Unduh Aplikasi

Kebas Ditampar Narkoba

Kebas Ditampar Narkoba
Ilustrasi: The Scientist Magazine.

KASUS dugaan penggunaan narkoba oleh seorang kepala kepolisian sektor di Jawa Barat sebenarnya hanya puncak gunung es. Ibarat tamparan, wajah kepolisian sepertinya sudah kebas dengan berbagai tamparan akibat penggunaan narkoba oleh anggotanya, baik di tingkat bawah atau di tingkat atas. 

Kasus-kasus penggunaan narkoba oleh oknum anggota kepolisian ini sejalan dengan semakin maraknya peredaran narkoba di jalanan. Tak peduli tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat, pesohor-rakyat biasa, pegawai kantoran-buruh lepas, hampir tak ada sisi yang tak terkontaminasi penyalahgunaan narkoba, terutama jenis sabu-sabu. 

Jumlah barang bukti sabu-sabu yang ditangkap juga luar biasa banyak. Barang bukti sabu-sabu yang coba diselundupkan dari perairan Aceh saja cukup bikin bergidik. Belum lagi di perairan daerah lain yang tak terpantau oleh aparat keamanan atau malah bekerja sama dengan aparat keamanan untuk memasukkannya ke daratan. 

Kompol Yuni mungkin hanya ketiban sial saat ditangkap oleh Propam Polda Jawa Barat, di sebuah hotel, saat menikmati sabu-sabu dengan sejumlah anak buahnya. Karena itu, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, mewacanakan tes urin bagi setiap anggota kepolisian untuk mengetahui apakah mereka pengguna narkoba atau tidak. 

Namun jika Jenderal Sigit benar-benar serius, seharusnya dia melakukan tes yang lebih akurat ketimbang tes urin. Kapolri harus merekomendasikan metode pemeriksaan penggunaan narkotika menggunakan dari sampel rambut. 

Tes urine dan tes darah untuk mengetahui zat narkoba di dalam tubuh memiliki banyak kelemahan. Efek narkotika dalam urine dan darah itu mudah dan cepat hilang. Tes ini tidak bisa digunakan untuk mengetahui apakah seseorang pernah memakai narkotika atau tidak pada saat orang tersebut berhenti mengonsumsi. 

Jika dalam satu minggu seorang anggota kepolisian tidak pakai narkotika, setelah Kapolri menginstruksikan pemeriksaan secara menyeluruh, besar kemungkinan efeknya tidak akan terlihat di urine maupun darah. 

Berbeda jika sampel yang diambil adalah rambut. Tes rambut biasanya digunakan untuk menentukan penggunaan narkoba dalam jangka waktu yang relatif lebih lama, biasanya selama sampai 90 hari. Tes rambut bisa digunakan untuk mendeteksi berbagai jenis narkoba seperti kokain, ganja, opiat, methamphetamine, phencyclidine, serta alkohol.

Tes rambut untuk mendeteksi narkoba memiliki masa yang paling lama dibandingkan pengujian dengan sampel lainnya. Dengan sampel rambut, pendeteksian disarankan satu bulan setelah prediksi pemakaian, karena umumnya rambut manusia tumbuh 1 sentimeter setiap bulan.

Pada umumnya, narkoba juga baru terdisposisi pada rambut setelah 7 hari dari prediksi pemakaian. Selain memiliki masa pendeteksian lebih lama dibanding sampel lainnya, tes rambut juga memiliki kelebihan lain. Di antaranya yakni sifat hasil ujinya lebih stabil.

Selain itu, sampel rambut juga lebih mudah dalam proses pengiriman dan penyimpanan sampel, karena tidak memerlukan suhu dingin. Dibandingkan dengan urine, sampel rambut juga Lebih sulit untuk dicampur dengan bahan kimia lain atau ditukar, sehingga meminimalkan terjadi kesalahan teknis.

Untuk mengefektifkan tes ini, kepolisian dapat menggandeng seluruh laboratorium yang ada di setiap daerah. Tanpa cara-cara yang benar untuk mengantisipasi penggunaan narkoba di kalangan anggota kepolisian, Jenderal Sigit tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. 

Komentar

Loading...