Unduh Aplikasi

Kesemerawutan Itu adalah Kita

Kesemerawutan Itu adalah Kita
ilustrasi.

BAGI masyarakat Aceh, keteraturan itu adalah barang langka. Di banyak sisi kehidupan, kata-kata: tertib, antre, tertib, bahkan sabar, sepertinya tak pernah ada dalam kamus.

Tak peduli di kampung atau di kota. Tak usah jauh-jauh, di jantung ibu kota, di Banda Aceh, kesemerawutan tergambar jelas di mana-mana. Di Simpang Tujuh, Ulee Kareng, misalnya, tujuh cabang jalan membuat kawasan itu amburadul.

Pengendara harus ekstra hati-hati saat melintas karena kendaraan lain siap-siap merebut jalan tanpa ampun. Di sini, untuk melintas, tak cukup hanya dengan melihat kiri dan kanan. Gelombang kendaraan dari belakang atau serong kiri perlu juga dipantau agar tak celaka.

Di banyak persimpangan berlampu merah, kondisinya lebih miris lagi. Tiga deret lampu yang dipampangkan di setiap ruas jalan seperti tak berarti. Bahkan banyak yang menganggap lampu lalu lintas itu hanya sekadar lampu hias karena hijau, kuning atau merah, tak berarti banyak untuk mendisiplinkan pengendara.

“Tapi itulah hebatnya Aceh, bang. Masyarakat Aceh memiliki tingkat makrifat berlalu lintas yang tinggi. Walaupun semerawut, angka kecelakaan lalu lintas tergolong minim,” aku berkata kepada Bang Awee.

Bang Awee anguk-angguk. “Iya juga.” “Sebenarnya, klakson yang ditekan meski lampu merah masih menyala, atau makian terhadap orang-orang yang menerobos lampu merah adalah bentuk cinta orang Aceh terhadap saudaranya. Ini hanya dipahami oleh mereka. Walau dari luar terlihat seperti bermusuhan, tapi masyarakat Aceh memiliki cinta yang besar terhadap saudaranya.”

Kesemerawutan itu mengalir di nadi. Orang Aceh itu hanya tak memandang penting penampilan. Mereka, kata Bang Awee, lebih mengutamakan rasa. Ini terlihat jelas dari masyarakat yang hidup dengan penghasilan pas-pasan hingga mereka yang bergaji puluhan juta dengan penghasilan miliaran per tahun.

“Maksud abang eksekutif dan legislatif?” aku berujar mempertanyakan kelompok terakhir yang dikatakan Bang Awee.

“Iya. Lihat saja. Meski APBA 2018 belum dibahas hingga kini, bukan berarti ini kesemerawutan dan dianggap sebagai hal berbahaya. Ini adalah sebuah jalan hidup. Kalau tak begini, tak enak rasanya menjalankan pemerintahan,” kata Bang Awee. "Itu sifat dasar kita."

Komentar

Loading...