Unduh Aplikasi

Kemiskinan Nyata di Suka Makmur

Kemiskinan Nyata di Suka Makmur
ACEH SINGKIL -  Terik matahari, Kamis lalu, benar-benar membakar. Namun kondisi cuaca ekstrim ini tak menyurutkan semangat tim Jayalah Indonesiaku dari sebuah stasiun Radio Swata di Rimo, Aceh Singkil, untuk menginjakkan kaki di Desa Suka Makmur.
 
Butuh waktu enam  jam perjalanan laut untuk menjangkau desa ini. Sebuah desa yang terletak di kepulauan terluar Aceh Singkil. Sulitnya akses dari dan menuju kepulauan ini dari ibu kota kabupaten membuat desa ini sering luput dari perhatian pemerintah.
 
Secara administratif, warga Suka Makmur berada di Kecamatan Pulau Banyak Barat. Tak seperti namanya, warga desa ini banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.
 
Tim beserta Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Aceh Singkil Ismet Taufik menyaksikan langsung kehidupan 57 kepala keluarga, begitu menjejakkan kaki di pulau ini. Deretan rumah tak layak huni menjadi cerminan kehidupan warga desa itu.
 
Namun hidup dalam kekurangan tak membuat mereka kehilangan kesadaran. Dengan senyuman lebar dan kata-kata yang ramah, mereka menerima rombongan. Keceriaan itu menghapuskan penat dan jenuh di laut. Warga, yang umumnya keturunan suku Nias, berlomba-lomba menghampiri. "Selamat datang pak, selamat datang di desa kami," kata sejumlah warga.
 
Rombongan datang dengan membawa bantuan alat tangkap nelayan seperti jaring dan perlengkapan sekolah. Tak satu pun anggota rombongan yang dibiarkan menurunkan barang dari kapal dan membawanya ke rumah kepala desa. Bantuan  ini diangkut dengan kereta sorong sejauh sebelum dibagi-bagikan kepada warga.
 
Sambil menikmati suguhan kelapa muda dan sop kepiting, Kepala Desa Keramahan warga dalam memanjakan tamu tak sampai di situ saja.  Sambil berbincang, di kediaman Kepala Desa, warga pun  menyuguhkan  kelapa muda dan sop terbuat dari bahan utama kepiting bakau sebagai suguhan santap siang rombongan.
 
Ini adalah tradisi dalam menyambut tamu yang datang. "Kalau tamu datang belum makan masakan kami, itu belum afdol. Kami senang kalau tamu mau makan hidangan kami. Tapi cuma ala kadar, ya..." ujar Safriani, Kepala Desa Suka Makmur dengan senyum mengembang.
 
Di keramahan warga dan keceriaan wajah-wajah mungil anak-anak di desa, sebenarnya terselip persoalan kemiskinan yang membelenggu. Sebagian mereka adalah kepala rumah tangga yang berprofesi sebagai nelayan dan petani.
 
Semua dilakukan dengan peralatan seadanya. Hasil bertani dan melaut hanya cukup untuk bertahan hidup dengan harga kebutuhan pokok yang mahal.
 
Dari total  57 keluarga, hanya 3 keluarga saja yang mampu memiliki rumah permanen. Selebihnya tinggal di gubuk reot. Berdinding papan, dengan atap tepas dan lantai tanah. Usaha Safriani, sejak dua tahun lalu,  untuk mencari dana pembangunan rumah belum terwujud. 
 
Di tahun lalu, meski enam warga dinyatakan menerima jatah enam unit rumah duafa di Kecamatan Pulau Banyak Barat, sayang jatah rumah untuk desa itu tak sampai. “Saya berharap bapak bupati dan bapak presiden untuk memperhatikan kami. Kalau memang ada, hendaknya benar-benar sampai ke tangan penerima di desa ini,” kata Safriani. 
 
Di pulau itu terdapat tiga dusun, yakni Kuala Penghulu, Kuala Gadang dan Anaoeik. Masing-masing dusun terisolir. Jadi, 372 masyarakat di pulau itu tak hanya kesulitan membangun rumah, akses ke desa-desa lain juga terhambat. Apalagi ke ibu kota kecamatan. Rencana pembangunan jalan lingkar pulau yang dulu pernah rintis belum terealisasi. Bahkan untuk berurusan ke ibu kota kecamatan, mereka harus menggunakan perahu. 
 
Dalam setahun, desa ini hanya mendapatkan bantuan sebesar Rp 600 juta. Beruntung desa itu dipimpin oleh seorang bekas fasilitator PNPM. Sehingga pembangunan desa itu dapat dilakukan meski dengan dana seadanya. Seperti jalan desa menuju sekolah, mendirikan BUMDes dan kantor desa serta sejumlah infrastruktur lain.
 
Untuk memelihara lingkungan desa agar tetap asri, dia punya program gotong royong. Pada Ahad ketiga setiap bulan, seluruh warga wajib bergotong royong membersihkan lingkungan desa dan di pekan berikutnya, warga wajib membersihkan lingkungan rumah. Pola itu menjadikan lingkungan desa miskin itu menjadi Asri. Bagi Safriani dan warga desa itu, bantuan dari Jayalah Indonesiaku sangat membantu. Dia berharap, jaring ikan itu dapat meningkatkan hasil tangkapan warga. 
 
"Kami ingin membantu mereka, karena memang penduduk di sini masih hidup di bawah garis kemiskinan dan sekaligus mengingatkan bahwa meski berada di pulau terluar mereka adalah bagian dari Indonesia,” kata Yuliana, ketua tim yang juga merupakan Direktur Radio Xtrafm.
 
Ismet Taufik juga mengaku terbantu dengan program tersebut. Ia mengakui jika pemerintah punya keterbatasan sehingga butuh sokongan program dari luar pemerintah. "Kami sangat berterima kasih. Program ini sangat membantu kami,” kata dia. 

Komentar

Loading...