Unduh Aplikasi

Keponakan Korban Tenggelam di Krueng Meureubo: Cek Min Bangun Terus Kita Pulang

Keponakan Korban Tenggelam di Krueng Meureubo: Cek Min Bangun Terus Kita Pulang
Petugas sedang melakukan pencarian terhadap korban tenggelam di Krueng Meureubo. Foto: Ist

ACEH BARAT - Cek Min beudoh laju mangat tajak woe (Cek min bangun terus biar kita pulang ke rumah), ungkapan lirih terdengar dari ucapan Amar Mustafa, bocah berusia 4,5 tahun.

Sata itu, Mustafa duduk dengan posisi jongkok di tepi Sungai Meureubo, kawasan Calok, Desa Padang Seurahet, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Cek Min merupakan panggilan Amar Mustafa terhadap pamannya M Amin (23), korban tenggelam di Sungai Meureubo, Sabtu (16/5). Korban tenggelam saat mencari kerang dan hingga kini belum ditemukan.

Ajakan pulang itu tak henti diucapkan oleh Amar, sambil terus memandang keruhnya air sungai Krueng Mereubo, pada Minggu (17/5) sekira pukul 13.30 WIB. Wajah Amar tersirat seperti sangat berharap pamannya itu segera ditemukan.

Amar berada di tepi sungai ditemani ibunya Surida (36), yang merupakan kakak korban. Wajah Surida juga terlihat sembab, seperti habis menangis. Di bawah teriknya matahari di bulan puasa, Amar dan ibunya tidak menyerah menunggu M Amin untuk segera ditemukan.

Tak jauh di belakang mereka, berdiri ada dua tenda yang dibangun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Search And Recue Nasional (Basarnas), Pos SAR Meulaboh.

Di dalam tenda itu juga terlihat sejumlah tim dari BPBD dan SAR, PMI, TNI serta Polisi, satu reo Brimob dan mobil milik BPBD dan Basarnas terparkir di area itu.

Satu perahu karet (rubber boat) dan satu unit siarider juga terlihat sedang dipersiapkan untuk kembali melanjutkan pecarian terhadap M. Amin, yang tenggelam sekitar pukul 16.30 WIB.

Karena lelah jongkok, akhirnya Amar digendong oleh ibunya. Di dalam gendongan sang ibu, Amar kembali mengulangi kata ajakan pulang itu. Tak lama setelah itu, Amar terlihat tertidur dibahu sang ibu.

“Dia lelah lelah karena dari semalam memang tidak tidur juga, dan ikut begadang dengan kami menunggu kabar adik kami M. Amin yang tenggelam,” cerita Sarida kepada AJNN.

Selama ini, kata Sarida, Amar memang sangat akrab dengan pamannya itu. Mungkin ini pula yang membuat Amar berharap pamannya bisa ditemukan.

Sarida kembali melanjutkan cerita terkait kronologis sebelum sang adik Hanyut. Menurut Sarida, sebelum Amin bersama rekannya M Nur (24), dilaporkan hanyut, ibunya Mariam (60), memang sempat melarang M Amin untuk mencari kerang.

Namun, Amin mengatakan pada sang ibu jika ia cuma ingin pergi jalan-jalan saja dan tidak bekerja pada hari itu. Saat itu, Amin berangkat dari rumah sekira pukul 09.00 WIB.

“Sebelumnya Amin memang di rumah tidur, tapi saat itu diajak temannya M Nur mencari kerang. Cerita ibu saya kepada saya, karena kan adik saya ini adik saya ini tinggal di rumah sama ibu, sedangkan saya dan abangnya satu lagi sudah menikah jadi tidak serumah lagi,” kata Surida.

Menurut Surida, adiknya itu pergi bersama M Nur menggunakan perahu milik tetangga. Ia tidak menyangka saat sore hari mendapat kabar dari kepala desa kalau adiknya itu hanyut di Sungai Meureubo.

Mendapat kabar itu, ia bersama keluarga segera mencari pertolongan untuk melakukan pencarian, kabar itu pertama kali disampaikan M Nur, rekan korban yang selamat.

Baca: Pencari Kerang Tenggelam di Krueng Meureubo

Sebelum tenggelam, adiknya beserta M Nur memang hendak kembali, namun naas perahu yang ditumpangi mereka terbalik akibat hujan deras dan angin kencang melanda.

“Sesaat sebelumnya, kalau cerita M Nur memang mereka sudah diingatkan sama pemilik kandang sapi di dekat sini (calok) agar segera pulang karena cuaca mulai tidak mendukung. Mereka sempat bersiap, namun hujan deras dan angin kencang tidak bisa dihindari,” ungkapnya lagi.

Surida emang tidak menyangka peristiwa itu. Ia harus rela kehilangan adik bungsunya itu. Pasalnya, selama ini kalau mencari kerang sang adik tidak pernah jauh dari Sungai Peunaga. Tapi pada hari naas itu, adinya nekat berjalan hingga ke daerah Sungai Calok dengan jarak sekitar empat kilo meter dari Peunaga.

“Biasanya dia kalau cari kerang itu di tempat kami saja disana. Kalau disana kan dangkal nggak payah nyelam atau berenang, tinggal pilih aja ditepi sungai. Dia juga tidak biasa seperti ini,” ujarnya. Seraya berharap adiknya segera ditemukan.

Sementara itu, Koordinator Pos SAR Meulaboh, Bidi Darmawan, mengatakan pihaknya akan terus melakukan pencaharian terhadap korban.

Dalam upaya pencarian itu, kata dia, pihaknya akan melakukan selama tujuh hari, sesuai dengan Standar Operasional Prosedur yang berlaku. Namun jika dalam masa tersebut belum ditemukan, pihaknya akan menghentikan pencarian.

“Kami sudah melakukan pencarian dengan melakukan penyelaman hingga ke daerah pantai, dan hasil masih nihil,” kata Koordinator Pos SAR Meulaboh, Budi Darmawan.

Dikatakannya, pencarian pada hari kedua ini dilanjutkan sejak pagi tadi, dan ikut menyisir sekitar tiga ratus meter dari Tempat Kejadian Pertama (TKP).

Dalam penyisiran yang dilakukan sekitar tiga ratus meter dari TKP tersebut, hasilnya nihil, tim kembali melanjukan pencarian ke daerah luar kawasan mengunakan satu unit searider dan menuju satu mil daerah laut

“Untuk tanda-tanda memang sudah kita temukan berupa perahu korban,” ungkap Budi.

Ia mengaku kendala yang dihadapi untuk pencarian hari kedua yakni jarak pandang di dalam sungai saat menyelam dengan visibilty nol, serta arus di bawah yang kencang dan gelombang tinggi mencapai 1,2 meter.

IKLAN HPI
Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...