Unduh Aplikasi

Kerusakan Hutan di Aceh, Tertinggi di Aceh Utara

Kerusakan Hutan di Aceh, Tertinggi di Aceh Utara
GIS Manager Yayasan HAkA sedang mempersentasikan tingkat kerusakan hutan di Aceh. Foto: Rahmat Fajri

BANDA ACEH - Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) merilis kerusakan hutan di Aceh sepanjang tahun 2017 seluas 17.333 Hektare (Ha), angka ini sedikit menurun dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya yang mencapai 21.000 hektare.

GIS Manager Yayasan HAkA, Agung Dwinurcahya menyebutkan dari total kerusakan tersebut, terdapat tiga kabupaten dengan tingkat kerusakan hutan terbesar, yaitu Aceh Utara seluas 2.348 hektere, kemudian Aceh Tengah 1.928 hektare dan Aceh Selatan dengan angka 1.850 hektare.

"Temuan ini patut diduga menjadi penyebab banjir di Aceh Utara beberapa waktu lalu, pasalnya periode 2015 2016, Aceh Utara juga menjadi kabupaten kedua tertinggi," kata Agung Dwinurcahya dalam jumpa pers di hotel Oasis Banda Aceh, Senin (15/1).

HAkA juga menganalisis kerusakan hutan di dalam kawasan hutan yang ditetapkan dengan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terakhir yaitu SK 103 tahun 2015. HAkA menemukan fakta telah terjadi kerusakan hutan sebesar 9.761 hektere atau 56 persen deforestasi 2016-2017 pada kawasan hutan.

"Hutan Produksi (HP) menempati urutan pertama yaitu sebesar 4.147 hektere, disusul oleh Hutan Lindung (HL) yakni seluas 3.480 hektere," ujarnya.

Menurut Agung, masalah ini perlu menjadi perhatian besar bagi pengelola kawasan untuk dapat lebih menjaga serta melindungi kawasannya masing-masing.

Selain itu, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Aceh juga mengalami penurunan angka deforestasi. Perhitungan tim HAkA menghasilkan angka deforestasi di dalam KEL Aceh sebesar 6.875 hektare.

Agung menyampaikan, kabupaten tertinggi deforestasi adalah Aceh Selatan 1.847 hektre, disusul Aceh Timur 1.222 hektare dan Nagan Raya 946 hektare. Tetapi angka tersebut menurun jika dibandingkan dengan 2016 yang mencapai 10.351 hektare bahkan tahun 2015 hanya 13.700 hektare.

"KEL Aceh yang telah ditetapkan menjadi Kawasan Strategis Nasional (KSN) tersebut harus lebih dijaga dan dikelola dengan mengedepankan konsep perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan yang lestari," imbuhnya.

Sementara itu, Database Manager Forum Konservasi Leuser (FKL), Ibnu Hasyim menjelaskan, dari hasil monitoring lapangan yang dilakukan pihaknya di 12 Kabupaten dalam KEL, tercatat 1.528 kasus illegal logging terjadi pada periode tersebut dengan volume sekitar 7.421,3 meter kubik kayu. Angka aktivitas ilegal ini meningkat dari tahun 2016 yang hanya 1.534 kasus dengan volume 3.665 meter kubik kayu.

Dari temuan tim FKL itu, kata Ibnu, Kabupaten Aceh Tamiang tercatat sebagai daerah tertinggi aktivitas perambahan hutan, yaitu seluas 1.347 hektare pada tahun 2017, selain itu juga terdata bahwa Aceh Tamiang daerah dengan jumlah kasus paling banyak di KEL, yaitu 414 kasus.

"Total kerusakan hutan KEL yang terdata dari lapangan akibat perambahan pada 2017 berjumlah 6.648 Ha dengan 1.368 kasus," pungkas Ibnu.

Karena itu, Yayasan HAkA dan FKL meminta Pemerintah Aceh dan serta seluruh elemen masyarakat untuk lebih menjaga hutan, terutama yang berada di KEL, karena kawasan ini adalah sumber air bagi rakyat Aceh dan juga berjasa untuk mitigasi bencana. Semoga seluruh pihak semakin sadar pentingnya kelestarian hutan dan KEL untuk masa depan Aceh dan dunia yang terus membaik.

Komentar

Loading...