Unduh Aplikasi

INTERMESO

Kebijakan Tepung

Kebijakan Tepung
Ilustrasi: Faisal Basri.

SABAN tahun, menjelang Ramadan atau hari-hari besar, seperti Idul Fitri, Idul Adha, atau Bulan Maulid, semua orang panik dengan kenaikan harga. Beragam tindakan dibuat. Mulai dari ancaman hingga pengawasan bertubi-tubi. 

Kepala daerah berlomba mengeluarkan seruan-seruan yang meminta agar para pedagang tidak menaikkan harga. Para penimbun juga diharapkan ikhlas untuk tidak beraksi menahan pasokan barang kebutuhan pokok.

Namun sepanjangan hari pula, menjelang hari-hari besar itu, media massa selalu saja dihiasi dengan berita tentang harga-harga yang menggila. Mulai gula hingga daging. Mulai Kuala Simpang hingga Banda Aceh. 

Parahnya, banyak orang yang menganggap kenaikan harga adalah sesuatu yang wajar. “Sesuai permintaan.” Nanti, menjelang Idul Fitri, ongkos-ongkos kendaraan juga naik. Sama seperti harga kebutuhan pokok, seperti telur atau tepung. 

Beruntung tahun ini tak ada mudik. Mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang akan bepergian di masa-masa itu. Tapi kalau membuat kue, apakah ada ibu rumah tangga yang tidak membuat kue? Atau minimal membeli kue yang bahan-bahannya terbuat dari tepung dan telur. 

Kesadaran tentang stabilitas harga ini sangat dipengaruhi oleh pola pikir. Saat para pejabat menganggap kenaikan harga adalah sebuah kewajaran, maka yang terjadi adalah tindakan-tindakan reaksioner. Setelah hari-hari besar itu berlalu, mereka menganggap masalah selesai. 

Padahal jika dipikirkan dengan cermat, hal-hal seperti ini dapat dihindari agar tak terus berulang. Namun lagi-lagi, ini bukan soal membantu masyarakat. Ini adalah soal pencitraan. Sepanjang masalah ada, maka para pejabat akan terus bertindak bak pahlawan dan mereka menganggap itu sebuah keberhasilan. Padahal itu adalah tugas mereka. Paleh!

Idul Fitri - Disdik
Idul Fitri - BPKA
Idul Fitri - ESDM Aceh
Idul Fitri - Disbudpar
Idul Fitri- Gubernur Aceh

Komentar

Loading...