Unduh Aplikasi

Kepeng, Perilaku dan Taubat

Kepeng, Perilaku dan Taubat
Bambang Antariksa. Foto: Ist

Oleh: Bambang Antariksa

Alkisah pengurus balai penggajian suatu negeri, tertangkap "kering" oleh pengawas balai tingkat atas, karena terbukti mencuri kepeng negeri. Siasat yang dipakai, melakukan mark-up upah bulanan selama setahun kebelakang. Alasan pelaku yang juga ketua dan wakil ketua pengurus, mulai dari beduk subuh hingga larut malam, sibuk melayani khalayak. Wajar jika beban kerja sebagai pelayan umat, dihitung juga bak ongkos taxy online, sesuai jarak.

Sang pengurus, baik ketua maupun wakil, sebenarnya tau, hanya abdi dalam balai penggajian yang berhak mendapat kepeng dari jerih ekstra. Begitu bunyi titah dalam kitab beleid terkait aturan jerih dan upah bagi pengurus balai. Tetapi, ya itu karena para abdi dalam juga sarat kepentingan, yang penting, asal pengurus senang, segala macam beleid bisa diurus belakangan.

Ibarat durian, buah berduri dapat disembunyikan, tetapi aroma semerbak pasti ketauan. Pendek kata, aksi mencuri mereka tercium oleh hidung pengawas balai tingkat atas. Pengawas balai dalam laporannya beropini, tindakan ketua dan wakil pengurus yang menambah jerih upah bulanan, tidak diizinkan alias diharamkan. Karena status mereka dipersamakan dengan pejabat negeri, bukan para abdi dalam. Kepeng ekstra atau tambahan jerih penghasilan, hanya boleh diberikan kepada para abdi dalam.

Lantas bagaimana dengan kepeng balai penggajian yang sudah terlanjur dihabiskan oleh ketua dan pengurus balai? Apa mesti dikembalikan juga? karena tidak ada usul dari pengawas balai tingkat atas, bahwa semua kepeng itu harus dikembalikan.

Menarik memang alkisah pengurus dan wakil pengurus balai penggajian ini. Selain sudah pernah disumpah akan patuh dan taat terhadap semua beleid aturan negeri, dalam majlis-majlis ilmu khalayak ramai, mereka juga sering bertausiah terkait hidup jujur dan jangan mencuri.

Anehnya, kenapa maling di siang hari bisa sampai terjadi. Bukankah sudah ada kerani pengawas pundi yang wajib mengingatkan atasannya? Lantas apa pula kerja kerani punggawa adat? Apakah tak pernah mengkaji aturan beleid negeri? 

Keduanya seolah tak bernyali, bahkan terkesan membela aksi kurang terpuji junjungan mereka. Bahkan si kerani pengawas pundi berani berfilsafat, para pengurus balai perlu tambahan kepingan kepeng, karena banyak umat yang mengadu. Selain itu, tak ada perintah dari pengawas balai tingkat atas untuk kembalikan kepeng yang telah dinikmati. 

Khalayak sontak tersenyum masygul. Sudah nampak mentari bersinar, tapi pelanduk masih pura-pura bermimpi. Bukankah kepeng yang dicuri bukan milik si pencuri? 

Biasanya di kampung tetangga, kalau ada pencuri ternak yang tertangkap, binatang ternak auto dikembalikan ke siempunya. Meski tak ada perintah dari punggawa negeri untuk mengembalikan ke pemilik. Paling nanti si ternak dihadirkan dalam sidang pengadil negeri, sebagai bukti. Sedangkan si pencuri, ya kena azab, bila tak di dera, ya di kurung dalam penjara.

Tentang hal ini, biarlah para pengadil negeri yang akan memutuskan. Yang pasti, setiap keping kepeng dalam pundi balai penggajian, berasal dari pundi umat yang membayar upeti. Kalau ada yang mencuri, berarti mencuri kepengnya umat. Si pencuri, wajib diberi hukuman, biar dia seorang pejabat negeri atau penjahat kelas teri.

Diluar semua itu, tak ada yang lebih mulia, jika hamba yang sudah berbuat dosa, lantas menyesal dan bertaubat nasuha. Tetapi, taubat-pun ternyata ada masa expired-nya. Kalau sudah terlambat, maka taubat-pun tidak diterima. 

Penulis adalah Praktisi Hukum

Komentar

Loading...