Unduh Aplikasi

Kaya Tapi Miskin

Kaya Tapi Miskin
Ilustrasi: istock.

PRAKTIK meminta-minta sumbangan yang dilakukan oleh seseorang yang menyaru santri seharusnya tidak terjadi jika aparat di Dinas Sosial, baik di tingkat provinsi atau di tingkat kabupaten/kota, benar-benar bekerja.

Adalah Suhaimi, 16 tahun, warga Teupin Punti, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, yang diajak meminta sumbangan mengatasnamakan sebuah dayah. Dari praktik ini, pria yang mengajaknya meminta-minta berhasil mendapatkan uang ratusan ribu per hari.

Namun praktik sejenis juga dilakukan oleh lembaga-lembaga dayah secara resmi. Diketahui, bahkan dilakukan atas perintah pemimpin dayah. 

Bahkan di Banda Aceh, di pusat kekuasaan dan perputaran uang Aceh, praktik ini juga terjadi. Sebuah dayah yang menyuruh santri-santri berkeliaran di persimpangan jalan untuk memungut sumbangan. 

Padahal dayah itu mendapatkan bantuan dari pemerintah. Pemimpin dayah itu juga menggratiskan biaya pendidikan dan asrama kepada para santri.

Namun ternyata, di saat-saat tertentu, mereka juga harus “membayar” uang pendidikan dan asrama dengan cara mengemis di jalan-jalan. Sementara si pemilik dayah berkeliaran dengan kendaraan mewah.

Praktik-praktik ini jelas menunjukkan kondisi masyarakat yang tak sehat. Jika seseorang meminta memang karena membutuhkan, kelaparan atau ada kebutuhan mendesak, tentu ini dimaklumi.

Tapi apakah layak hal ini malah dijadikan profesi. Lebih parah lagi, apakah pantas negara membiarkan warganya mengeksploitasi warga lain demi keuntungan pribadi, apalagi anak-anak. 

Karena itu, Dinas Sosial harus bekerja lebih serius. Mereka harus memantau dan memeriksa setiap peminta-minta. Lebih jauh lagi, Dinas Sosial harus melacak siapa orang-orang yang mendapatkan keuntungan besar di balik praktik ini. 

Komentar

Loading...