Unduh Aplikasi

Kejati Aceh Tangani 20 Perkara Korupsi Sepanjang 2020

Kejati Aceh Tangani 20 Perkara Korupsi Sepanjang 2020
Kantor Kejaksaan Tinggi Aceh. Foto: IST.

BANDA ACEH - Sepanjang tahun 2020, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh telah menangani 20 perkara tindak pidana korupsi. Dari 20 perkara tersebut, 15 perkara masih dalam tahap penyelidikan dan 5 perkara sudah ditingkatkan ke penyidikan.

Dikutip dari laman Facebook Kejaksaan Tinggi Aceh, Senin (11/1), ada lima perkara dalam tahap penyidikan yakni perkara Keramba Jaring Apung, perkara Muara Situlen, perkara Jembatan Kuala Gigieng, perkara Pelindo Aceh, dan perkara pengadaan tanah di Aceh Tamiang.

Pihak Kejati Aceh menyebutkan bahwa perkara Keramba Jaring Apung sedang menunggu audit kerugian negara dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dalam kasus ini, jaksa telah menetapkan mantan Direktur PT Perikanan Nusantara (Perinus), Dendi dan menyita sejumlah barang bukti termasuk uang tunai senilai Rp 36,2 miliar.

Baca: Kajati Aceh Janji Tuntaskan Kasus Korupsi Keramba Jaring Apung di Sabang

Selanjutnya, perkara Muara Situlen-Gelombang, sedang menunggu penghitungan ahli dan menunggu ditindaklanjuti penghitungan kerugian negara dari BPKP Aceh. 

Dalam perkara Muara Situlen-Gelombang tersebut, penyidik sudah menghitung estimasi kerugian negara sebesar Rp 2 miliar dan sudah ada penetapan tersangka empat orang yaitu (J) selaku KPA, (SA) selaku pihak PPTK, (KS), (KR) rekanan, dan ada satu tersangka lainnya tetapi sudah meninggal dunia. 

Baca: Kasus Muara Situlen, Kejati Aceh Tetapkan Empat Orang Tersangka

Pihak Kejati Aceh juga menegaskan masih ada kemungkinan tersangka dalam kasus ini bertambah setelah nanti ada kepastian dari ahli dan auditor BPKP.

Sedangkan untuk perkara jembatan Kuala Gigieng di Pidie sedang dalam tahap perhitungan ahli fisik dari Unsyiah bersama penyidik yang turun ke lapangan melakukan pengecekan lapangan.

Baca: Kasus Jembatan Muara Gigieng, Kejati Aceh Tunggu Perhitungan Ahli Fisik

Hasilnya sendiri nanti akan diserahkan kepada BPKP Perwakilan Aceh untuk dilakukan penghitungan kerugian negaranya. 

Selain itu untuk perkara Pelindo Aceh, hingga saat ini masih dalam tahap pengumpulan keterangan para saksi dan pengumpulan alat bukti, namun terkendala dengan situasi Covid-19. Para saksi juga positif Covid-19 dan berada di Medan yang masuk dalam zonasi merah sehingga belum dapat diperiksa, tetapi untuk saksi yang berada di Banda Aceh sudah dilakukan pemeriksaan.

Komentar

Loading...