Unduh Aplikasi

Kasus Pengancaman Wartawan, Jurnalis Pasee Gelar Aksi

Kasus Pengancaman Wartawan, Jurnalis Pasee Gelar Aksi
Wartawan Aceh Utara dan Lhokseumawe gelar aksi damai. Foto: Ist

LHOKSEUMAWE - Lintas organisasi profesi wartawan di wilayah Pase (Lhokseumawe dan Aceh Utara) menggelar aksi damai di depan Taman Riyadhah Kota Lhokseumawe, Rabu (15/1).

Dalam aksi itu, pihaknya mendesak agar kasus pengancaman terhadap Aidil Firmansyah, wartawan tabloid Modus Aceh dan modusaceh.co di Aceh Barat, serta kasus pembakaran rumah Asnawi Luwi, wartawan Serambi Indonesia di Aceh Tenggara diusut tuntas.

Koordinator aksi, Armia Jamil mengatakan, peristiwa pengancaman dialami Aidil Firmansyah terjadi di Aceh Barat, Minggu, (5/1) dini hari. Aidil diancam bunuh diduga menggunakan senjata api oleh Akrim, Direktur PT Tuah Akfi Utama, karena pemberitaan terkait perusahaan itu yang tayang di modusaceh.co beberapa jam sebelum pengancaman.

“Kasus pengancaman ini sedang ditangani oleh penyidik Polres Aceh Barat, setelah korban melaporkan kejadian yang dialaminya,” kata Wartawan MNC Group tersebut.

Dikatakan Armia, namun, penyidik hanya menjerat tersangka dengan Pasal 335 KUHPidana tentang perbuatan tidak menyenangkan. Tersangka tidak dijerat dengan Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Padahal, pengancaman itu terjadi terkait pemberitaan yang tayang di modusaceh.co.

Baca: Kasus Pengancaman di Aceh Barat, Wartawan Gelar Aksi di Polda

Dalam menjalankan profesinya wartawan dilindungi UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers yang berlaku khusus. Mengancam bunuh wartawan merupakan tindakan membungkam kemerdekaan pers sebagaimana diatur pada Pasal 4 UU Pers, dan bagian dari upaya menghalang-halangi tugas jurnalistik seperti diatur pada Pasal 18 ayat (1).

“Oleh karena itu, penyidik Polres Aceh Barat wajib menjerat tersangka dengan UU Pers yang berlaku khusus, di-juncto-kan dengan KUHPidana,” ujar pria berkulit putih itu.

Selain itu, tambah Armia, karena UU khusus dapat mengenyampingkan UU umum (KUHP), maka penanganan perkara ini harus dilakukan bidang pidana khusus (pidsus), bukan pidana umum (Pidum).

Dalam aksi tersebut, para wartawan tergabung dalam IJTI, AJI, PWI dan PWA juga meminta kepolisian mengusut tuntas kasus pembakaran rumah Asnawi Luwi, wartawan Serambi Indonesia di Desa Lawe Loning, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara, Selasa, 30 Juli 2019, pukul 01.30 WIB dini hari.

“Kami meminta Kapolri dan Kapolda Aceh untuk mengawal penyidikan kasus pengancaman dialami Aidil Firmansyah, wartawan Modus Aceh dan modusaceh.co,” katanya.

Tambah Armia, pihaknya juga meminta Kapolda Aceh memerintahkan penyidik Polres Aceh Barat agar menjerat tersangka kasus ini dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, karena pengancaman tersebut berkaitan dengan pemberitaan.

Meminta Kapolda Aceh memerintahkan penyidik Polres Aceh Barat mengalihkan penanganan kasus ini, dari pidana umum ke bidang pidana khusus, sesuai UU Pers yang berlaku khusus. Selain itu, agar penyidik Polda Aceh mengambil alih penangan kasus ini apabila penyidik Polres Aceh Barat tidak menjerat tersangka dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Kami juga meminta kejaksaan untuk tidak menerima berkas perkara ini dari kepolisian apabila penyidik tidak menjerat tersangka dengan UU Pers. Juga pihak kepolisian mengusut tuntas kasus pembakaran rumah Asnawi Luwi, wartawan Serambi Indonesia di Aceh Tenggara, dan segera menangkap pelaku/tersangkanya,” tuturnya.

Wartawan pasee juga meminta semua pihak untuk menghormati kerja-kerja wartawan, dan menempuh cara-cara sebagaimana diatur dalam UU Pers apabila merasa dirugikan atas pemberitaan media massa.

Komentar

Loading...