Unduh Aplikasi

Kesederhaaan Niazan A Hamid

Kesederhaaan Niazan A Hamid
Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Niazah A Hamid. Foto: ist

NIAZAH A HAMID adalah sosok yang menggambarkan perempuan Aceh. Bersahaja, berani menyatakan pendapat dan cerdas. Kesederhanaannya tercermin jelas dari tutur kata dan cara berpakaiannya. Tak ada kesan mewah apalagi glamor. Namun di usia yang tak lagi muda, Ummi--demikian dia disapa--masih terlihat cantik dalam balutan kesederhanaan.

Tak mengherankan jika kelak Zaini Abdullah, lelaki yang dinikahinya 47 tahun lalu, mampu memberikan warna penting dalam perjalanan sejarah Aceh modern. Mendampingi Tengku Hasan Ditiro memperjuangkan kedaulatan bangsa Aceh lewat peperangan dan meletakkan nilai-nilai penting dalam perjalanan masyarakat Aceh di masa damai.

Dalam buku berjudul Dokter Zaini Abdullah Pejuang Rakyat Aceh yang ditulis oleh wartawan senior Murizal Hamzah, Ummi mengungkapkan pengorbanan dirinya saat mendampingi Zaini Abdullah yang tengah bergerilya di hutan Aceh.

“Saya tidak pernah lupa, ketika Abu--sapaan Zaini Abdullah--menghilang dari rumah, Niza Ratna anak kami patah kaki karena kecelakaan. Sejak Abu bergerilya di hutan, kami pulang ke Sigli, Pidie. Ternyata di kamping halaman, saya bersama puluhan istri anggota Aceh Merdeka dipanggil ke kantor untuk diminta keterangan lalu diinapkan di sana. Pada mulanya, kami ditahan di Lueng Putu kemudian dipindahkan ke Lam Meulo Pidie, termasuk anak kami. Kami disandera agar suami turun gunung atau menyerah. Ternyata pejuang Aceh Merdeka terus melanjutkan perjuangan membebaskan Aceh dari kezaliman.”

Dan kini, di masa perdamaian, Ummi hanya ingin menikmati hidup di kampung halaman yang berpuluh-puluh tahun ditinggalkannya. Namun lagi-lagi niat itu harus dipendam lebih lama karena Abu masih harus menjalani amanah yang diletakkan oleh rakyat Aceh di pundaknya. Di sela-sela kesibukannya mendampingi Abu dan mengurusi rumah tangga mereka, Akhiruddin Mahjuddin dari Jurnal Aceh berkesempatan mewawancarai Ummi, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Abu kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh, apakah ada penolakan dari keluarga?
Sebagai seorang istri, tentu saya ingin waktu-waktu lebih banyak bersama Abu. Menghabiskan waktu bersama anak-anak dan cucu-cucu. Berkumpul bersama keluarga besar. Tapi hidup ini bukan sekadar keinginan saya, atau keinginan Abu. Ada tanggung jawab besar yang diamanahkan kepada kita, kita sadari atau tidak. Ini yang membuat saya terus berupaya tegar dan memberikan dukungan kepada Abu agar tidak menyerah. Dan memang, Abu bukan orang yang mudah mengubah prinsip. Jika dia berkata A, maka dia akan melakukan A. Keputusan (maju kembali sebagai gubernur) itu diambilnya dengan proses yang panjang, berpikir, merenung, dan memohon petunjuk kepada Allah. Abu telah mengambil perannya. Dan peran kami adalah mendukung Abu, apapun keputusan yang dia ambil.

Ummi tidak merasa lelah dengan segala aktivitas ini?
Rasa itu pasti ada. Saya manusia biasa juga. Tapi sepanjang ini dijalani dengan perasaan ikhlas, Allah akan meringankan segala beban. Malah saya merasa senang saat bertemu dengan banyak saudara-saudara kita, khususnya kaum perempuan, dari seluruh Aceh. Banyak hal kami diskusikan. Dari semua pembicaraan itu, muaranya hanya satu: bagaimana menjadikan perempuan Aceh sebagai perempuan yang certas, kuat dan mandiri. Sebagaimana darah yang diwariskan oleh para endatu kita. Terkadang ada perasaan sedih saat melihat kondisi masyarakat Aceh, khususnya korban konflik. Banyak perempuan dan anak-anak yang belum tersentuh oleh pembangunan yang diperjuangkan sejak lama oleh para pejuang Aceh. Namun saya sadar, bersedih bukanlah solusi. Ada banyak upaya yang dapat kita lakukan. Karena waktu itu sangat relatif. Empat atau 14 tahun memang bukan waktu yang lama untuk menambal sobekan di masyarakat akibat konflik. Tapi saya tahu persis bahwa Pemerintah Aceh terus berjuang menjangkau semua masyarakat.

Apa yang paling Ummi rindukan dari Abu?
Senyumannya. Senyumannya adalah senyuman paling ikhlas yang pernah saya lihat. Tidak hanya kepada saya. Saat menjabat sebagai kepala puskesmas, dia tidak pernah bermuka masam. Mungkin ini pembawaan sifatnya yang suka membantu. Dia selalu menggratiskan pasien yang tidak mampu, baik biaya pengobatan ataupun pemeriksaan. Kami sering ditinggal tengah malam saat Abu harus mengobati warga. Abu juga selalu berpakaian necis. Bukan mahal atau mewah. Yang penting bersih. Abu itu sangat sederhana.

Tantangan apa saja yang dihadapi setiap hari sebagai istri gubernur?
Tidak ada tantangan yang berarti yang saya rasakan selama ini sebagai istri gubernur. Semua berjalan apa adanya. Mendampingi Abu adalah wujud pengabdian saya kepada Rakyat Aceh. Jadi tidak ada yang menjadi beban. Saat semua mengalir, semua terasa menyenangkan.

Seberapa sering Abu Doto mintai Ummi pendapat?
Sejak awal sebelum Abu menjabat sebagai gubernur, kami telah berkomitmen untuk tidak membahas urusan pemerintah. Itu tabu. Apalagi menyangkut kebijakan. Saya tidak ingin menambah beban Abu dalam mengurus dan menjalankan Pemerintahan Aceh dengan pendapat-pendapat saya. Kami hanya membahas cerita tentang hal-hal bersifat pribadi, keluarga dan urusan rumah tangga. Ini pendapat yang diminta Abu kepada saya.


***

Berada di Swedia tak menyurutkan langkah dan perjuangan Zaini Abdullan dan rekan-rekan di Gerakan Aceh Merdeka. Niazah yang mendapatkan suaka politik dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menyusul ke Swedia. Di sana, Zaini bekerja di sebuah rumah sakit sementara Niazah bertugas mempersiapkan keperluan Wali Nanggroe Tgk Hasan Muhammad di Tiro dan para pejuang GAM. Usai penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dan GAM di Helsinki pada 2005, ada kerinduan yang semakin tak tertahankan untuk kembali ke Tanah Air. Keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjuangan dengan cara

***

Abu kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh. Kali ini lewat jalur independen. Apa upaya yang Ummi lakukan agar Abu terpilih kembali?
Saya mendukungnya dengan kemampuan yang saya miliki. Yang selalu saya lakukan adalah mendoakan Abu agar tetap diberikan Allah kesehatan dan dipanjangkan umur. Selebihnya? Mengingatkan Abu untuk tetap menjalankan kewajibannya. Sesulit apapun itu. Terutama sebagai Kepala Pemerintahan Aceh. Pemilihan gubernur ini adalah urusan duniawi. Namun amanah adalah urusan pertanggungjawaban yang akan diminta kelak saat kita menghadap Sang Khalik. Kalau Abu terpilih, itu karena Allah berkehendak. Juga sebaliknya. Sebagai manusia, yang harus kita semua lakukan adalah berikhtiar. Karena tak ada yang jatuh dari langit dengan cuma-cuma.

Anda yakin yakin Abu akan terpilih lagi?
Insya Allah. Dari dulu kami yakin dengan apa yang telah kami pilih.

Kalau Abu tidak terpilih, apakah Anda akan kembali ke Swedia?
Sebagai anak Aceh, hal yang paling membahagiakan dan mengharukan adalah ketika saya dapat kembali menginjakkan kaki di tanah Aceh. Saya bersyukur karena dapat kembali menghirup udara Aceh. Meminum air Aceh dan dapat kembali menikmati keindahan alam Aceh. Setelah bertahun-tahun di negeri orang, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Sebuah kemewahan yang tak ternilai dan tak tergantikan dengan apapun itu. Saya orang Aceh. Saya lahir di sini, saya juga ingin dikuburkan di sini.

Apa harapan Ummi untuk masyarakat Aceh?
Saya berdoa dan berharap agar kita, seluruh masyarakat Aceh, bersatu menjaga perdamaian ini. Ini adalah karena perdamaian adalah prasyarat mewujudkan kesejahteraan. Di saat bersamaan, perempuan Aceh harus menjadi subjek dalam pembangunan Aceh. Perempuan dan anak adalah pihak yang paling menderita akibat konflik Aceh.

 

(Tulisan ini juga dapat Anda nikmati di Jurnal Aceh edisi 4)

Komentar

Loading...