Unduh Aplikasi

INTERMESO

Kebodohan dan Kekuasaan

Kebodohan dan Kekuasaan
Ilustrasi: twitter

DALAM sebuah video prank, seorang pria yang duduk di ruang tunggu rumah sakit mulai tertawa sendiri. Orang-orang yang berada di sekitarnya mulai merasa aneh. Namun mereka juga ikut-ikutan geli. Senyum-senyum melihat kelakuan pria tersebut dan ikut tertawa saat si pria tertawa lebih keras. 

Ini adalah sebuah uji coba untuk membuktikan bahwa tawa juga bisa menular. Otak merespons suara tawa dan menghubungkan otot-otot wajah sebagai persiapan untuk bergabung dengan ekspresi kegembiraan tersebut. “Tertawalah, maka seluruh dunia akan ikut tertawa bersama Anda”. 

Banyak juga prilaku yang mendorong orang lain melakukan hal yang sama. Saat kita duduk berhadap-hadapan dengan seseorang dan membersihkan kotoran dari pinggir mata, maka orang yang duduk di hadapan kita akan melakukan hal sama, entah dia sadari atau tidak. 

Termasuk pula kebodohan. Di awal pandemi covid-19 merebak, seorang perempuan menjilat tepian dudukan kloset. Aksi ini direkam dalam video pendek dan disebar dalam aplikasi berbagi rekaman yang naik daun. 

Aksi ini direkam dan disebarkan untuk menunjukkan bahwa perempuan itu tak takut terhadap virus corona. Dalam hitungan menit, akun perempuan itu disukai puluhan ribu orang dan diikuti oleh banyak orang pula. Video itu diberi label tantangan corona. Syukurnya, aksi itu tidak diikuti di negara ini. 

Saat sejumlah pejabat negara memilih langkah klenik ketimbang medis, dalam menangani penyebaran corona, hal ini pun ditiru oleh pejabat lain di daerah-daerah. Bahkan saat ini, saat alat rapid tes tidak direkomendasikan mendeteksi covid-19 di tubuh seseorang, pejabat di negara ini tetap menjadi rapid tes sebagai syarat untuk melakukan perjalanan melalui udara. 

Tertawa atau menguap memang menular. Sama seperti kebodohan. Namun yang terakhir memiliki efek jauh lebih mematikan. Terutama saat kebodohan berpadu dengan kekuasaan. Sekonyong-konyong, kebodohan pun menjadi kejahatan.

Komentar

Loading...