Unduh Aplikasi

Kata UNHCR Soal Kasus Perdagangan Manusia Terhadap Rohingya di Lhokseumawe

Kata UNHCR Soal Kasus Perdagangan Manusia Terhadap Rohingya di Lhokseumawe
Public Information Officer UNHCR Indonesia, Mitra Suryono. Foto :AJNN/Sarina  

LHOKSEUMAWE – Dua pria yang diduga terlibat kasus perdagangan manusia terhadap Imigran asal Myanmar etnis Rohingya kembali dibekuk, Rabu (10/12) malam. Kedua warga asal Sumatera Utara itu berinisial MSS (32) dan AS (33)

Associate External Relations/ Public Information Officer UNHCR Indonesia, Mitra Suryono kepada AJNN mengatakan, perlu untuk diketahui banyak diantara pengungsi Rohingya di Lhokseumawe, memiliki kerabat dekat di negara lain seperti Malaysia.

Baca: Terlibat Perdagangan Manusia, Sopir dan Tukang Becak Asal Sumut Dibekuk

“Anak-anak memiliki orang tua di Malaysia, istri memiliki suami di Malaysia dan mereka sudah bertahun - tahun tidak berjumpa,” kata Mitra melalui vidio conference, Kamis (10/12).

Sambung Mitra, berdasarkan cerita mereka (Imigran Rohingya), salah satu alasan meninggalkan Bangladesh dengan kapal karena mereka ingin kembali bersatu dengan orang – orang yang mereka kasihi. Hal ini mungkin menjadi salah satu alasan di balik keputusan untuk melanjutkan perjalanan mereka.

“Kami juga memiliki kekhawatiran yang sama akan pergerakan lanjutan serta resiko penyelundupan atau perdagangan manusia,” tuturnya.

Kata Mitra, masih banyak anak – anak, wanita dan pria rentan yang tetap menempuh jalur perjalanan yang riskan di kawasan ini, menandakan besarnya keputus-asaan yang dialami pengungsi Rohingya.

“Pengungsi Rohingya adalah kelompok orang yang mengalami penganiayaan terberat diseluruh dunia. Mereka tidak memiliki kewarganegaraan. Sejak awal tahun 1990an, lebih dari satu juta pengungsi Rohingya meninggalkan Myanmar untuk melarikan diri dari kekerasan dan penganiayaan,” ungkap Mitra.

Bahkan setelah mereka mencapai negara yang aman seperti Bangladesh, kata Mitra, Imigran Rohingya tersebut masih harus menghadapi berbagai permasalahan, seperti kurangnya akses untuk pelayanan mendasar seperti pendidikan dan kesempatan bekerja.

“Sayangnya, karena status ‘Stateless’ mereka, tidak memiliki dokumen perjalanan yang absah seperti paspor, dan karenanya satu – satunya cara mereka dapat berpergian yakni melalui cara – cara tidak biasa, seperti yang ditawarkan orang – orang, contohnya penyelundupan manusia,” imbuhnya.

Mitra juga menyebutkan, selama ini pihaknya sudah pernah menyampaikan kepada Imigran Rohingya tersebut, supaya jangan menggunakan jasa Traficking.

“Kami sudah sering mengingatkan mereka, akibat yang fatal akan terjadi kepada pengungsi apabila mereka menempuh jalur yang seperti itu. Kita sebisa mungkin menjelaskan kepada mereka bahaya hal itu,” imbuhnya.

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...