Unduh Aplikasi

Kebutuhan Bulan Ramadan dan Idul Fitri di Lhokseumawe Capai Rp 1,62 Triliun

Kebutuhan Bulan Ramadan dan Idul Fitri di Lhokseumawe Capai Rp 1,62 Triliun
Ilustrasi. Foto: Net

LHOKSEUMAWE - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kota Lhokseumawe memprediksi kebutuhan uang tunai untuk kebutuhan bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tahun ini mencapai Rp 1,62 triliun. Kenaikan ini didorong oleh adanya pembayaran Gaji ke-13 dan 14 kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) dan periode libur panjang.

Kepala KpwBI Lhokseumawe, Yufrizal mengatakan aliran uang kartas dari Bank Indonesia ke Bank Umum (Outflow) uang pada Ramadan diprakirakan didominasi oleh uang pecahan besar Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu mencapai 94,3 persen dari total outflow.

“Untuk memenuhi kebutuhan uang bagi masyarakat tersebut, Bank Indonesia akan melakukan kerjasama dengan perbankan untuk menjadi layanan penukaran uang baik di kantor bank, mobil kas keliling BI, maupun melalui pembukaan lokasi penukaran di beberapa lokasi pusat keramaian di Kota Lhokseumawe,” kata Yufrizal saat dikonfirmasi AJNN, Senin (6/5).

Saat disinggung persiapan BI sendiri terkait ekonomi masyarakat Lhokseumawe, dan berapa jumlah uang yang disediakan selama bulan Ramadan, Yufrizal menegaskan kalau Bank Indonesia menjamin kebutuhan uang kartal sepanjang bulan Mei dan Juni dalam rangka Ramadan dan Idul fitri akan dapat tercukupi dengan baik.

Hal ini didukung oleh beberapa kebijakan salah satunya penyediaan uang layak edar sebagai upaya mendukung kesiapan perbankan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kami juga mengharapkan agar Ramadan tahun ini dapat menjadi media untuk meningkatkan keimanan dan beribadah dengan lebih baik serta mampu menjadikan kita lebih bijak dalam berkonsumsi sehingga turut menjaga permintaan dan harga tetap stabil,” ungkapnya.

Lanjutnya lagi, Pemko Lhokseumawe dan BI dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Lhokseumawe bekerjasama dengan Satgas Pangan (kepolisian) akan terus berkoordinasi dan melakukan langkah antisipatif dalam rangka stabilisasi harga. Salah satunya melalui Operasi Pasar, Pasar Murah, inspeksi pasar di beberapa titik lokasi di Kota Lhokseumawe dan sekitarnya.

“Di samping itu, kami juga menjamin pelayanan sistem pembayaran baik tunai maupun non tunai dalam rangka memenuhi kebutuhan uang masyarakat selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 1440 H tetap terlaksana dengan optimal dari sisi kelancaran maupun keandalannya,” ujar Yufrizal.

Selain itu, ia juga mengungkapkan kalau persepsi masyarakat Kota Lhokseumawe tentang kondisi ekonomi tersebut sangat optimis. Hal itu diketahui berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia terhadap penentu keputusan keuangan dalam rumah tangga yang dilakukan secara bulanan.

Hal ini tercermin dari angka Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang di atas 100 dan meningkat dari 110,9 pada Januari 2019 menjadi 136 pada April 2019. Jadi mengindikasikan bahwa masyarakat memiliki daya beli yang baik untuk memenuhi kebutuhan.

Yufrizal menjelaskan berdasarkan survei yang sama, masyarakat juga memiliki persepsi bahwa harga barang dan jasa secara umum pada April dan Mei 2019 mengalami kenaikan.

“Hal ini didorong oleh prakiraan tingkat konsumsi yang akan meningkat sejalan dengan adanya Puasa Ramadhan dan Perayaan Idul Fitri yang disertai dengan adanya kegiatan Kendhuri dan Meugang,” kata Yufrizal.

Pada April 2019, Kota Lhokseumawe mencatatkan inflasi sebesar 0,64 persen (mtm). Namun tetap terkendali karena secara tahun kalender (April 2019 dibandingkan Desember 2018) masih mencatatkan deflasi (penurunan harga secara umum) sebesar (-) 0,36 persen (ytd).

Kenaikan cabai merah, bawang putih dan bawang merah pada periode ini disebabkan oleh terganggunya pasokan karena cuaca hujan yang menyebabkan komoditas tersebut mudah rusak. Selain itu produksi bawang putih domestik minim dan mayoritas masih diimpor. Ditambah lagi permintaan yang mulai meningkat memasuki tradisi Meugang menjelang Ramadhan.

“Untuk bawang putih, kondisi ini diprakirakan akan berangsur menurun sejalan dengan dilakukannya impor dan distribusi bawang putih oleh pemerintah pusat pada bulan Mei 2019," ujarnya.

Sementara untuk cabai dan bawang, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah berkoordinasi jauh hari sebelumnya yaitu pada 9 April 2019 dan telah melakukan upaya untuk memastikan pasokan kebutuhan pokok cukup menghadapi Ramadan dan Idul Fitri.

Sambungnya lagi, upaya yang dilakukan BI Lhokseumawe untuk mengantisipasi hal itu antara lain membina dan mengarahkan kelompok tani cabai merah di Aceh Tengah dan bawang merah di Aceh Utara dan beberapa daerah lain di sekitar Kota Lhokseumawe. Selain itu, TPID juga memastikan kelancaran distribusi pasokan kebutuhan pokok tersebut dari luar Aceh sehingga mampu memenuhi permintaan.

“Permintaan yang mulai tinggi diimbangi dengan pasokan yang terjaga tersebut dinilai berdampak pada inflasi yang terkendali sehingga tidak berdampak buruk pada masyarakat. Sebagai informasi, TPID Lhokseumawe diketuai Walikota dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe sebagai wakil ketua,” jelasnya.

iPustakaAceh

Komentar

Loading...