Unduh Aplikasi

Keberadaan 200 Ekor Sapi Dinas Pertanian Agara Masih Misterius

Keberadaan 200 Ekor Sapi Dinas Pertanian Agara Masih Misterius
Sapi-sapi milik Dinas Pertanian Agara yang dibeli dengan sumber anggaran Otsus 2019. Foto: AJNN/JAPAR

ACEH TENGGARA - Keberadaan 200 sapi milik Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tenggara hingga kini masih misterius. Pasalnya sapi-sapi tersebut tidak diketahui keberadaannya. Padahal sapi-sapi tersebut dibeli dengan sumber anggaran Otsus tahun 2019 dengan total anggaran Rp 2 miliar lebih. Pengadaan sapi itu dimenangkan oleh CV Mina Ria Mandiri.

Sapi-sapi itu dikelola oleh lima UPTD Dinas Pertanian Agara, dengan tujuan untuk pengembangan, namun sejauh ini keberadaan-keberadaan sap-sapi tersebut tidak ada lagi di UPTD, melainkan diduga dipelihara oleh pihak ketiga.

Kadis Pertanian Agara, Hasbi mengaku hingga kini sapi tersebut hanya tersisa 68 ekor lagi, itu berdasarkan laporan lisan dari Kabid Pertenakan, Safi’i. Bahkan, 68 ekor sapi sisa itu juga tidak berada di UPTD, melainkan dipelihara di lima lokasi berbeda oleh pihak ke tiga di Aceh Tenggara.

Dengan rincian, tujuh ekor di Engkran, Kecamatan Lawe Alas, tujuh ekor di Desa Jongar, 21 ekor di Desa Kumbang Indah, Kecamatan Badar, tujuh ekor di Desa Lawe Sumur, Kecamatan Lawe Sumur, serta 21 ekor di Desa Simpang Semadam, Kecamatan Simpang Semadam.

Sementara, 132 sapi lagi yang tidak tahu keberadaanya, Hasbi mengaku sudah mempertanyakan kepada kabid tersebut, dan meminta untuk membuat berita acara kalau benar sapi-sapi itu mati.

"Untuk 132 ekor sapi yang sudah tidak ada lagi, saya sudah minta kabid pertenakan membuat laporan yang jelas sesuai fakta tentang kekurangan sapi tersebut, dengan memperlihatkan berita acara dan dokumen berupa foto sapi yang telah mati," kata Hasbi.

Baca: 200 Sapi di Bawah Dinas Pertanian Agara Tak Jelas Keberadaannya

Sejauh ini, Hasbi juga mengaku sudah melayangkan surat secara resmi kepada kabidnya sebanyak tiga kali terkait permintaan laporan berita acara dan dokumentasi berupa foto terkait kekurangan 132 sapi tersebut. Namun hinga saat ini, Safi’i belum dapat membalas dan membuat laporan resmi baik tentang sisa sapi yang masih ada dan kekurangan sapi sudah mati tersebut .

“Saya sudah laporkan permasalah ini kepada Bupati Aceh Tenggara, Raidin Pinim,” ujarnya.

Bahkan, Raidin Pinim sudah menghubungi kabid tersebut berkali-kali melalui telepon seluler, namun kabid tersebut belum juga menjawab panggilan orang nomor satu di Agara itu.

“Safi’i sepertinya belum bersedia menghadap dan mengangkat telepon dari bupati,” kata Hasbi.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Potensi Intelektual  Muda (LP2IM) Kabupaten Aceh Tenggara, Sopian Desky, menduga sisa sapi-sapi tersebut sudah habis.

“Faktanya hinga saat ini kabid tersebut belum bisa memberikan keterangan dan berita dokumentasi secara resmi kepada kadisnya, bahkan mengabaikan pangilan dari bupati juga,” kata Sopian.

Ia juga sangat menyayangkan tingkah laku seorang pejabat publik seperti kabid pertenakan yang tak patuh kepada perintah pimpinan, konon lagi memberikan pelayanan terhadap masyarakat.

“Kami minta bupati agar memerintahkan kabid tersebut mempertangungjawabkan, baik tentang keberadaan 68 ekor sapi dan 132 sapi yang telah tiada, serta memberi sangsi tegas, kalau bisa copot saja jabatanya,” tegas Sopian Desky.

|JAPAR

Komentar

Loading...