Unduh Aplikasi

Kelahiran Muhammad

Kelahiran Muhammad
Galaksi. Foto: Serge Brunier

SETIAP muslim tentu memiliki kadar kecintaan kepada Nabinya, Muhammad saw. Jangan ditanyakan kadarnya. Itu hanya yang bersangkutan yang tahu. Rasa cinta yang ditunjukkan dengan ucapan atau bait-bait salawat yang diucapkan secara nyata ataupun sembunyi-sembunyi.

Sering kali rasa cinta itu tak seindah ungkapan kata atau bait-baik kasidah. Karena ternyata cinta kepada Muhammad membutuhkan lebih dari sekadar keinginan. Di kampung-kampung, akan ada kenduri-kenduri besar dengan hidangan yang beragam. Dilanjutkan dengan ceramah agama dari para dai baik tingkat lokal ataupun interlokal. Warga desa berbondong-bondong datang ke meunasah.

Namun perasaan itu tak pernah seceria saat kaki melangkah ke mal-mal atau tempat-tempat hiburan. Kiriman salawat kepada dirinya juga lebih sering dilakukan hanya karena berharap syafaat di hari akhirat. Bukan karena kecintaan sesungguhnya. Cinta yang tak pernah menginginkan balasan apapun dari yang dicintai.

Muhammad juga lebih sering disebutkan dalam pidato-pidato yang sebenarnya lebih difokuskan pada kepentingan-kepentingan duniawi. Karena sebenarnya, kecintaan kepada Muhammad tak lebih besar dari kecintaan terhadap kekuasaan. Dan setiap kita berlomba-lomba menjadikan diri bergantung erat pada kekuasaan yang sebenarnya tak berarti apapun ketimbang rasa takut kehilangan benda.

Meski Muhamamad mengajarkan kepada kita sebuah konsep yang jelas tentang hidup dan kehidupan, namun rasa takut terhadap kehilangan lebih besar ketimbang ungkapan syukur. Bahkan saat berkendaraan, untuk memberikan jalan kepada seseorang yang menyeberang jalan pun kita masih enggan. Alih-alih mengalah, kita malah mengancam mereka dengan suara klakson dan kecepatan yang semakin ditambah.

Mungkin kita dengan mudah menggantikan Muhammad dengan simbol-simbol dan berpura-pura bahwa kita tetap masih menjadi pengikutnya. Perlahan-lahan, karena kemunafikan, kita menjadi bingung membendakan antara cinta kepada Muhammad dan kecintaan kepada diri sendiri. Bahkan saat kita mengaku menjadi pengikut, ucapan itu tak pernah benar-benar sampai di hati, hanya memenuhi kerongkongan saja.

Tentang kecintaan Muhammad kepada ummatnya, dan keteladanan Muhammad sebagai sosok yang dicintai, tentu perlu direfleksikan kembali. Karena Muhammad bukan simbol, bukan pula jargon. Saat seluruh manusia berhenti mengingatnya, Allah dan malaikat tetap memenuhi jagad raya ini dengan salawat kepadanya. Allahumma Salli ala Muhammad.

Komentar

Loading...