebut menurut Rahmat akan ada dana perjuangan yang sah (legal) dan tidak mengikat sehingga hal tersebut menunjukkan kalau semuanya dari rakyat, tanpa mengorbankan dana APBD.

Diakhiri wawancara Rahmat kembali menyampaikan bahwa pertemuan hari ini hanya pertemuan awal, selanjutnya, mulai minggu depan mereka akan mengadakan pertemuan rutin, termasuk melalui webinar. Sehingga walaupun ada Pandemi Covid-19 semua pihak bisa tetap terus bertemu. 

"Sedangkan pemuda akan berkumpul di sebuah kota dan bersafari mungkin mulai dari salah satu daerah ke daerah lain dalam kawasan ALA dengan jumlah terbatas," pungkas Rahmat Salam.

Informasi yang diperoleh AJNN dari beberapa sumber terpercaya menyebutkan bahwa selain Rahmat Salam dan beberapa Bupati dan pimpinan DPRK, hampir semua tokoh dari wilayah tengah hadir seperti Sekretaris KP3 ALA Pusat, Burhan Alfin, Ketua KP3ALA  Bener Meriah, Alwin Al-Lahad, Ketua KP3 ALA  Aceh Tenggara, Armen Desky, Ketua Umum KP3 ALA Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak dan Ketua GP ALA Bener Meriah, Sadra Munawar. Selain itu turut serta perwakilan dari Kabupaten Singkil dan Subulussalam.

Komentar

Loading...