Unduh Aplikasi

Kekeringan, Empat Gajah di Lahan Konservasi Terancam Mati

Kekeringan, Empat Gajah di Lahan Konservasi Terancam Mati
Melur, gajah betina di CRU Batee Ulee, mencoba menyedot air minum dari celah bebatuan. Foto: Safrizal.
LHOKSEUMAWE - Empat ekor gajah yang dikarantina di Conservation Response Unit (CRU), di Dusun Batee Ulee, Coet Girek, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, terancam mati. Kawasan itu mengalami kekeringan parah yang menyusutkan persediaan air untuk minum dan mandi gajah tersebut.

“Sungai yang sebelumnya dijadikan tempat mandi dan minum gajah juga ikut mengering,” kata Ferdi,s seorang mahot (pawang gajah), Sabtu (30/4).

Ferdi menunjuk Melur, seekor gajah betina, yang lebih suka bertahan tak jauh dari lokasi mereka. Sedangkan tiga gajah lain mencari makan di hutan. Keempat gajah ini bertugas sebagai pemukul yang membantu mahot menjinakkan atau mengusir gajah liar.

Ferdi dan rekan-rekannyad di kawasan konservasi itu juga mencoba mencari alternatif lain dengan mengais air dari celah bebatuan. Sayang, volume air yang mengalir dari bebatuan itu tak memadai untuk dikonsumsi serta untuk mendinginkan tubuh gajah. Setiap hari, gajah membutuhkan ratusan galon air untuk berkubang lumpur.

Kekeringan ini, kata Ferdi, disebabkan oleh gundulnya hutan di sekitar kawasan konservasi. Peralihan fungsi lahan, dari hutan menjadi perkebunan, membuat kawasan resapan air berkurang. Di musim kemarau seperti yang terjadi saat ini, sumber-sumber air, seperti air dan kolam, menjadi lebih cepat kering.

“Kami berharap Pemerintah Aceh Utara turun tangan untuk membantu mencarikan solusi agar nyawa gajah-gajah ini tidak terancam,” kata Ferdi.

Komentar

Loading...