Unduh Aplikasi

Kepatuhan Masyarakat dapat Menekan Penyebaran Covid-19 di Aceh

Kepatuhan Masyarakat dapat Menekan Penyebaran Covid-19 di Aceh
Prof. Marwan Ramli. Foto: For AJNN

BANDA ACEH - Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), membuat prediksi penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) di Provinsi Aceh. Hasilnya, penyebaran Covid-19 ini dapat ditekan melalui kepatuhan masyarakat menjalankan kebijakan pemerintah.

Diketahui, virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada Desember 2019 lalu. Tingkat penyebarannya sangat cepat, sehingga World Health Organization (WHO) menetapkan status pandemi Covid-19. Saat ini sudah 202 negara yang melaporkan terpapar virus mematikan ini.

Di Aceh sendiri, satu pasien dalam pengawasan (PDP) asal Lhokseumawe meninggal dunia. Berdasarkan hasil swab yang dilakukan, pada 21 Maret 2020, pasien ini dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. Dua hari kemudian, ditemukan lagi 3 pasien dinyatakan positif. Terakhir, total pasien positif Covid-19 di Aceh berjumlah 5 orang.

Guru Besar FMIPA Unsyiah, Prof. Marwan Ramli, yang terlibat dalam tim yang melakukan prediksi penyebaran Covid-19, melalui model Matematika SIR (Susceptible, Infected and Recovered), mengatakan model yang digunakan itu sebenarnya dilakukan secara sederhana.

"Model SIR ini, secara awam dibagi kepada tiga kelompok masyarakat, yang terdiri dari kelompok rentan atau mudah diserang, kelompok masyarakat terkonfirmasi sakit (positif), dan kelompok masyarakat yang sudah sembuh," ujar Prof. Marwan Ramli kepada AJNN, Rabu (1/4).

"Nah, hingga saat ini pengobatan Covid-19 ini kan belum ditemukan. Jadi kesembuhan itu mutlak, hanya dipengaruhi oleh imunitas si sakit saja. Seperti ketersedian nutrisi yang bagus, sehingga ia akan sembuh dengan sendirinya," tambahnya.

Melalui permodelan ini, intervensi yang dilakukan hanya kepada dua kompartemen (kelompok masyarakat), yakni kelompok masyarakat rentan (saat ini sehat) dan kelompok masyarakat yang sudah terkonfirmasi terinfeksi positif Covid-19.

Kemudian, asumsi yang digunakan dalam membangun model ini juga sederhana. Maksudnya, saat ini Aceh ini dianggap sudah tidak ada lagi akses keluar masuk. Meskipun kenyataanya, jalur darat, laut dan udara belum ditutup.

Kendati demikian, jika melihat kondisi saat ini sudah jauh menurun (warga) yang masuk itu. Jadi kondisi inilah yang menjadi dasar asumsi tim Prof. Marwan, akses keluar masuk sudah ditutup. Jadi benar-benar yang diintervensi kelompok masyarakat yang ada di Aceh saja.

"Apabila tidak dilakukan intervensi, masyarakat akan berperilaku sama seperti tidak ada wabah, maka penularan Covid-19 ini akan semakin cepat," tegasnya.

Dengan kondisi saat ini, menurut Prof. Marwan, intervensi yang dilakukan pemerintah dengan pembatasan atau menutup kantung keramaian, pemberlakuan jam malam sudah tepat. Karena dapat mengecilkan interaksi antara carrier (pembawa virus tanpa gejala), dengan pasien yang belum terpapar.

"Nah inilah yang dikhawatirkan, kalau yang sakit memang sudah diisolasi di rumah sakit," tandasnya.

"Sekarang carrier ini masih berada di luar dan harus diintervensi. Jadi, saat ini kita tidak tau mana yang carrier mana yang bukan. Jadi disinilah perlu dilakukan intervensi dari interaksi masyarakat itu,"imbuh Prof. Marwan.

Dilanjutkannya, sebab belum ditemui obat untuk penyembuhan, maka WHO dalam anjurannya meminta masyarakat tetap berada di rumah saja. Meskipun, dalam keadaan penting, masyarakat diharapkan melakukan physical distancing (jaga jarak), dan tetap menjaga kebersihan diri. Dengan demikian, proses penyebaran dapat dikecilkan.

Lalu, penghitungan yang dilakukan ini berdasarkan hasil survey TDMRC Unsyiah, terkait pengukuran pemahaman dan kepatuhan masyarakat Aceh tentang wabah Covid-19 pada 23 sampai dengan 24 Maret 2020. Hasilnya, 94 persen dari 4.628 responden masih beraktifitas di luar rumah pada masa pandemi.

Bahkan, 29 persen dari 94 persen responden ini juga masih berperilaku seolah-olah tidak sedang terjadi wabah pandemi tersebut, seperti masih duduk di warung kopi, melaksanakan dan menghadiri pesta, serta mendatangi tempat keramaian, seperti tempat wisata dan pusat perbelanjaan.

"Jadi ini kan eksponensial dia, tumbuhnya menurut deret ukur, bukan deret hitung. Jadi kalau terkena satu ia dapat menyebarkan ke empat orang lainnya, dan begitu seterusnya. Jadi penyebaran tanpa intervensi sangat luar biasa sekali," sebutnya.

Berdasarkan, hasil perhitungan model Matematika SIR yang dilakukannya bersama tim, Prof. Marwan mengatakan tanpa intervensi, puncak dari penyebaran wabah corona ini terjadi 22 hari, sejak kasus positif pertama ditemukan.

Apabila dilakukan intervensi, jumlah orang yang berinteraksi dapat ditekan dan diperkecil. Dengan demikina, masa puncak penyebaran Covid-19 ini akan bergeser semakin lama dan akan turun tidak setajam tanpa intervensi.

"Artinya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah ini akan sangat membantu penurunan laju penyebaran Covid-19 ini," tuturnya.

Prof. Marwan juga mengaku bahwa Ia juga melakukan pemantauan langsung terkait kondisi saat ini. Jalanan agak sedikit lengang, ditambah lagi dengan pemberlakuan jam malam. Diharapkan hal ini nanti, dapat menggeser puncak penyebarannya.

Sebutnya lagi, apabila intervensi dapat dilakukan dengan ketat, dan masyarakat bersedia menaati kebijakan yang diambil pemerintah. Maka pasien yang dinyatakan positif berada di angka 20-an saja.

"Ini berdasarkan hasil perhitungan, tapi harapan kita tentu tidak ada lagi pasien yang dinyatakan positif setelah ini. Kita berharap pemerintah dapat mengetatkan pelaksanaan kebijakaan yang sudah diambil," pungkas Professor bidang Matematika terapan ini.

Komentar

Loading...