Ke Langsa, Fazlun Hasan Kembali

Ke Langsa, Fazlun Hasan Kembali
Salam persahabatan Ketua DPW Partai Nasdem Aceh Zaini Jalil (kiri), Fazlun Hasan (tengah), dan Riswan, bupati Seumeulue

FAZLUN Hasan, tokoh pembaharu Aceh di Jakarta, betekad ingin maju sebagai kandidat Wali Kota Langsa pada 2017. Keinginan Fazlun untuk kembali ke tanah kelahirannya karena kuatnya magnet dukungan dari warga di sana.

"Jika rakyat meminta, saya siap kembali," tegas Fazlun Hasan, pada acara makan siang bersama sahabat media, di Banda Aceh, Minggu (13/3). Pada pertemuan persahabatan itu, Fazlun Hasan juga dimotivasi oleh Zaini Jalil, Ketua DPW Partai Nasdem Aceh. "Fazlun merupakan salah satu bakal calon wali kota yang masuk dalam target survey Partai Nasdem," tegas Zaini Zalil kepada AJNN.

Siapa Fazlun Hasan?

Lelaki dendi (perlente) ini begitu akrab dengan warna hitam dan putih. Ketika seorang jurnalis menanyakan kegemarannya menggunakan dua warna yang selalu melekat di hampir setiap penampilan dan uniform organisasinya, itu dengan santai ia bilang, “hidup ini tidak ada istilah abu-abu, semua harus jelas: hitam atau putih.” Begitu palsafah seorang Fazlun; tegas dan jelas.

Ya, lelaki bernama lengkap Fazlun Hasan ini, memang, tengah menjadi perhatian banyak orang. Pemikiran dan langkah-langkah politiknya sering mengejutkan dan tak bisa diduga. Apalagi Fazlun sosok yang santun, cerdas, bersahaja, ramah, dan murah senyum. Tapi, belakangan, aktivis satu ini lebih mirip selebritas: foto dan namanya sempat mejeng di mana-mana saat mencalonkan diri sebagai senator pada 2014, dan ia selalu diperbincangkan khalayak. Jika dahulu orang mengenal Fazlun cuma lewat pemberitaan media karena aksi-aksinya memperjuangkan Aceh di Jakarta, kini sudah bisa bertegur sapa langsung atau berkomunikasi lewat telepon.

Kala itu, rumah sementara Fazlun di Banda Aceh pun tak pernah sepi,  apalagi posko relawannya. Di tempat itulah Fazlun menampung segala aspirasi konstituennya lewat pertemuan dan diskusi-diskusi kecil. Di rumoh rayeuk itu pula silaturrahmi dan keakraban dibangun oleh Fazlun Hasan dan tim suksesnya. Antara masyarakat dan mereka seperti tak berjarak karena posko itu dibuka untuk siapa saja, tak terkecuali tim-tim sukses calon anggota DPD-RI lainnya. “Kami menawarkan program, bukan menebar permusuhan. Rakyat kita sudah pintar, biarlah mereka yang menentukan pilihannya,” kata Fazlun.

Apa saja program-program Fazlun jika dia maju menjadi kandidat wali kota? Ini dia visi misi Fazlun Hasan! Membangun Langsa sebagai kota jasa yang akan menjadi magnet ekonomi bagi kabupaten/kota di Aceh;  Mempersatukan Elemen Sipil Aceh; Reformasi Pendidikan Dayah yang Bertaraf Internasional; Membangun Kembali Peradaban Aceh di tataran Gampong dengan Filosofi Meunasah (Meunasah merupakan tempat ibadah serbaguna, menyentuh semua elemen, tempat pemersatu masyarakat, sumber informasi dan kegiatan lainnya). “Hanya Dengan aqidah yang kuat Aceh bisa aman, tenteram, sejahtera, dan bermartabat. Tanpa itu, semuanya omong kosong belaka,” tegas Fazlun.

Siapa sebenarnya Fazlun Hasan?
Jika ditelusuri riwayat keluarganya, di tubuh Fazlun Hasan masih mengalir titisan “darah biru” Putri Saribanun, keluarga kesultanan Aceh. Suami dari dokter Marini Sartika Dewi, ini lahir di Desa Gampong Mulia, Kota Langsa, pada 4 April 1964. Rupanya, lama hidup di Jakarta tak menyurutkan semangat Fazlun untuk membela tanah indatu-nya ketika Aceh didera konflik multi kepentingan. Pergerakan demi pergerakan ia lakukan demi memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat Aceh lewat lembaga yang kemudian diberi nama Forum Perjuangan Keadilan Rakyat Aceh (FOPKRA). Meski nama ini masih asing di telinga orang Aceh, bagi Jakarta, FOPKRA cukup tenar lewat aksi-aksinya menentang ketidakadilan.

FOPKRA didirikan pada Agustus 1998, kala itu berstatus presidium. Pada 15 Maret 1999, FOPKRA didaftarkan ke Notaris dan disahkan sebagai lembaga Ormas yang berkekuatan hukum. FOPKRA memiliki warna dan cara tersendiri dalam membantu dan mendorong penyelesaian konflik Aceh. Lambang FOPKRA Eksistensi dan pengaruhnya di Jakarta begitu terasa sejak berlangsungnya konflik Aceh  hingga saat ini. Ketika konflik bersenjata melanda Aceh, FOPKRA melakukan serangkaian kegiatan antara lain mensosialisasikan masalah Aceh ke berbagai lapisan masyarakat di luar Aceh.

Melakukan berbagai kegiatan kemasyarakatan yang berbasis masyarakat Aceh di Jakarta, melakukan audiensi dan dialog dengan KOMNAS HAM, Lembaga Tertinggi dan Pejabat Tinggi Negara, Perguruan Tinggi, Ormas Tingkat Pusat, LSM Nasional tingkat Pusat. Di samping itu FOPKRA Pusat juga melakukan berbagai kajian secara akademik tentang usaha-usaha solusi damai masalah Aceh melalui diskusi, seminar, lokakarya dan lain-lain.

Secara Internasional melakukan pendekatan diplomasi dengan Kedutaan Besar Negara-negara sahabat di Jakarta, perwakilan Lembaga-lembaga Internasional di Jakarta, LSM International dan Badan resmi dunia seperti PBB, Amnesty International, dan Komisi Hak Azazi Manusia. Setelah MoU Helsinki, keberadaan FOPKRA dianggap masih tetap perlu ada di Jakarta dan Aceh, karena perdamaian yang sudah terwujud menjadi tanggung jawab rakyat Aceh secara menyeluruh. FOPKRA berada di garis terdepan ketika rakyat Aceh berhadapan dengan Jakarta, untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Aceh yang sudah dibukukan dalam MoU Helsinki dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Nomor 11 Tahun 2006.

Perjuangan FOPKRA terakhir bisa dilihat ketika menggugat Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI) terkait jadwal pelaksanaan PILKADA ACEH 2012 bersama DPRA. Hasilnya, MK RI mengabulkan permohonan pemohon (FOPKRA dan DPRA) dan memerintahkan KIP Aceh untuk membuka kembali pendaftaran calon Gubernur/Wakil Gubernur Aceh dan Calon Bupati/Wakil Bupati serta Calon Walikota/Wakil Walikota untuk PILKADA Aceh 2012. Itulah “spektrum” cerita tentang Fazlun Hasan, konflik, gempa dan tsunami Aceh, hingga FOPKRA nya. Sebagai nakhoda utama FOPKRA, kini Fazlun mencoba mengepak sayap bertarung merebut kursi Wali Kota Langsa. Agar segala yang dia impikan, juga impian seluruh rakyat Langsa bisa terakomodir di lembaga birokrasi itu. Anda sepakat dengan program-program Fazlun Hasan? “2017 bukanlah tentang saya, tapi tentang bagaimana masyarakat mampu menggunakan hak pilihnya dengan baik agar Kota Langsa  maju, terpelihara, aman, tenteram, makmur, sejahtera, dan berakidah.” Begitu obsesi  Fazlun Hasan, Kandidat Wali Kota Langsa!

Mohsa El Ramadan

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini

Umum
USK Jalin Kerja Sama dengan KPK

BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala menjalin kesepakatan kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam upaya...