Unduh Aplikasi

Keluarga Pemilik Rekening Pertanyakan Penyelidikan Kasus TPPU Bank Aceh

Keluarga Pemilik Rekening Pertanyakan Penyelidikan Kasus TPPU Bank Aceh
Bank Aceh Syariah. Foto: AJNN/Fauzul Husni

BANDA ACEH - Keluarga pemilik rekening basah di Bank Aceh Syariah kantor cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan, Sumatera Utara, mempertanyakan perkembangan kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di bank milik Pemerintah Aceh itu.

Kasus dugaan TPPU Bank Aceh tersebut sedang ditangani Polda Aceh. Bahkan penyidik juga sudah memeriksa pemilik rekening dan pihak Bank Aceh Syariah kantor cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan, Sumatera Utara.

Yusrizal, anak dari pemilik rekening itu mempertanyakan sejauh mana proses penyelidikan kasus tersebut. Pasalnya hingga kini pihaknya belum mendapatkan informasi apapun terkait perkembangan kasus itu.

“Kami selaku pemilik rekening juga ingin tahu sejauh mana proses kasus itu, kami butuh kepastian, apalagi kami sudah diperiksa,” kata Yusrizal kepada AJNN, Selasa (4/1).

Yusrizal juga meminta kepada Polda Aceh juga memeriksa seluruh pihak-pihak yang terlibat dalam dugaan kasus ini. Keluarga saat ini menunggu keseriusan pihak kepolisian dalam mengusut kasus itu.

“Kami sudah sampaikan semuanya kepada penyidik, tinggal menunggu keseriusan penyidik dalam membongkar kasus itu,” kata Yusrizal. 

Baca: Keluarga “Pemilik” Rekening Basah di Bank Aceh Mengaku Sudah Diperiksa Polisi

Untuk diketahui, kasus tersebut bermula ketika Rizki, seorang pelayanan kantor cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan, Sumatera Utara, diminta bantuan untuk membuka rekening di Bank Aceh dan menerima transfer sejumlah uang ke rekening tersebut. 

Permintaan itu keluar dari mulut Deddy Nofendy, Kepala Kantor Cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan, Sumatera Utara.

Namun karena status Rizki sebagai pegawai di Bank Aceh, mereka memutuskan untuk pembukaan rekening atas nama ibu kandung Rizki, Yusnamurti.

Alasan Rizki bersedia memenuhi permintaan itu karena permintaan itu atas dasar membantu meningkatkan pendapatan perusahaan. Perintah itu membuatnya merasa berguna sebagai pesuruh di kantor itu.

Setelah membuka tabungan itu, Rizki terperangah melihat jumlah yang masuk ke Ibunya, Yusnamurti. Dia juga tak pernah menyangka “memiliki” uang sebesar itu dalam tabungan ibunya.

“Jumlahnya 1,9 miliar (rupiah),” kata Rizki, di sebuah warung kecil di kawasan Amaliun, Medan, Sumatera Utara, Ahad dua pekan lalu, seperti dilansir di RMOLAceh.id

Rekening itu dibuka pada 28 Juni 2019. Namun, Rizki mengaku tak pernah menerima buku rekening dan kartu ATM.

Di hari yang sama, juga di kantor cabang Bank Aceh yang sama, rekening itu menampung uang sebesar Rp 1,9 miliar. Empat hari kemudian, rekening itu menerima uang bagi hasil dari penyimpanan itu sebesar lebih dari Rp 500 ribu.

Sebulan kemudian, rekening Yusnamurti kembali mendapatkan setoran dari bagi hasil sebesar Rp 5,2 juta. Jumlah bagi hasil yang masuk ke rekening Yusnamurti, dari bagi hasil, di Agustus berkurang menjadi Rp 4,8 juta.

Pada 11 September 2019, Yusnamurti mengalihkan uang sebesar Rp 1,9 miliar, ke sebuah rekening di bank milik Badan Usaha Milik Negara. Usai dana besar itu beralih, bagi hasil di rekening Yusnamurti menyusut menjadi Rp 1,6 juta pada akhir September dan Rp 35 ribu di bulan berikut.

Buku tabungan itu baru diterimanya beberapa bulan lalu. Dia lantas mencetak rekening koran tabungan ibunya. Rizki baru menyadari bahwa uang yang pernah melintas di tabungannya berjumlah fantastis. Rizki mengaku hanya menerima Rp 2 juta dari dana bagi hasil uang di rekening ibunya itu.

Komentar

Loading...