Unduh Aplikasi

Kedelai Mahal, Pengusaha Tempe di Lhokseumawe Terancam Gulung Tikar

Kedelai Mahal, Pengusaha Tempe di Lhokseumawe Terancam Gulung Tikar
Pekerja mengaduk kedelai  tempat produksi tempe di Lhokseumawe. Foto: Sarina

LHOKSEUMAWE –  Harga kedelai melonjak drastis sejak dua pekan terakhir diseluruh penjuru Indonesia. Akibatnya, pengusaha tempe di Kota Lhokseumawe terancam gulung tikar.

Sebelumnya, harga bahan baku tempe tersebut Rp7.600 perkilogram, kini tembus Rp9.300, bahkan jika diambil langsung dari tangan agen sendiri bisa mencapai Rp10 ribu per kilogram.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Jafar Usman, pengusaha tempe asal Gampong Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Dia mengaku kenaikan harga kedelai sangat berdampak pada produksi tempe miliknya.

“Sebelumnya dalam sehari kita memproduksi hingga satu ton, tapi sekarang kita kurangi menjadi 800 kilogram,” kata Jafar kepada AJNN, Sabtu (2/1).

Lanjut Jafar, jika harga kedelai terus melonjak, dirinya mengaku usahanya terancam tutup dan gulung tikar. Bahkan, saat ini tenaga kerja yang sebelumnya ditampung 20 orang, harus dikurangi menjadi 12 orang.

“Dampak lain, kita harus mengurangi tenaga kerja akibat harga kedelai naik, sekarang tersisa 12 orang saja, itupun saya bagi dua sift, masing-masing 15 hari,” ujarnya.

Meskipun harga kedelai mahal, kata Jafar, harga tempe tetap sama, hanya saja kalau sebelumnya ukuran tempe dua one harus dikurangi menjadi satu ons setengah. Sebab jika harga tempe lebih mahal dari ikan, tidak akan ada pembelinya.

“Penyebab kenaikan harga kedelai kita tidak tau persis kenapa, namun selaku pengusaha kami berharap kepada pemerintah, agar kembali menstabilkan harga kedelai, kalau tidak kami harus tutup usaha alias gulung tikar,” imbuhnya.

Komentar

Loading...