Unduh Aplikasi

Kejari Banda Aceh Minta BPKP Hitung Kerugian Negara Atjeh World Solidarity Cup

Kejari Banda Aceh Minta BPKP Hitung Kerugian Negara Atjeh World Solidarity Cup
Kepala BPKP Aceh Indra Khaira Jaya. Foto: untuk AJNN.

BANDA ACEH - Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh melalui surat Nomor B-144/L.1.10/Fd.1/03/2021 meminta bantuan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh untuk melakukan Perhitungan Kerugian Keuangan Negara (PKKN) dalam kegiatan Atjeh World Solidarity Cup Tahun 2017 yang terindikasi adanya tindak pidana korupsi.

Kepala BPKP Perwakilan Aceh, Indra Khaira Jaya yang dikonfirmasi AJNN membenarkan terkait permintaan dari Kejari Banda Aceh agar pihaknya melakukan PKKN terkait kegiatan Atjeh World Solidarity Cup Tahun 2017.

"Benar, pihak Kejari Banda Aceh telah meminta kami melakukan PKKN atas kegiatan Atjeh World Solidarity Cup Tahun 2017 yang ada indikasi tindak pidana korupsinya," ujar Kepala BPKP Aceh, Indra Khaira Jaya kepada AJNN, Jum'at (16/4/2021) di Banda Aceh.

Menurut Indra, permintaan tersebut sudah diekspose permasalahannya oleh penyidik dari Kejari Banda Aceh kepada auditor BPKP Aceh pada akhir pekan ini dan telah disepakati layak untuk dihitung kerugian keuangan negaranya.

Baca: Kasus Tsunami Cup 2017 Kembali Mencuat, Kejari Panggil Ketua PSSI

Sebelumnya Kejari Banda Aceh kembali melakukan penyelidikan kasus dugaan korupsi Aceh World Solidarity Tsunami Cup 2017. Kasus tersebut sejak 2018 sudah mulai dilakukan penyelidikan oleh Kejari Banda Aceh. Bahkan sejumlah saksi sudah pernah dipanggil untuk dilakukan pemeriksaan.  

Namun setelah itu, tidak ada kabar perkembangan terkait kelanjutan kasus tersebut. Padahal publik sangat menunggu perkembangan kasus yang menelan anggaran Rp 2,5 miliar bersumber dari APBA. 

Memasuki tahun 2021, Kejari Banda Aceh dibawah kepemimpinan Edi Ermawan SH MH, kembali melanjutkan kasus tersebut yang sempat tersendat dua tahun lamanya. Hal itu diketahui sesuai dengan surat panggilan terhadap Ketua PSSI Aceh yang diterima AJNN. 

Dalam surat itu, Ketua PSSI Aceh diminta untuk menghadap penyidik. Dalam surat itu, Ketua PSSI Aceh juga diminta untuk membawa dokumen-dokumen mulai dari perencanaa kegiatan hingga dengan pencarian akhir kegiatan tersebut.

Penyelidikan itu sesuai dengan surat perintah penyelidikan terbaru yang dikeluarkan Kajari Banda Aceh bernomor 01/L.1.10/Fd.1/2021. 

Ternyata Ketua PSSI itu sudah dua kali dilakukan pemanggilan oleh Kejari Banda Aceh. Dimana surat pertama tertanggal 19 Januari 2021, dan surat kedua tertanggal 25 Januari 2021. Surat panggilan terhadap ketua PSSI Aceh.

Ketua PSSI Aceh itu akan diperiksa pada Kamis, 21 Januari 2021 di Kejari Banda Aceh pada pukul 09.00 WIB. Kemudian pada surat kedua, Ketua PSSI itu akan diperiksa pada Kamis, 28 Januari 2021 di Kejari Banda Aceh. 

Baca: Jaksa Periksa Panitia Sepak Bola Tsunami Cup 2017 

Hingga berita ini diunggah, AJNN belum mendapatkan konfirmasi dari Kajari Banda Aceh.  

Fakta-fakta Aceh World Solidarity

Tsunami Cup 2017 Turnamen Tsunami Cup 2017 merupakan pertandingan sepak bola yang menghadirkan sejumlah negara, termasuk Tim Nasional Indonesia. Anggaran yang dihabiskan sebesar Rp 2,5 miliar.  

Ada empat negara yang mengikuti turnamen itu yakni Indonesia, Mongolia, Brunei Darussalam dan Kyrgyzstan. Pertandingan itu berlangsung selama 4 hari, dari 1 sampai 6 Desember 2017 di Stadion Harapan Bangsa. 

Irwandi Yusuf yang saat itu baru saja dilantik sebagai Gubernur Aceh, yang melaunching turnamen itu di Hotel Hermes, Banda Aceh, Minggu (12/11/2017) pagi. 

Sementara Pembina Aceh World Solidarity yakni Zaini Yusuf, yang tidak lain merupakan adik kandung Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Kemudian, Ketua Panitia Tsunami Cup 2017, Moh Saadan Abidin. Selanjutnya, yang menjadi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh saat itu yakni Musri Idris. 

Rincian anggaran kegiatan World Solidarity Tsunami Cup 2017 AJNN menemukan Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh Tahun 2017 terkait dengan kegiatan itu.  

Baca: Anggaran Turnamen Aceh Word Solidarity Rp 2,5 Miliar 

Anggaran transport Jakarta-Banda Aceh (PP) untuk panitia pusat, pengawas pertandingan, komisi pertandingan, wasit nilainya sebesar Rp 60 juta.  Transportasi lokal pendamping 4 klub sebesar Rp 40 juta. Transportasi panitia, pengawas pertandingan, komisi pertandingan, wasit, LO Tim dan LGC sebesar Rp 50 juta. 

Kemudian transport peserta dari Klub A, Dalam negeri - Banda Aceh (PP) sebesar Rp 100 juta. Transport Klub B, Luar negeri-Banda Aceh (PP) sebesar Rp 100 juta, diikuti Klub C sebesar Rp 90 juta dan Klub D sebesar Rp 250 juta.  

Selanjutnya untuk akomodasi peserta, total anggarannya mencapai Rp 450 juta. Rinciannya setiap klub peserta mendapatkan biaya akomodasi sebesar Rp 112,5 juta. Biaya komsumsi yang dianggarkan totalnya mencapai Rp 180 juta.  

Selain itu, untuk hadiah biaya pembinaan bagi juara 1 diberikan uang tunai sebesar Rp 200 juta, untuk juara 2 sebesar Rp 150 juta, serta juara 3 dan 4 masing-masing diberikan uang tunai sebesar Rp 100 juta dan Rp 50 juta.  Kemudian bagi pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik masing-masing diganjal hadiah sebesar Rp 20 juta. 

Biaya yang disediakan untuk membayar jasa panitia, pengawas pertandingan, komisi pertandingan, annoucher, wasit, anak gawang, keamanan, tim medis, damkar dan protokoler total anggarannya mencapai Rp 316 juta.  

Sementara itu, untuk pembelian bola kaki, baju panitia, perangkat, tim peserta dan pembelian perlengkapan persiapan lapangan anggaran yang disediakan yaitu Rp 69 juta. Biaya publikasi dan promosi serta pengurusan perizinan pertandingan sebesar Rp 55 juta. 

Untuk sewa ambulance, pembelian obat-obatan, dokumentasi, pembuatan baliho, vooridjder, sms blast, sewa sound system dan lighting total biayanya sebesarnya Rp 106 juta.

HUT Pijay

Komentar

Loading...