Unduh Aplikasi

Kekerasan Terhadap Anak PR Bersama

BANDA ACEH -  Kekerasan terhadap anak yang marak terjadi di Aceh merupakan Pekerjaan Rumah (PR) bagi seluruh masyarakat. Hal itu disampaikan ketua Presidium Balai Syura Ureung Ineong Aceh Suraya Kamaruzzaman saat melakukan aksi protes kekerasan anak, di Bundaran Simpang Lima Banda Aceh, Senin (05/10).

Suraya  menyesalkan kekerasan fisik dan seksual terhadap anak masih terus terjadi meskipun Aceh sudah memiliki qanun perlindungan anak.

Syariat islam yang diterapkan di Aceh, menurutnya juga belum menjanjikan sanksi tegas untuk pelaku kejahatan seksual.

"Memang sudah ada qanun Jinayah yang di dalamnya memuat tentang hal tersebut, tetapi qanun jinayah sendiri juga ada beberapa persoalan yang harus dilengkapi," ungkap Suraya.

Di samping itu, lanjut Suraya, isu kekerasan terhadap anak di Aceh juga belum menarik perhatian ulama. Menurut Suraya para ulama lebih tertarik dengan hal-hal lain sehingga lupa dengan urusan kemanusian yang terjadi di sekitar.

"Persoalan yang seperti ini luput dari perhatian ulama di Aceh, seharusnya para ulama di Aceh harus lebih peduli, menyuarakan persoalan ini, dengan begitu persoalan ini akan menjadi perhatian semua orang," tutur Suraya

Selain itu, upaya pemerintah dalam menekan angka kekerasan seksual terhadap anak juga dinilai belum maksimal. Untuk itu dirinya menyarankan persoalan ini harus menjadi perhatian semua pihak.

"Pelaku itu biasanya orang yang seharusnya menjadi pelindung, oleh karena itulah butuh kerja sama, semua pihak untuk melindugi anak, termasuk juga para ulama di Aceh," ujar Suraya.

Menurut Suraya, berdasarkan data Jaringan Pemantau Anak (JPA) tahun 2014 terdapat 36 kekerasan seksual terhadap anak.

Kasus tersebut umumnya dilakukan oleh orang terdekat korban. Seperti orang tua, paman dan tetangga korban. Bahkan, dari kasus tersebut ada korban yang sampai hamil dan melahirkan.

Sedangkan untuk tahun 2015, menurut Suraya, JPA masih melakukan pendataan. Menurutnya, data terbaru yang diperoleh pihaknya yaitu kekerasan terhadap anak yang marak terjadi sejak sebulan ini.

"Saya pikir ini persoalan yang sangat serius, ini bukan lagi kriminal tapi sudah menjadi kejahatan dan pelanggaran kemanusian keras, hak anak sudah dirampas, ada tiga anak yang sekarang diperkosa," katanya.

Menurut Suraya, fonis penjara dua sampai tiga tahun yang selama ini diterima pelaku tidak memberikan efek jera. Untuk itu ia mengatakan perlunya pemberian sanksi sosial dengan mengucilkan pelaku.

"Di samping itu banyak hal yang harus dilakukan pemerintah terutama penegakan hukum, harus mencari pelaku kekerasan terhadap anak agar diadili seberat beratnya sehingga efek jera itu ada," tutup Suraya.

(HENDRA KA)

Komentar

Loading...