Unduh Aplikasi

Ketegaran T Reza Merawat Istrinya Yang Mengidap Kanker Otak

Ketegaran T Reza Merawat Istrinya Yang Mengidap Kanker Otak
T Reza Saputra, saat mewarat istri. Foto: AJNN/Sarina 

LHOKSEUMAWE – “Tak perduli harta benda saya habis, yang penting istri bisa sembuh,” ujar T Reza Saputra sembari sesekali menatap wajah istrinya.

Istri Reza, Fitri Wahyuni (31) merupakan seorang bidan asal Kota Lhokseumawe, sudah empat tahun mengidap penyakit kanker otak.

Sejak menikah pada 2013 lalu, pasangan suami istri ini sudah dikaruniai tiga orang anak, anak pertama berusia lebih kurang empat tahun, dan anak kedua yang kembar berusia satu bulan lebih.

Untuk mandi, makan dan tidur, Fitri harus dibantu oleh sang suami, karena bagian tubuhnya sebelah kiri, baik itu mata, tangan dan kaki sudah tidak berfungsi lagi.

Sejak fokus merawat istrinya yang sakit, sang suami harus kehilangan pekerjaannya sebagai seorang perawat yang bertugas di Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe. Sementara, istrinya dulu seorang bidan yang bertugas di Rumah Sakit Bunga Melati dan Rumah Sakit Bunda.

“Istri saya mulai sakit sejak tahun 2016 lalu, awalnya dia mengalami sakit kepala, dan saya berusaha meminta dia untuk berobat secara tradisional,” kata suaminya T Reza Saputra atau kerap dikenal Pon Citra, saat disambangi AJNN ke rumahnya di Gampong Pusong Baru, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Kamis (30/7).

Namun setelah berjalan enam bulan, istrinya semakin sering mengeluh sakit kepala, kemudian dirinya langsung membawa ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia untuk melakukan pengecekan dan pemeriksaan.

“Setelah diperiksa, ternyata ada sesuatu di otak kecilnya, pulang dari sana saya langsung pergi ke Banda Aceh untuk berobat ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, ternyata di sana dokter juga mengatakan ada benjolan di kepala,” ujarnya.

Sembari memangkas botak rambus istrinya, Reza kembali mengisahkan, karena mendapatkan diagnosa yang sama dari dua rumah sakit umum tersebut, lalu dirinya memutuskan membawa istrinya ke rumah sakit di Medan, ternyata hasilnya juga sama.

“Akhirnya saya ambil tindakan untuk melakukan operasi di RSUZA, setelah bedah pertama saya kembali mengajak istri untuk berobat secara tradisional selama dua tahun, ternyata kondisinya semakin parah,” ungkapnya.

Karena melihat kondisi istri semakin parah, Pon Citra memutuskan untuk memasang selang di kepala sang istri, selang tersebut tembus ke perut, untuk mengeluarkan cairan di kepala istrinya melalui urine.

Sangat disayang, setelah beberapa bulan berlangsung setelah pemasangan, selang otak di kepala istri macet, hingga harus kembali dioperasi. Namun, rencana pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat penyakit tersebut gagal, karena penyakitnya sudah menempel di saraf bagian kepala, sehingga tempurung batok belakang kepala harus diangkat.

“Batok kepala belakang sudah diangkat dan sudah saya tanam. Sekarang, dalam dua pekan sekali, rambut istri harus dicukur, kalau tidak akan mengakibatkan luka dikepalanya karena rasa gatal dan sakit,” ucapnya.

Untuk biaya pengobatan sang istri, Reza menjual semua harta benda yang dimilikinya. Sehingga untuk biaya hidup saat ini, ditanggung oleh orang tua istri dan orang tua kandungnya. Apalagi, Reza sudah menjadi pengangguran selama dua tahun, setelah mengundurkan diri dari Dinas Kesehatan karena harus fokus pada pengobatan istri.

“Namun yang paling sakit, pada masa dalam pengobatan istri, Fitri tidak diketahui kalau sedang mengandung bayi kembar, sehingga pada saat melahirkan, merupakan pilihan yang paling sulit. tapi Alhamdulillah, istri dan anak kembar saya selamat dan saat ini sudah berusia satu bulan lebih,” tuturnya.

Sikap sabar dan ikhlas harus dimilikinya, aktifitas keseharian saat ini merawat istri, merawat anak, dan menjadi penyemangat istri agar tetap berusaha untuk sembuh.

“Istri saya sempat putus asa, dan hendak minum racun karena rasa sakit yang tidak sanggup ditahannya, dan di sini posisi saya harus berperan untuk menyemangatinya agar tetap hidup, karena Allah akan memberi obat pada setiap penyakit,” katanya, dengan air mata yang terus mengalir dipipinya.

Harapan Reza cuma satu, jika ada rezki di masa mendatang atau ada dermawan yang ingin memantu. Dirinya hanya menginginkan istrinya dibawa ke rumah sakit di Penang, Malaysia. Agar mendapatkan perawatan yang layak dan intensif.

“Cuma itu harapan saya, karena saya menginginkan istri bisa sembuh,” imbuhnya.

 

Komentar

Loading...