Keluarga Pelaku Pembunuh Guru SMK di Aceh Barat Diasingkan

Keluarga Pelaku Pembunuh Guru SMK di Aceh Barat Diasingkan
Warga menyerahkan kue adat ke Mapolsek Samatiga, Sebagai bentuk apreasiasi kinerja cepat polisi. Foto: AJNN/Aidil Firmansyah.

ACEH BARAT - Berhasilnya polisi memburu pelaku pembunuhan seorang Guru SMK Negeri Arongan Lambalek, Fitriani (45) warga Gampong Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat. Menjadi apresiasi pengungkapan kasus tercepat di tahun 2021. 

Dalam kurun waktu 11 hari sudah berhasil terungkap dalangnya, berbeda dengan kasus Nek Dahniar yang memakan waktu hingga 1 bulan lebih, dengan serangkaian kasus serupa, pembunuhan disertai perampokan.

Namun, hal itu ternyata menimbulkan efek samping terhadap keluarga korban. Alibi disebut "PKI" oleh korban, seperti yang diterangkan tersangka kepada awak media dan tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), membuat keluarga terkena mental. Apalagi almarhumah merupakan panutan sebagai tenaga pendidik, dengan julukan guru dermawan.

"Ya, bagaimana kita bilang, agak berat diterima oleh pihak keluarga, karena pribadi beliau keluarga lebih tahu, beliau seorang pendidik, dan perilaku beliau memang seorang pendidik, mengayomi dan memberi motivasi, apalagi beliau dari seorang anak ulama, itu memang agak berat sedikit,” kata suami korban menepis pengakuan terduga pelaku, Agusni, Sabtu (20/11/2021).

Atas cepatnya pengungkapan, puluhan masyarakat asal Desa Suak Timah bersama keluarga korban, menyambangi Mapolsek Samatiga dengan sebongkah kue adat, mereka mengapresiasi polisi karena berhasil meringkus pelaku.

“Kita berterimakasih kepada polisi, sudah menangkap pelaku, berharap ini menjadi kasus terakhir di wilayah kita,” ucap Agusni.

Benar saja, pasca pembunuhan tersebut membuat suasana desa mereka berubah drastis. Banyak warga yang enggan keluar rumah pada malam hari. Pukul 21.00 WIB aktivitas warga di luar sudah tidak ada, itu juga berpengaruh terhadap jamaah masjid yang lumayan berkurang dari biasanya.

Kepala Gampong Suak Timah, Tabrani Yusuf kepada AJNN, mengatakan, ketakutan warga sebelumnya dipicu belum terungkapnya pelaku. jangankan untuk minum kopi di warung seperti biasa, ke masjid saja untuk Salat magrib warga masih tidak berani.

Kepala Gampong Suak Timah, Tabrani Yusuf. Foto: AJNN/Aidil Firmansyah.

"Masyarakat sangat trauma, sebelum terungkap kasus ini, bahkan tidak ada yang berani keluar rumah, magrib suaminya mau shalat ke masjid tidak bisa, pada takut." ujar

Dikatakannya, sengaja keluarga terduga pelaku diungsikan ke luar desa karena kesepakatan masyarakat. Ditakutkan keberadaan mereka menjadi pemicu timbulnya kasus baru di wilayah tersebut. 

Apalagi, sanak keluarga korban, seperti adik dan saudara lainnya bisa emosi dikemudian hari karena melihat keluarga pelaku yang masih beraktivitas di desa tersebut. Keberadaan mereka pun dirahasiakan oleh aparat desa dari masyarakat.

"Untuk keluarga pelaku sementara kami ungsikan di tempat terpisah agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan, terjadi kasus baru, diluar desa, itu kesepakatan warga," pungkasnya.

Sementara itu, pihak kepolisian kini terus melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut, serta melengkapi dokumen untuk segera dilimpahkan ke Kejaksaan.

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini