Unduh Aplikasi

Kesbangpol Aceh Gelar FGD Soal Potensi Konflik pada Pilkada Mendatang

Kesbangpol Aceh Gelar FGD Soal Potensi Konflik pada Pilkada Mendatang
BANDA ACEH - Dalam rangka deteksi dini menghadapi pilkada yang prosesnya sedang berlangsung saat ini, Badan Kesbangpol dan Linmas Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Deteksi Potensi-Potensi Konflik dalam Pilkada Aceh”, Jumat (26/8).

Hadir dalam kegiatan tersebut puluhan peserta dari unsur Biro Hukum Pemerintah Aceh, KIP Aceh, Panwaslu, serta lintas organisasi dan LSM yang ada di Banda Aceh.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Aceh Drs. H. Saidan Nafi, S.H., M. Hum saat membuka acara tersebut menyampaikan kegiatan ini merupakan wujud dari keinginan bersama untuk melaksanakan pilkada damai bulan Februari 2017 nanti.
Dalam kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan informasi-informasi penting dalam rangka deteksi dini terhadap potensi-potensi konflik yang mungkin bisa terjadi terhadap proses pilkada yang sedang berlangsung saat ini.

“Kita harapkan kehadiran rekan-rekan dalam pertemuan ini dapat memberikan pandangan objektif dan terkini tentang situasi, dan potensi permasalahan yang mungkin bisa terjadi” ujar Drs. H. Saidan Nafi, S.H., M. Hum

Dalam kegiatan tersebut, Yarmen Dinamika yang didaulat sebagai keynot speaker memaparkan, Regulasi pilkada di Aceh berpeluang menjegal sejumlah kandidat gubernur, walau tidak tertutup kemungkinan adanya gesekan-gesekan dari kelompok antar pendukung calon.

Yarmen Dinamika mencontohkan, dikabulkannya gugatan Cagub Abdullah Puteh oleh Mahkamah Konstitusi terhadap pasal 67 UUPA yang tidak memperbolehkan bagi mantan napi, kecuali tindak pidana makar atau politik yang telah mendapat amnesti/rehabilitasi, untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

“Kita tunggu saja apakah KIP Aceh akan otomatis mematuhinya? Lalu, kalau KIP setuju, akan seperti apa pula sikap DPRA, khususnya Banleg DPRA yang sudah memunculkan pasal itu di Raqan Pilkada 2017”Ulas Yarmen Dinamika.

Yarmen Dinamika menambahkan, perpecahan antar kelompok pendukung dalam internal partai juga terlihat di beberapa daerah kab/kota.

“Misalnya di Kabupaten Nagan Raya. Ada dua pasangan yang sama-sama mengklaim didukung oleh sebuah partai lokal” ujar Yarmen Dinamika.

Menurutnya, kondisi objektif diatas akan menjadi potensi konflik yang dikhawatirkan akan menggangu jalannya proses pilkada damai yang sedang berlangsung saat ini.

Pada akhir acara, seluruh peserta yang hadir berharap agar Pilkada di Aceh dapat berlangsung aman, lancar dan damai sehingga dapat menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

Komentar

Loading...